Liputan6.com, Jakarta - Malam di sekitar SPBE Cimuning, Kota Bekasi, awalnya tampak seperti malam-malam biasa. Lampu rumah menyala, aktivitas warga berjalan pelan menuju istirahat. Tak ada tanda bahwa beberapa saat kemudian, kepanikan akan pecah dan memaksa orang-orang berlari meninggalkan segalanya.
Semua bermula dari sesuatu yang nyaris dianggap sepele: bau gas.
Advertisement
Aroma itu datang perlahan, merayap di udara, lalu semakin pekat. Dalam waktu singkat, suasana berubah. Jalanan yang biasa dilalui warga disebut-sebut “memutih”, tertutup uap gas yang menyebar tanpa arah.
“Asapnya sudah banyak, gasnya sudah bau. Saya langsung lari duluan,” ujar seorang warga saat berbincang di lokasi, Kamis (2/4/2026).
Tak ada ruang dan waktu untuk berpikir panjang. Naluri mengambil alih. Dalam kondisi seperti itu, pilihan menjadi sangat sederhana: siapa yang harus diselamatkan lebih dulu.
“Anak, istri dulu. Rumah dan barang-barang belakangan,” ungkapnya.
Kepanikan menjalar cepat, hampir serentak. Suara sirine mulai terdengar bersahutan, memecah malam. Orang-orang keluar rumah, sebagian berlari tanpa tujuan jelas, sebagian lagi hanya mengikuti arus, menjauh sejauh mungkin dari sumber bau yang semakin mengkhawatirkan.
“Kita lari ke kebun, jauh ke dalam. Semalaman di luar,” kata seorang ibu yang rumahnya berada tak jauh dari titik kejadian.
Di tengah gelap, kebun menjadi tempat perlindungan darurat. Tanah, pepohonan, dan dingin malam menjadi saksi bagaimana warga bertahan dengan rasa takut yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
Lalu, ledakan itu datang.
Suara keras memecah udara, disusul kobaran api yang bergerak cepat. Api seolah mengikuti jejak gas yang sudah lebih dulu menyebar, melompat dari satu titik ke titik lain tanpa bisa dikendalikan.
“Kayak bola api, nempel. Pokoknya ledakannya kaya petasan deh, gede banget suaranya,” ujarnya.




