Washington: Mayoritas masyarakat Amerika Serikat (AS) mendesak agar perang melawan Iran segera diakhiri dan menolak keras pengiriman pasukan darat ke wilayah tersebut.
Aspirasi ini muncul melalui tiga hasil jajak pendapat utama saat ofensif gabungan AS-Israel memasuki bulan kedua.
“Data dari I menunjukkan 66 persen warga AS menginginkan perang segera dihentikan, meskipun target militer belum sepenuhnya tercapai,” sebut hasil survey yang dikutip dari Anadolu, Kamis 2 April 2026.
Sementara itu, survei I mencatat angka penolakan perang mencapai 59 persen, dan jajak pendapat AP-NORC menemukan 60 persen responden menilai aksi militer AS sudah berjalan terlalu jauh.
Baca Juga :
Trump Klaim Target Strategis AS dalam Serangan ke Iran Hampir TercapaiFaktor ekonomi menjadi pendorong utama kejenuhan masyarakat terhadap perang ini. Sekitar 67 persen responden AP-NORC lebih memprioritaskan pencegahan kenaikan harga gas dibandingkan upaya perubahan rezim di Iran hingga 33 persen. Sekitar 77 persen warga dalam jajak pendapat Ipsos mengaku cemas terhadap total biaya finansial yang dihabiskan untuk perang tersebut.
Dukungan terhadap perang terbagi tajam berdasarkan afiliasi politik. Kelompok Demokrat menolak perang dengan margin 88-90 persen, sementara 62 persen Republikan secara luas mendukungnya.
Namun, dukungan di kalangan Republikan non-MAGA anjlok drastis dari 56 persen menjadi 33 persen hanya dalam dua pekan. Sebaliknya, dukungan tetap kuat di angka 79 persen di kalangan loyalis MAGA (Make America Great Again).
Tingkat kepercayaan publik terhadap penanganan konflik oleh Presiden Donald Trump berada pada angka rendah, yakni 30 persen. Sebanyak 59 persen responden merasa penyelesaian damai dalam waktu satu bulan sangat tidak mungkin terjadi, dan 46 persen tidak percaya bahwa negosiasi perdamaian sedang berlangsung.
Meski menolak eskalasi perang, sebanyak 65 persen warga masih menganggap upaya mencegah Iran memiliki senjata nuklir sebagai hal yang sangat penting. Sejak dimulainya serangan pada 28 Februari 2026, konflik ini dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
(Kelvin Yurcel)




