JAKARTA, KOMPAS.com – Kondisi Waduk Pluit, Jakarta Utara, yang mendadak menghijau akibat tertutup eceng gondok menjadi sorotan publik. Fenomena ini viral di media sosial dan memicu kekhawatiran soal kualitas air serta pengelolaan lingkungan di ibu kota.
Sorotan itu mencuat setelah video kondisi terkini Waduk Pluit diunggah akun Instagram @ilhamapriyanto pada Selasa (31/3/2026). Dalam video tersebut, sebagian besar permukaan waduk tampak tertutup hamparan eceng gondok.
Sejumlah petugas Unit Penanganan Sampah Badan Air (UPS Badan Air) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jakarta terlihat sibuk melakukan pembersihan. Mereka bahkan berdiri di atas hamparan tanaman air tersebut yang menutupi permukaan waduk.
Baca juga: 5 Langkah agar Waduk Pluit Bebas Eceng Gondok, dari Ambang Batas hingga Kompos
Pembersihan libatkan alat beratPesatnya pertumbuhan eceng gondok membuat proses pembersihan tidak mudah. DLH Jakarta mengerahkan sejumlah alat berat berupa ekskavator untuk mengangkat tanaman dalam jumlah besar.
Selain itu, proses pengangkutan dibantu alat penyaring sampah yang menarik eceng gondok ke daratan. Setelah diangkat, tanaman tersebut dipindahkan menggunakan mesin konveyor ke dalam truk pengangkut.
Pengawas saringan sampah UPS Badan Air Penjaringan, Abu Bakar, mengatakan eceng gondok mulai tumbuh signifikan sejak Minggu (29/3/2026).
Proses pengangkutan pun sudah dilakukan secara intensif sejak Selasa (31/3/2026). Dalam sehari, petugas bekerja dari pagi hingga sore untuk membersihkan waduk.
"Sampai kemarin kami ngangkut dari pagi sampai sore. Sekitar pukul 17.00 WIB hampir 18.00 WIB kita baru kelar. Kami angkut itu habis 12 mobil kami angkut," ucap Abu ketika diwawancarai di lokasi, Rabu (1/4/2026).
Ia menyebutkan, pada Selasa saja volume eceng gondok yang diangkut mencapai sekitar 108 meter kubik. Sementara hingga Rabu siang, tambahan yang berhasil diangkut mencapai sekitar 54 meter kubik.
Baca juga: Bukan Sekadar Gulma, Eceng Gondok di Waduk Pluit Bisa Ganggu Pompa dan Risiko Banjir
Indikasi pencemaran airPakar lingkungan dari Universitas Indonesia, Mahawan Karuniasa, menilai ledakan eceng gondok merupakan indikasi adanya pencemaran di Waduk Pluit.
"Secara ilmiah, ledakan eceng gondok hampir selalu menjadi alarm eutrofikasi, air terlalu kaya nutrien, terutama nitrogen dan fosfor," ucap dia ketika dihubungi, Kamis (2/4/2026).
Menurut Mahawan, keberadaan eceng gondok memang tidak selalu berarti kualitas air berada pada kondisi ekstrem dalam waktu bersamaan. Namun, secara ekologi hal tersebut menunjukkan adanya tekanan pencemaran akibat beban nutrien berlebih.
Ia menjelaskan, sumber utama nutrien di badan air Jakarta umumnya berasal dari limbah domestik.
"Pada konteks perkotaan seperti Jakarta, pemicu yang sering lebih langsung justru limbah domestik, deterjen, sampah organik, air larian permukiman, dan beban pencemar dari sungai yang masuk ke waduk,” ujar dia.
Baca juga: Pengerukan Eceng Gondok di Waduk Pluit Hanya Atasi Gejala, Bukan Akar Masalah
Pembersihan bukan solusi jangka panjangMahawan menegaskan, penggunaan alat berat untuk mengangkut eceng gondok bukan solusi permanen.
Upaya tersebut hanya bertujuan mengembalikan fungsi waduk sebagai pengendali banjir. Jika tidak dibersihkan, eceng gondok dapat mengganggu aliran air, menyumbat sistem pompa, serta menurunkan kapasitas tampung waduk.
Namun, selama kandungan nutrien di air tidak dikendalikan, pertumbuhan eceng gondok akan terus berulang meski telah dibersihkan.
Karena itu, pengawasan ketat perlu dilakukan, termasuk memanfaatkan teknologi modern seperti drone, citra satelit, serta pengujian kualitas air secara berkala untuk mencegah waduk kembali tercemar limbah domestik.
(Penulis: Omarali Dharmakrisna Soedirman)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang





