Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) diproyeksikan mampu memproduksi hingga 2,15 juta ton ikan per tahun. Program ini diharapkan memperkuat sektor riil, sekaligus meningkatkan ketahanan pangan berbasis kelautan.
Muhammad Qodari Kepala Kantor Staf Presiden, menyebut potensi tersebut berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan per 25 Maret 2026. Produksi berasal dari pengembangan kampung nelayan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Program ini juga ditargetkan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir secara berkelanjutan.
“Program ini diproyeksikan mampu menghasilkan produksi perikanan hingga 2,15 juta ton per tahun, yang akan memperkuat sektor riil dan ketahanan pangan berbasis kelautan,” ujar Qodari dalam keterangannya, Rabu (1/4/2026).
Katanya produksi ikan di tingkat lokal diperkirakan naik 10–30 persen, yang berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi desa sebesar 5,4–16,2 persen.
“Bahkan, secara hitung-hitungan, setiap kenaikan produksi ikan sebesar 1 persen mampu mendorong pertumbuhan ekonomi desa sebesar 0,54 persen,” imbuhnya.
Hingga akhir Maret 2026, pembangunan fisik KNMP menunjukkan kemajuan. Tahap pertama dimulai pada September 2025 di 65 desa/kelurahan di 60 kabupaten/kota, di 25 provinsi. Anggarannya mencapai Rp1,2 triliun. Sampai 30 Maret 2026, progresnya mencapai 99,23 persen.
Sebanyak 61 lokasi telah rampung dibangun, sementara empat lokasi masih dalam penyelesaian, yakni di Kabupaten Kapuas Hulu, Kabupaten Sumenep, Kabupaten Pangandaran, dan Kabupaten Garut.
Tahap kedua dimulai pada Desember 2025 di 35 desa/kelurahan di 35 kabupaten/kota di 17 provinsi, dengan anggaran Rp660,5 miliar. Hingga 30 Maret 2026, progresnya mencapai 16,68 persen, dan ditargetkan selesai pada Mei 2026.
Pemerintah juga menargetkan percepatan pada 2026 dengan rencana pembangunan 1.000 lokasi KNMP di berbagai wilayah Indonesia.
“Dengan model ini, setiap kampung nelayan tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari jaringan ekonomi yang saling mendukung,” tambah Qodari.(lea/ipg)




