Yogyakarta adalah kota yang tidak pernah kekurangan konser. Hampir setiap minggu, selalu ada pertunjukan yang berebut perhatian penonton, dari venue kecil hingga lapangan terbuka. Di tengah keramaian itu, sekelompok mahasiswa justru memilih untuk ikut terjun, bukan sebagai penonton, melainkan sebagai penyelenggara.
Mahasiswa HIPMI PT UGM membangun Perantara Fest dari nol. Tanpa pengalaman, tanpa panduan, dan tanpa nama besar di belakang mereka. Hanya tekad untuk membuktikan bahwa konser sekelas promotor profesional pun bisa dijalankan oleh mahasiswa.
Tahun ini, Perantara Fest 2026 akan digelar di Lapangan Pancasila Universitas Gadjah Mada Jumat (3/4). Di balik festival itu, ada lebih dari 70 panitia dan 70 relawan—semuanya mahasiswa dari berbagai fakultas yang tergabung dalam HIPMI PT UGM, organisasi lintas fakultas dengan minat di bidang bisnis dan industri kreatif.
Yang membedakan Perantara Fest dari acara kampus kebanyakan adalah cara mereka berpikir sejak awal. HIPMI PT UGM berperan sebagai holding, sementara Perantara berdiri sebagai entitas tersendiri yang mengeksekusi acara. Struktur ini dibuat untuk memastikan proyek dikelola seperti perusahaan, bukan sekadar kepanitiaan biasa.
Contohnya tampak pada persiapan Perantara Fest 2026 yang dimulai sejak Oktober 2025, sekitar enam bulan sebelum hari-H. Tidak ada buku panduan, mereka belajar langsung dari vendor, berdiskusi dengan penyelenggara acara di Yogyakarta, lalu menyusun versinya sendiri. Sebagian besar panitia saat itu masih berada di semester dua hingga enam.
Tantangan paling nyata bukan soal teknis, melainkan persaingan. Di kota yang hampir tiap minggu ada konser, Perantara Fest tidak bisa sekadar ikut meramaikan. Mereka butuh alasan kuat kenapa orang memilih datang ke acara mereka.
"Tantangan terbesar adalah bagaimana menjadikan konser ini dipilih oleh masyarakat untuk dibeli tiketnya," ujar Steering Committee Perantara Fest, Rizki Ali Syahban, dalam konferensi pers di ARTOTEL Suites Bianti Yogyakarta, Rabu (1/4).
Untuk menjawab tantangan ini, Perantara Fest mengatur strategi secara detail. Pendanaan tidak bergantung pada satu sumber; mereka menggabungkan investor, penjualan tiket, dan sponsor. Di saat yang sama, mereka menekan biaya lewat kolaborasi, bukan pembelian.
"Hal apa yang bisa kita kolaborasikan, yang itu tidak menjadi cost kita," ujar Rizki.
Hasilnya, Perantara Fest 2026 menghadirkan lineup yang tidak main-main: FSTVLST, The Adams, Perunggu, Wijaya 80, Sal Priadi, hingga Bernadya akan hadir di acara besok.
Festival ini terbagi dalam dua sesi: crowd experience dan after love session. Perantara Fest juga membuka ruang bagi pelaku UMKM, vendor, dan usaha food and beverage untuk terlibat, serta menggandeng Renou dan Lokalogi untuk pengelolaan sampah.





