Oleh: Prof. Veni Hadju
Makan Bergizi Gratis (MBG) secara resmi dilaksanakan di Indonesia pada bulan Januari tahun 2025. Program ini memberikan makanan bergizi seimbang kepada murid TK, SD, SMP, dan SMA serta sasaran lainnya termasuk santri pesantren, ibu hamil, ibu menyusui, dan anak Balita. Dalam implementasinya, tidak sedikit hambatan dan tantangan yang dihadapi oleh program ini. Mulai dengan isu keracunan yang terjadi di beberapa lokasi sampai isu penyalahan wewenang atau kesalahan prosedur dalam penyelenggaraan di lapangan. Banyak juga yang terus mempertanyakan besarnya anggaran yang sepertinya sulit diterima bila dibandingkan dengan program lainnya yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat.
Terkait dengan dampak MBG, sebagian besar orang masih bertanya-tanya apa dampak MBG bagi suatu negara. Masih banyak yang pesimis apa hanya dengan makan siang dengan kandungan kalori serta zat gizi yang hanya memenuhi sepertiga kebutuhan dalam sehari bisa berdampak besar bagi suatu negara. Masih banyak yang skeptis dengan mimpi besar dalam mewujudkan generasi emas di tahun emas kemerdekaan Republik Indonesia.
Belajar dari negara lain
Program pemberian makan pada anak sekolah sudah sejak lama dilakukan di berbagai negara termasuk Jepang dan Korea Selatan. Program ini dilaksanakan di Jepang sejak tahun 1889 yang diikenal dengan “Kyushoku”. Awalnya hanya beberapa sekolah dan pada tahun 1954 baru menjadi kewajiban setelah Undang-Undang Program Makan Siang Sekolah disahkan. Tujuan program ini adalah untuk meningkatkan kesehatan, gizi, dan pendidikan anak-anak Jepang, serta mengajarkan mereka tentang etika, kerjasama, dan budaya makan.
Program MBG di Jepang pada awalnya lahir dari kepedulian terhadap masyarakat miskin yang sulit menjangkau makanan sehat sehari-hari. Program ini berlanjut lebih luas saat Jepang mengalami kekalahan pada Perang Dunia kedua di mana kelaparan melanda di berbagai kota. Beberapa bencana alam yang terjadi di beberapa lokasi memicu bantuan internasional untuk program makan anak sekolah ini di wilayah berdampak. Pemerintah menjadikan program ini adalah prioritas dengan anggaran yang besar. Saat ini, program ini sudah dikelola secara mandiri oleh setiap sekolah walaupun pemerintah masih memberikan dana subsidi kepada keluarga tidak mampu.
Program MBG di Korea Selatan dimulai pada tahun 1953 sebagai bantuan internasional untuk anak-anak korban Perang Korea, dan secara resmi dilaksanakan pemerintah pada 1981. Program ini memberi makan siang gratis dari jenjang TK, SD, SMP, dan SMA. Program ini telah diperluas secara bertahap dan mencakup semua jenjang pendidikan pada tahun 2019. Program ini disebut dengan Universal Free Environment- Friendly School Lunch Program (UFEF). Program ini memerlukan anggaran besar dan didukung oleh negara.
Di Amerika Serikat (AS), program memberi makan gratis pada anak sekolah mulai dilakukan pada tahun 1946 sejak Kongres Amerika Serikat mengesahkan Undang-Undang Makan Siang Nasional (National School Lunch Act). Namun, program ini baru menjadi lebih luas dan gratis bagi siswa yang membutuhkan pada tahun 1966, dengan adanya Amendemen Undang-Undang Makan Siang Nasional. Pada tahun 1966 program ini terus diperluas dan berlaku secara merata di seluruh wilayah AS. Program ini didukung oleh anggran yang besar dibawah program nasional NSLP (Nasional School Lunch Program).
Dampak Positif MBG: Belajar dari Jepang
Sangat jarang orang melihat kemajuan Jepang yang terlihat saat ini menjadi negara dengan tingkat ekonomi tinggi dengan program MBG. Jarang orang membahas bagaimana budaya kebersihan, kedisiplinan, kepedulian, rasa terima kasih, sampai kesetaraan gender lahir dari program MBG di Jepang. Anak-anak sekolah di seluruh wilayah di Jepang makan siang bersama dengan menu yang disiapkan oleh Ahli Gizi sekolah. Sekolah menyediakan fasilitas dapur atau bekerjasama dengan perusahaan swasta dalam menyiapkan makanan ini di sekolah. Kondisi sekarang ini tentu bebeda dengan awal saat dimulai program ini. Namun tujuan mulai membangun karakter setiap anak didik sangat diutamakan.
