Kemarin, 28 Maret 2026, Pemerintah secara resmi memberhentikan akun medsos bagi anak usia di bawah 16 tahun. Seluruh platform digital seluruh Indonesia tanpa terkecuali diwajibkan patuh, seiring berlakunya peraturan Pemerintah mengenai Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak atau PP Tunas.
Pemerintah bukan tanpa alasan memberhentikan seluruh akun media sosial anak, karena Pemerintah sangat memperhatikan tumbuh kembang anak-anak. Perkembangan anak-anak pada saat ini memang jauh berbeda dengan perkembangan anak generasi tahun 80 dan 90. Hari ini mereka disibukkan dengan gawai yang ada di genggamannya.
Pemerintah melalui Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) menegaskan tidak ada ruang tawar-menawar bagi platform yang melanggar ketentuan tersebut. Pemerintah berharap agar perkembangan anak dilalui sesuai dengan tahap perkembangan anak pada umumnya.
Media sosial bukan sekadar aplikasi, ia adalah “pencuri perhatian” yang sangat profesional. Ia menawarkan berbagai validasi instan lewat simbol hati dan pengikutnya. Dalam dunia nyata, anak tidak diajarkan menempuh cara dengan cara instan, tapi harus melalui proses yang panjang, sedangkan di dunia maya, anak mampu mengerjakan sesuatu dengan instan, dan ada tombol undo serta filter kecantikan jika postingan yang akan di-share kurang begitu menarik.
Jujur saja, seringkali kita sebagai orang dewasa adalah “agen pemasaran” terbaik bagi media sosial. Kita melarang anak untuk memainkan HP, tapi kita sendiri tidak lepas dari genggaman HP. Kita menuntut anak untuk kreatif, tapi kita akan panik ketika melihat anak begitu aktif dalam berkegiatan dan langsung menyodorkan HP agar mereka “anteng”.
Sebenarnya rahasia agar anak betah tanpa media sosial sederhana, namun sulit dilakukan. Kita harus lebih menarik daripada Algoritma. Algoritma tahu apa yang anak sukai, tapi Algoritma tidak bisa memberikan pelukan hangat saat mereka gagal dalam ujian. Algoritma mampu menghadirkan tawa lewat video pendek, tapi ia tidak bisa memberikan rasa bangga saat seorang anak berhasil memasak telur mata sapi saat pertama kali.
Kita perlu mengembalikan “panggung” ke rumah. Biarkan mereka bercerita tentang sahabatnya yang lucu dan menjengkelkan tanpa kita potong dengan nasihat dan menggurui. Berikan mereka ruang untuk mengekpresikan, memberikan ruang untuk kotor, berantakan, dan kegagalan-kegagalan yang lainnya. Biarkan mereka merasakan tekstur tanah, keringat saat berolahraga, serta aroma kertas bekas mereka corat-coret.
Membatasi media sosial bukan berarti kita menjadi orang tua yang kolot, atau guru yang galak. Membatasi media sosial adalah memberikan anak-anak kesempatan untuk memiliki masa kecil yang utuh, masa kecil yang tidak diukur dari berapa banyak orang yang melihat foto mereka, tapi dari berapa banyak tawa yang mereka bagi dengan orang sekitar. Tugas kita adalah mengajak anak-anak kembali menyelami kedalaman hubungan manusia yang nyata.





