Bekerja untuk Menyambung Hidup atau Menghabiskan Hidup?

kumparan.com
20 jam lalu
Cover Berita

Pernahkah kamu duduk di depan laptop saat jam menunjukkan pukul sembilan malam, mata perih karena layar, lalu tiba-tiba bertanya pada diri sendiri: "Saya ini bekerja untuk menyambung hidup, atau hidup saya habis cuma buat kerja?"

Bagi sebagian orang, pertanyaan ini mungkin dijawab dengan alasan self-reward atau gaya hidup. Namun bagi mayoritas kita, alasannya jauh lebih mendasar dan mencekam yaitu kebutuhan. Di zaman sekarang, tidak ada uang berarti tidak ada akses. Tidak ada uang berarti tidak ada rasa aman. Zaman yang makin kompleks, uang adalah tiket untuk akses kesehatan, pendidikan, dan rasa aman. Tanpa itu, kita terlempar dari sistem. Namun, ada fenomena yang merisaukan yaitu mengapa ketika seseorang masuk ke fase dunia kerja, waktu mereka seolah "tergadai" sepenuhnya? Apakah ini konsekuensi wajar dari tuntutan zaman, ataukah sebuah bentuk eksploitasi yang terstruktur?

Terjebak dalam "Survival Mode"

Kita harus jujur bahwa dunia saat ini menuntut biaya yang tidak murah. Inflasi yang terus naik, harga properti yang tak terjangkau, hingga biaya pendidikan dan kesehatan yang tidak murah, memaksa kita untuk terus menginjak pedal gas dalam-dalam. Bekerja keras bukan lagi sekadar ambisi untuk menjadi kaya, melainkan syarat minimal agar tidak tenggelam di tengah arus ekonomi yang brutal.

Masalahnya, dalam proses "bertahan hidup" ini, pekerjaan perlahan-lahan mulai memakan seluruh waktu yang kita punya. Kita berangkat saat matahari belum terbit dan pulang saat bintang sudah tinggi. Jam-jam terbaik dalam hidup kita ketika energi, kreativitas, dan emosi masih penuh, kita berikan seluruhnya kepada perusahaan. Yang tersisa untuk keluarga atau diri sendiri di rumah hanyalah sisa-sisa tenaga yang sudah habis dan raga yang kelelahan.

Ketika Pekerjaan Menginvasi Ruang Mimpi

Kengerian dari sistem kerja modern seperti ini adalah ia tidak berhenti saat kita mematikan laptop. Banyak dari kita yang sangking sibuknya, pekerjaan itu ikut "pulang" ke dalam kepala, bahkan terbawa hingga ke alam bawah sadar. Pernahkah kamu bermimpi sedang dikejar deadline, bertemu atasan yang marah, atau panik karena salah kirim laporan saat sedang tidur lelap?

Ketika pekerjaan menginvasi mimpi, itu adalah tanda bahwa batas-batas kemanusiaan kita telah dilanggar. Otak kita tidak pernah benar-benar beristirahat karena ia dipaksa untuk terus siaga (standby). Tidur yang seharusnya menjadi ruang pemulihan, justru berubah menjadi "kantor kedua" di dalam mimpi. Ini bukan lagi sekadar dedikasi; ini adalah bukti bahwa pekerjaan telah mencuri ruang paling privat yang kita miliki sebagai manusia.

Normalisasi Kelelahan: Apakah Ini Wajar?

Mungkin muncul pemikiran di benak kita: "Memangnya ada pekerjaan zaman sekarang yang tidak menguras waktu? Semua juga begini, kan?" Secara kolektif, kita mulai menganggap stres ekstrem dan hilangnya waktu pribadi sebagai "biaya masuk" yang wajar untuk bertahan hidup. Kita menormalisasi kelelahan sebagai risiko pekerjaan. Namun, kita perlu waspada: jangan-jangan "kewajaran" ini adalah narasi yang sengaja dipelihara oleh mereka yang memiliki otoritas.

Ketika persaingan kerja makin gila dan jumlah pencari kerja membludak, pemilik otoritas memiliki posisi tawar yang jauh lebih kuat. Mereka memanfaatkan ketakutan kolektif kita untuk keuntungan mereka. Jika kita melambat sedikit saja, ada ribuan orang di luar sana yang siap menggantikan posisi kita kapan saja. Di titik inilah, batas antara "tuntutan kerja" dan "eksploitasi" menjadi sangat kabur.