Anak-anak dibagi jadwalnya setiap hari. Ada yang bertugas menbagi makanan pada hari itu. Mereka harus diperiksa dalam keadaan sehat dan menjaga kebersihan dalam bertugas. Bagi yang bertugas membersihkan omprengan akan dilakukan bersamaan oleh anak pria dan wanita sehingga mengajarkan kesetaraan gender. Guru akan makan bersama murid dan menjelaskan tentang sumber makanan yang ada pada hari itu, darimana bahan bakunya, proses pembuatannya, dan manfaat yang terkandung di dalamnya. Guru memimpin doa ucapan terima kasih kepada Sang Pencipta Pemberi makanan dan kepada mereka yang bertugas menyiapkan makanan pada hari itu.
Pencapaian Jepang dalam keunggulan kompleksitas ekonomi tertinggi di dunia lahir dari kualitas SDM dan budaya kerja serta etika kejujuran yang tinggi. Economic Complexity Index (ECI) adalah ukuran yang dikembangkan oleh Harvard University untuk mengukur kompleksitas ekonomi suatu negara atas dua kriteria utama yaiti diversifikasi produk dan Kompleksitas produk. Sejak penilaian tahun 1995 Jepang menduduki peringkat pertama mengalahkan negara- negara maju di Eropa dan juga Amerika Serikat sendiri. Keragaman dan komplesitas produk yang dihasilkan oleh SDM di Jepang tidak ada saingannya.
Dalam bidang gizi khususnya peningkatan tinggi badan (TB), Jepang telah memperlihatkan pertambahan rata-rata TB secara periodik sampai batas maksimal. Survey nasional setiap lima tahun yang dilakukan pada setiap umur memperlihatkan rata-rata TB anak-anak naik sebesar 5 cm dalam periode 25 tahun (1960-1985) atau sekitar satu cm per lima tahun. Pada tahun 1960, anak laki-laki berumur 17 tahun di Jepang memiliki TB rata-rata 165,1 cm dan pada tahun 1985, rata-rata TB pada umur yang sama adalah 170,2 cm. Pengukuran TB pada tahun 1990-2010, tidak terlihat lagi perubahan. Para ahli menyimpulkan bahwa Jepang telah mencapai potensi genetik TB tertinggi untuk ukuran bangsa Jepang.
Dalam hal penurunan angka stunting, di tahun 1900 prevalensi stunting di Jepang sekitar 60℅. dan pada tahun 1925 masih sekitar 50℅. Saat menjajah Indonesia di tahun 1942-1945 tentara Jepang disebut oleh orang Indonesia adalah ‘Kate” artinya seperti ayam yang bertubuh pendek. Namun di tahun 1950 dan seterusnya penurunan stunting menurun cepat sampai tahun 1975 sudah berada di bawah 10℅. Penurunan stunting selama 25 tahun didasari oleh perbaikan akses makanan, pendidikan dan pelayanan kesehatan yang merata dari tahun ke tahun.
Penutup
Beberapa negara telah memulai program makanan pada anak sekolah sejak awal atau pertengahan abad ke-20. Mereka terus berjuang memperbaiki kualitas bangsanya melalui periode yang panjang. Mereka bukan ingin melihat hasil lima atau 10 tahun ke depan. Tapi mereka melihat periode yang panjang di mana kompetisi antar bangsa semakin tinggi dan kualitas SDM menjadi penopang utama. Mereka menjadi maju bukan karena kekayaan alam yang dimilikinya tapi pembangunan kualitas SDM dan karakternya yang dilakukan selama puluhan tahun.
D Indonesia MBG baru saja dilaksanakan dan tentu belum bisa memberikan dampak yang nyata seperti negara lainnya. Masih banyak keterbatasan yang ada walaupun upaya perbaikan terus dilakukan. Dari waktu ke waktu kita sudah melihat perubahan yang signifikan terhadap aturan yang ditetapkan terutama dalam menjaga kualitas pelayanan. Tentu dibutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk menjadikan program ini menjadi kebanggaan semua orang.
Kesadaran akan pentingnya program MBG masih sangat lemah saat ini. Kritik yang pedas dengan membandingkan dengan program lainnya terus bermunculan. Namun, satu hal yang pasti, program ini sudah berjalan dan telah banyak dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Wilayah Indonesia yang luas dan kondisi berbagai aspek yang sangat beragam membutuhkan kesabaran yang tinggi. Memang waktulah yang akan menentukan, kalau MBG bukanlah pilihan yang salah dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini. Diperlukan pikiran positif, akal sehat, dan hati yang lapang untuk mendukung program ini menjadi merata terimplementasikan di seluruh wilayah nusantara. Wallahu’alam bishshwwab.
Prof Veni Hadju adalah Guru Besar Ilmu Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat dan Ketua Kelompok Riset Gizi Ibu dan Anak, Universitas Hasanuddin.




