Bisnis.com, JAKARTA — Prospek saham Grup Merdeka mentereng seiring dengan target titik balik pertumbuhan lewat sejumlah proyek strategis tahun 2026. Beberapa di antaranya seperti monetisasi proyek tambang emas hingga nikel yang dioperasikan PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) dan PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA).
Berdasarkan pantauan Bisnis, proyek monetisasi Tambang Emas Pani milik PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) diprediksi belum akan memberikan dampak signifikan terhadap arus kas perseroan pada tahun pertama operasional. Faktor kurva pembelajaran atau learning curve dinilai menjadi tantangan utama bagi emiten tambang emas tersebut.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta Utama menyampaikan bahwa sebagai proyek emas baru, Tambang Pani memerlukan waktu transisi sekitar 6 hingga 12 bulan untuk mencapai steady state recovery rate atau tingkat pemulihan operasional yang stabil.
“Ada faktor learning curve effect di mana operasional awal pasti membutuhkan biaya tinggi, ditambah rantai pasok dan logistik yang belum sepenuhnya stabil,” ujar Nafan saat dihubungi Bisnis pada Rabu (1/4/2026).
Nafan turut menilai tingginya biaya di fase awal ini berpotensi untuk menekan margin keuntungan perseroan. Namun demikian, kondisi tersebut diyakini akan tertutupi oleh produktivitas tambang ke depannya.
Selain itu, meski arus kas belum optimal karena penyerapan modal kerja dan faktor ramp up, kontribusi EBITDA diperkirakan mulai terlihat di tahap awal.
Terkait kinerja 2026, Nafan menyarankan MDKA untuk bersikap konservatif dalam menetapkan target produksi emas di Tambang Pani. Menurutnya, wajar jika target awal ditetapkan di bawah kapasitas optimal sembari mematangkan proses produksi sebelum bergerak lebih agresif di tahun-tahun berikutnya.
Berbanding terbalik dengan segmen emas, Nafan melihat bahwa prospek yang jauh lebih agresif pada lini bisnis nikel melalui PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA). Situasi ini didorong rekam jejak global yang sudah teruji serta adanya transfer teknologi pada proyek HPAL.
"Proyek HPAL milik MBMA memberikan optimisme tinggi karena didukung pengalaman operasional yang matang," pungkas Nafan.
Dengan dinamika tersebut, optimalisasi cash flow Grup Merdeka secara keseluruhan diproyeksikan baru akan terasa lebih kuat pada tahun kedua setelah operasional di Tambang Pani berjalan dengan stabil dan efisien.
Di tengah proyeksi ini, Nafan menyematkan rekomendasi beli untuk saham MDKA dengan target harga Rp4.310 per saham. Rating serupa juga diberikan kepada saham MBMA dengan target harga di level Rp830 per saham.
Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT) Ryan Winipta dan Reggie Parengkuan, dalam risetnya, juga merekomendasikan beli saham MBMA namun dengan target harga yang lebih rendah yakni Rp745 per saham.
Menurut keduanya, prospek MBMA di tahun 2026 masih menjanjikan seiring dengan rencana peningkatan kapasitas produksi dan efisiensi operasional.
Adapun untuk MDKA, keduanya menempatkan peringkat dan target harga dalam status under review. Pasalnya, harga saham MDKA saat ini telah melampaui target harga sebelumnya di level Rp3.000 per saham.
Ryan dan Reggie menyatakan risiko yang patut dicermati investor ke depan meliputi keterlambatan pemilihan mitra strategis pada proyek tembaga Tujuh Bukit, risiko eksekusi pada proyek EMAS dan MBMA, serta potensi penurunan harga komoditas akibat kebijakan hawkish dari Bank Sentral AS, The Fed.
Di lantai Bursa Efek Indonesia, saham MDKA kini berada di level Rp3.340 dan MBMA di Rp730 hingga perdagangan Rabu (1/4). Banderol ini masing-masing mencerminkan pertumbuhan sebesar 46,49% dan 28,07% sejak awal tahun.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