Paradoks Ketakutan: Lelah tapi Takut Berhenti

Mengapa banyak dari kita tetap bertahan meski pekerjaan itu perlahan menggerus kewarasan? Jawabannya adalah ketakutan.

Ada kekhawatiran massal bahwa jika kita memutuskan untuk berhenti atau sekadar melambat, belum tentu ada tempat lain yang mau menerima kita. Lapangan kerja yang makin sempit dan persaingan yang makin brutal menciptakan rasa tidak aman (insecurity). Kita takut menjadi "tidak relevan" atau kehilangan satu-satunya sumber napas ekonomi kita.

Akhirnya, kita terjebak dalam lingkaran setan. Kita membenci beban kerjanya, tapi kita jauh lebih takut pada ketidakpastian jika melepaskannya. Kita rela "menghabiskan hidup" demi memastikan kita masih bisa "menyambung hidup".

Kompleksitas Zaman yang Menekan

Digitalisasi memperparah kondisi ini. Kantor kini masuk ke dalam kantong celana lewat WhatsApp. Kita merasa bersalah jika tidak membalas pesan atasan di hari libur, seolah-olah waktu pribadi kita adalah milik perusahaan yang sudah disewa 24 jam penuh. Kita dipaksa untuk always on, karena jika kita lambat sedikit, ada ribuan orang di luar sana yang siap menggantikan posisi kita.

Di sisi lain, kompleksitas zaman ini juga melahirkan jenis beban kerja baru yang sering tidak disadari. Teknologi yang seharusnya mempermudah urusan, justru sering kali menambah lapisan birokrasi digital yang menyita waktu. Kita terjebak dalam rentetan rapat daring yang tak berujung, koordinasi di berbagai grup pesan, hingga tuntutan untuk terus melakukan up-skilling di luar jam kantor agar tetap relevan. Alhasil, waktu yang tersisa untuk benar-benar 'hidup' seperti bercengkerama dengan keluarga atau sekadar beristirahat tanpa gangguan menjadi barang mewah yang makin sulit dijangkau oleh kelas pekerja saat ini

Menggugat Sistem, Bukan Diri Sendiri

Kita perlu mulai melihat bahwa habisnya waktu hidup untuk bekerja bukan sekadar kegagalan individu dalam mengatur waktu (time management). Ini adalah kegagalan sistem kerja yang tidak lagi memanusiakan pekerjanya. Saat kita merasa bahwa bekerja 12 jam sehari hingga terbawa mimpi adalah hal normal demi rasa aman yang semu, di situlah sistem sedang memenangkan kendali penuh atas hidup kita.

Menyarankan orang untuk "berhenti kerja jika lelah" adalah saran yang utopis dan tidak bertanggung jawab di tengah ekonomi sulit. Namun, terus membiarkan hidup habis terjual secara eceran lewat lembur yang tak berkesudahan juga bukan solusi. Kita perlu menyadari bahwa kita sedang berada dalam sistem yang eksploitatif adalah langkah awal untuk mulai membangun batasan (boundaries) yang lebih sehat. Mungkin, yang kita butuhkan adalah keberanian untuk membangun batasan (boundaries) yang lebih sehat, tanpa harus kehilangan produktivitas.

Bekerjalah sekuat tenaga karena dunia memang mahal, tapi jangan sampai sangking sibuknya mencari uang untuk hidup, kamu justru lupa caranya untuk benar-benar hidup. Karena pada akhirnya, perusahaan akan menemukan penggantimu dalam hitungan hari jika kamu tumbang, namun waktu yang hilang bersama diri sendiri dan orang tersayang tak akan pernah bisa dibeli kembali dengan gaji setinggi apa pun.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
John Herdman Dinilai Membawa Gaya Bermain Baru bagi Timnas Indonesia Sejak Awal Kepelatihannya
• 18 jam lalupantau.com
thumb
Rey Bong Beberkan Kunci Chemistry Kuat Dengan Lawan Main di Film Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya?
• 19 jam lalugrid.id
thumb
Perangi Narkoba! Bupati Rudy Susmanto Awali Gerakan Tes Urine di Pemkab Bogor
• 18 jam laludisway.id
thumb
Prabowo Instruksikan BNPB Segera Tangani Daerah Gempa M7,6 di Sulut dan Malut
• 22 jam laluidxchannel.com
thumb
Ramalan Cinta Shio 3 April 2026: Tikus, Kerbau, Macan, Kelinci, Naga, hingga Babi
• 17 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.