JAKARTA, KOMPAS.TV - Penasihat Khusus Presiden Bidang Pertahanan Nasional Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman mengatakan perang besar antara Amerika Serikat dengan Iran masih mungkin terjadi.
Namun demikian, Dudung meyakini semua pihak pasti juga akan sangat berhitung untuk melanjutkan perang tersebut.
"Karena kalau konflik ini masuk ke perang darat skala penuh, tentunya biaya ini akan semakin besar, risiko juga semakin tinggi dan tentunya efeknya bisa meluas ke seluruh kawasan,” kata Dudung dalam program Kompas Petang di Kompas TV, Rabu (1/4/2026).
Baca Juga: Hikmahanto Tekankan 3 Hal Terkait Serangan Israel yang Tewaskan 3 TNI di Lebanon, Ini Katanya
“Jadi, menurut saya ancaman ini sangat nyata. Tapi, menurut saya belum tentu kalau menjadi opsi yang paling utama karena sampai sekarang jalur diplomasi dan upaya deeskalasi ini masih terus dilakukan dan masih terus bergerak.”
Dudung lebih lanjut menyoroti strategi yang coba dimainkan Amerika Serikat dengan perbedaan sikap antara Presiden AS Donald Trump dengan Menteri Pertahanannya, Pete Hegseth.
Trump menyampaikan Amerika Serikat akan meninggalkan Iran dalam waktu 2-3 minggu karena menurutnya tidak ada alasan bagi AS untuk berperang. Sementara Menhan AS menyampaikan akan ada serangan baru dalam waktu 1-2 hari di Iran.
Baca Juga: Hikmahanto Apresiasi Respons Dubes RI untuk PBB yang Tegaskan Indonesia Tidak Butuh Alasan Israel
"Seharusnya, menurut saya Menteri Pertahanan atau Menteri Perang dari Amerika harus loyal kepada Presidennya dong, tidak mempunyai opsi yang berbeda,” ujar Dudung.
"Nah, itu betul tadi, strategi apa yang akan dikembangkan oleh pihak Amerika kalau antara Presiden dengan menterinya itu berbeda langkahnya."
Penulis : Ninuk Cucu Suwanti Editor : Tito-Dirhantoro
Sumber : Kompas TV
- dudung abdurachman
- perang as dan iran
- perang timur tengah
- as
- iran
- perang besar as iran





