jpnn.com, JAKARTA - Tren penurunan okupansi hotel di Jakarta terjadi secara merata baik pada hotel bintang maupun non-bintang sepanjang Februari 2026.
Kepala BPS DKI Jakarta, Kadarmanto, menyebutkan bahwa TPK hotel bintang kini berada di angka 51,72 persen, sementara hotel non-bintang tercatat hanya sebesar 36,01 persen.
BACA JUGA: Okupansi Hotel Bintang di Madiun Tembus 70 Persen
"Turun 0,78 persen dibandingkan Januari 2026, sementara secara tahunan terjadi penurunan sebesar 7,35 persen," ujarnya di Jakarta, Rabu (1/4/2026).
Kondisi lesu ini ternyata juga menjalar ke segmen hotel non-bintang. Tercatat, TPK hotel non-bintang berada di posisi 36,01 persen, atau merosot 2,89 persen poin secara bulanan dan turun signifikan sebesar 8,5 persen poin secara tahunan.
BACA JUGA: Persaingan tak Ketat, Okupansi Hotel Bintang 5 Paling Tinggi
Sementara itu, rata-rata lama menginap tamu untuk hotel bintang di Jakarta, pada Februari 2026 sebesar 1,59 malam atau satu hingga dua hari.
"Angka ini naik sebesar 0,07 poin dibandingkan Januari 2026 atau bulanan dan sebaliknya turun 0,01 poin dibandingkan Februari 2025 atau tahunan," kata Kadarmanto.
BACA JUGA: Okupansi Hotel di Jabar Lesu saat Libur Lebaran, PHRI Ungkap Faktornya Â
Sedangkan untuk hotel non-bintang, rata-rata lama menginap tamu pada Februari 2026 ini tercatat sebesar 1,38 malam. Angka ini naik sebesar 0,04 poin secara bulanan dan naik 0,01 poin secara tahunan.
Kemudian, dilihat dari proporsi tamu, mayoritas tamu yang menginap di hotel bintang di Jakarta pada Februari 2026, didominasi oleh tamu Indonesia dengan proporsi sebesar 89,42 persen. Sementara tamu asing tercatat sebesar 10,58 persen.
Lalu, ditinjau dari preferensi kelas hotel bintang, tercatat hotel bintang tiga menjadi pilihan utama bagi tamu Indonesia dengan proporsi sebesar 35,97 persen.
"Di sisi lain, tamu asing cenderung memilih hotel bintang empat dengan proporsi mencapai 42,20 persen," kata Kadarmanto.(antara/jpnn)
Redaktur & Reporter : Budianto Hutahaean




