Kenapa Kita Gampang Percaya Hoax? Ini Penjelasan Psikologisnya

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Pernahkah kamu langsung percaya pada sebuah pesan berantai di WhatsApp atau unggahan viral di TikTok hanya karena informasi tersebut muncul berulang kali di timeline? Entah itu tips kesehatan alternatif yang terdengar ajaib, kabar politik yang memicu amarah dan perpecahan, atau sekadar cerita dramatis yang terasa "pasti benar adanya". Padahal setelah dicek kembali, informasi tersebut sama sekali tidak memiliki dasar ilmiah.

Di era digital, kita tidak lagi kekurangan informasi, namun kita justru tenggelam di dalamnya. Merujuk pada data Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL), hoaks di Indonesia masih sangat subur terutama pada isu kesehatan, lingkungan, dan juga politik. Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar, Mengapa masyarakat yang kian melek teknologi justru semakin rentan terpapar manipulasi informasi?

Jebakan Illusory Truth Effect

Secara psikologis, otak manusia dirancang untuk mencari efisiensi. Kita cenderung menyukai informasi yang mudah diproses. Dalam psikologi kognitif, terdapat fenomena yang disebut "Illusory Truth Effect". "Illusory Truth Effect" Ini adalah kecenderungan manusia untuk mempercayai suatu pernyataan sebagai kebenaran hanya karena informasi tersebut diulang terus-menerus.

Ketika sebuah klaim muncul berkali-kali, otak kita membangun "familiaritas". Sesuatu yang terasa akrab akan diproses lebih ringan oleh kognisi kita (cognitive fluency). Celakanya, otak kita sering kali keliru dan mengartikan kemudahan memproses informasi ini sebagai tanda bahwa informasi tersebut benar adanya. Itulah mengapa propaganda dan hoaks sering kali menggunakan strategi pengulangan karena bagi otak yang lelah, kuantitas seringkali mengalahkan kualitas validitas.

Confirmation Bias : Mencari Pembenaran, Bukan Kebenaran

Selain pengulangan, kerentanan kita terhadap hoaks diperparah oleh "Confirmation Bias" atau bias konfirmasi. Ini adalah kecenderungan alami manusia untuk mencari, menafsirkan, dan mengingat informasi yang hanya mendukung keyakinan atau nilai-nilai yang sudah kita miliki dari sebelumnya.

Misalnya, jika seseorang sudah memiliki pandangan kepada politik tertentu, ia akan sangat mudah mempercayai berita negatif tentang lawan politiknya, meskipun sumber berita tersebut tidak jelas dan tidak bisa dipastikan kebenarannya. Sebaliknya, ia akan sangat skeptis bahkan menolak informasi valid yang justru membela pihak lawan. Di titik ini, media sosial bukan lagi menjadi jendela dunia, melainkan "ruang gema" (echo chamber) di mana kita hanya mendengarkan pantulan suara kita sendiri. Kita tidak lagi mencari kebenaran tapi kita hanya mencari pembenaran atas ego kita sendiri.

Logika yang Kalah oleh Emosi

Secara evolusioner, manusia lebih cepat bereaksi terhadap informasi yang memicu emosi kuat seperti rasa takut, marah, atau harapan yang berlebihan. Hoaks sering kali dirancang dengan narasi yang provokatif. Ketika emosi kita tersulut, fungsi kognitif di bagian prefrontal cortex bagian otak yang bertanggung jawab untuk berpikir logis dan kritis sering kali "lumpuh".

Akibatnya, jari kita lebih cepat menekan tombol share daripada melakukan verifikasi lebih lanjut terlebih dahulu. Dalam dunia ilmu pengetahuan, sebuah kebenaran harus melampaui uji ontologi (apa hakikatnya), epistemologi (bagaimana cara mengetahuinya), dan aksiologi (apa nilai gunanya). Namun di jagat maya, proses yang kompleks ini sering kali kalah cepat oleh algoritma yang memprioritaskan keterlibatan emosional (engagement) demi viralitas.

Membangun Skeptisisme Sehat

Lantas, bagaimana kita memutus rantai ini? Jawabannya bukan dengan menutup diri dari informasi, melainkan dengan membangun skeptisisme sehat. Menjadi skeptis bukan berarti menjadi pribadi yang sinis atau selalu curiga tanpa alasan yang jelas. Skeptis adalah sebuah posisi intelektual untuk berhenti sejenak dan melakukan evaluasi mandiri sebelum mengonsumsi sebuah narasi yang ada di media.

Sebagai langkah awal untuk menjadi pembaca yang kritis di era pasca-kebenaran (post-truth), kita perlu membiasakan diri mengajukan tiga pertanyaan dasar:

  1. Dari mana sumbernya? Apakah berasal dari institusi yang kredibel atau hanya sekadar akun anonim?

  2. Apa buktinya? Apakah ada data pendukung atau hanya sekadar opini yang dibungkus seolah-olah hal itu adalah fakta?

  3. Siapa yang diuntungkan? Apakah informasi ini dibuat untuk mengedukasi atau justru untuk memicu perpecahan demi kepentingan pihak tertentu saja?

Kesimpulan: Menjadi Bijak di Tengah Banjir Data

Tanpa kesadaran kritis, kita hanyalah target empuk bagi manipulasi algoritma dan kepentingan sempit. Kita mungkin merasa tahu banyak hal karena setiap hari membaca ratusan judul berita, padahal kita hanya mengumpulkan potongan-potongan informasi tanpa benar-benar memahami akarnya itu apa.

Di tengah arus informasi yang kian deras, kecerdasan seseorang tidak lagi diukur dari seberapa banyak ia tahu, tetapi dari seberapa bijak ia mampu memilah mana yang layak dipercaya. Tahu itu berarti memahami, dan memahami membutuhkan proses berpikir yang sangat hati-hati. Jadi, sebelum jempol kamu membagikan berita yang belum tentu kebenarannya, ingatlah berhenti sejenak adalah bentuk pertahanan terbaik kita di era digital saat ini.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mata Uang Global Stabil, Investor Menanti Sinyal Gencatan Senjata AS dan Iran
• 15 jam laluidxchannel.com
thumb
PMI Manufaktur RI Masih Ekspansif di Tengah Gejolak Global
• 13 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Listrik Padam di Sebagian Wilayah Manado Imbas Gempa
• 11 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Sinopsis Drama China My Rival in Love Is Me, Kisah Cinta Unik dengan Teknologi Brain-Computer Interface
• 7 jam lalugrid.id
thumb
Prakiraan Cuaca Jabodetabek Hari Ini 2 April 2026: Didominasi Hujan Ringan Hingga Berawan Tebal
• 16 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.