Bisnis.com, JAKARTA — PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mencatat sekitar 100 kapal milik perseroan telah berusia lebih dari 30 tahun sehingga masuk kategori tidak layak untuk beroperasi.
Direktur Utama ASDP Heru Widodo menyampaikan bahwa standar kelayakan dan keselamatan kapal untuk beroperasi berada pada batas maksimal usia 25 tahun. Dengan kondisi tersebut, perseroan meminta dukungan pemerintah guna mempercepat peremajaan armada.
"Kapal kami sebagian besar berusia di atas 30 tahun yang jumlahnya hampir 100 kapal, dan kapasitasnya kecil-kecil di bawah 1.000 penumpang. Jadi kami juga butuh dukungan untuk peremajaan," ujar Heru dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XI DPR pada Kamis (2/4/2026).
Berdasarkan laman resmi ASDP, total armada perseroan mencapai 226 kapal yang terdiri atas 41% kapal perintis dan 59% kapal komersial. Dengan demikian, hampir separuh armada ASDP tergolong kapal berusia tua yang dinilai tidak lagi layak beroperasi.
Sebagai informasi, pada 2023 ASDP menerima Penyertaan Modal Negara (PMN) non-tunai dalam bentuk Barang Milik Negara (BMN) berupa 12 unit kapal penumpang dengan nilai Rp388 miliar.
Lebih lanjut, Heru menyebut perseroan juga memerlukan dukungan subsidi pemerintah melalui skema public service obligation (PSO) untuk mengoptimalkan layanan, khususnya pada lintasan perintis.
Baca Juga
- ASDP Ungkap Data Terbaru Arus Balik: 72% Pemudik Sumatra dan 51% Bali Sudah Menyeberang
- ASDP Catat 60% Pemudik Sumatra Mulai Balik ke Jawa via Bakauheni
- Urai Lonjakan Arus Balik, ASDP Siapkan Buffer Zone di Pelabuhan Ketapang
"Perubahan skema menjadi PSO, dari yang saat ini subsidi APBN melalui Kementerian Perhubungan [Kemenhub] juga kami butuhkan. Sehingga kami juga bisa menjamin keamanan, pelayanan dan keselamatan bagi para penumpang," jelasnya.
Saat ini, ASDP mengoperasikan 307 lintasan yang mayoritas merupakan rute perintis di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Adapun porsi lintasan komersial yang dikelola perseroan hanya sekitar 28,6%.
"Selama 5 tahun terakhir, ASDP melayani lintasan perintis dengan capaian 13,16 juta penumpang dan 2,98 juta kendaraan, meskipun terdapat fluktuasi atas subsidi yang disediakan," kata Heru.
Di sisi lain, dari segmen bisnis pelabuhan, ASDP mengelola sekitar 36 pelabuhan. Aktivitas usaha pelabuhan tersebut mencakup pemeliharaan dermaga, jasa sandar, serta layanan kepil atau tambat kapal.
"Kontribusi kami secara ekonomi terhadap negara yaitu menambah nilai produk domestik bruto [PDB] sebesar Rp28,2 triliun. Lalu kami juga berdampak terhadap fiskal secara langsung atas korporasi yaitu sebesar Rp1,53 triliun," pungkasnya.





