Terbukti Terima Gratifikasi dan TPPU, Nurhadi Eks Sekretaris MA Divonis 5 Tahun Penjara

suarasurabaya.net
4 jam lalu
Cover Berita

Nurhadi Sekretaris Mahkamah Agung periode 2011–2016 divonis pidana lima tahun penjara karena terbukti menerima gratifikasi dan melakukan tindak pidana pencucian uang (TPPU).

Fajar Kusuma Aji Hakim Ketua menetapkan Nurhadi terbukti menerima gratifikasi sebesar Rp137,16 miliar dari berbagai pihak serta melakukan TPPU berjumlah Rp308,04 miliar, dengan menempatkannya dalam mata uang rupiah dan mata uang asing di beberapa rekening.

“Menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan bersalah melakukan tindak pidana korupsi tersebut, sebagaimana dakwaan kesatu penuntut umum,” ujarnya pada sidang pembacaan putusan majelis hakim di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (2/4/2026) yang dikutip Antara.

Selain pidana penjara, Nurhadi juga dijatuhi pidana denda sebesar Rp500 juta dengan ketentuan apabila tidak dibayarkan, maka diganti (subsider) dengan pidana penjara selama 140 hari.

Majelis Hakim juga menghukum Nurhadi dengan pidana tambahan berupa pembayaran uang pengganti senilai besaran gratifikasi yang diterima, yakni Rp137,16 miliar subsider pidana penjara selama tiga tahun.

Atas perbuatannya, Nurhadi terbukti bersalah melanggar Pasal 12B juncto Pasal 18 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 serta Pasal 3 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang jo. Pasal 65 ayat (1) KUHP.

Adapun putusan hakim tersebut lebih ringan dari tuntutan jaksa. Sebelumnya, Nurhadi dituntut pidana selama 7 tahun penjara.

Namun, pidana lainnya yang dijatuhkan tetap sama, yakni hukuman denda sebesar Rp500 juta subsider pidana penjara selama 140 hari, serta pembayaran uang pengganti senilai Rp137,16 miliar subsider 3 tahun penjara.

Pada 10 Maret 2021, majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta juga telah memvonis Nurhadi dengan 6 tahun penjara ditambah denda Rp500 juta subsider 3 bulan.

Majelis hakim menyatakan Nurhadi terbukti menerima suap sejumlah Rp35,73 miliar serta gratifikasi dari sejumlah pihak sebesar Rp13,79 miliar.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kemudian mengeksekusi Nurhadi ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat, pada 7 Januari 2022.

Setelah itu, KPK menahan kembali Nurhadi usai yang bersangkutan bebas bersyarat dari Lapas Sukamiskin. Penahanan dilakukan KPK pada 29 Juni 2025 terkait kasus gratifikasi dan TPPU ini. (ant/bil/ham)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Listrik Padam di Sebagian Wilayah Manado Imbas Gempa
• 13 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Serangan Terlihat di Dekat Kantor Eks Kedubes AS di Teheran | SAPA SIANG
• 11 jam lalukompas.tv
thumb
Disambut Gibran, Prabowo Tiba di Indonesia Usai Kunjungan ke Jepang-Korsel
• 20 jam laluliputan6.com
thumb
Kesaksian Mantan Menteri Perhubungan dalam Kasus Dugaan Korupsi Pengaturan Proyek Rel KA Medan-Binjai
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
Menjelang Misa Kamis Putih, Tim Jihandak Sterilisasi Gereja di Tangerang
• 1 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.