Jakarta, tvOnenews.com - Legenda sepak bola Italia, Fabio Capello, melontarkan kritik keras usai Timnas Italia kembali gagal lolos ke Piala Dunia.
Ia menyebut kekalahan dari Bosnia dan Herzegovina sebagai aib nasional yang mencoreng sejarah sepak bola Negeri Pizza.
Italia tersingkir secara dramatis setelah kalah melalui adu penalti dalam laga play-off yang digelar di Zenica. Hasil tersebut membuat Gli Azzurri absen di Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun.
Capello, yang pernah menangani tim besar seperti AC Milan, Real Madrid, hingga Timnas Inggris, mengaku sangat terpukul dengan hasil tersebut.
“Saya tidak bisa tidur sepanjang malam, saya masih tidak percaya apa yang terjadi. Kita berbicara tentang juara dunia empat kali. Ini adalah tragedi olahraga, sebuah aib,” tegas Capello dilansir Kamis (2/4/2026).
Ia bahkan menyebut kegagalan ini sebagai salah satu momen terburuk dalam sejarah sepak bola Italia dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, kritik paling tajam Capello justru diarahkan kepada jajaran pimpinan Federasi Sepak Bola Italia.
Menurutnya, tidak adanya tanggung jawab dari pihak federasi menjadi masalah serius.
“Tidak ada seorang pun yang mengundurkan diri di sini, dan itulah hal yang paling mengkhawatirkan. Orang pertama yang harus bertanggung jawab adalah presiden federasi, bersama seluruh jajaran pimpinan,” ujarnya.
Capello juga menilai persoalan yang dihadapi Italia bukan sekadar hasil pertandingan semata, melainkan masalah struktural yang sudah mengakar.
“Ini bukan hanya tentang hasil, tetapi juga struktural. Italia harus menemukan jati dirinya kembali. Kita perlu mengumpulkan para ahli, menganalisis apa yang terjadi, dan memulai rekonstruksi dari fondasi,” jelasnya.
Ia mengakui bahwa proses pemulihan tidak akan mudah, namun optimistis kegagalan ini bisa menjadi titik awal perubahan besar.
Di tengah derasnya kritik, Presiden FIGC, Gabriele Gravina, hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda akan mundur dari jabatannya.
Pernyataan Capello pun semakin menambah tekanan terhadap pimpinan federasi, seiring meningkatnya tuntutan publik untuk melakukan reformasi besar demi menyelamatkan masa depan sepak bola Italia.




