Jakarta, VIVA – Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) kian meluas dalam dunia industri, termasuk dalam mempertemukan pelaku usaha dengan mitra bisnis yang relevan. Teknologi ini mulai digunakan untuk menyaring dan mencocokkan kebutuhan antarperusahaan secara lebih terarah, sehingga proses penjajakan kerja sama menjadi lebih efisien.
Pendekatan tersebut umumnya dikenal sebagai data-driven matchmaking, yakni proses pencocokan berbasis analisis data yang mempertimbangkan profil perusahaan, kebutuhan produksi, hingga potensi transaksi.
Dalam praktiknya, sistem ini membantu mempertemukan pemasok, produsen, dan pembeli tanpa harus melalui proses konvensional yang lebih panjang. Sejalan dengan meningkatnya kebutuhan teknologi industri, berbagai platform mulai mengadopsi pendekatan berbasis AI untuk mempertemukan pelaku usaha, termasuk melalui penyelenggaraan pameran industri yang terintegrasi dengan sistem pencocokan data.
Salah satunya adalah CMES Indonesia International Machine Tool Exhibition 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 2–4 Juli 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), Jakarta (Hall 5 & 6). Kegiatan ini merupakan ekspansi dari penyelenggaraan sebelumnya di Vietnam pada 2025.
Di tengah tren tersebut, sektor manufaktur Indonesia juga menunjukkan perkembangan yang mendorong kebutuhan akan solusi industri yang lebih terintegrasi. Seiring implementasi program “Making Indonesia 4.0”, industri pengolahan logam mulai beralih dari teknik casting konvensional menuju produksi komponen dengan presisi lebih tinggi.
“Peralihan ini didorong permintaan dari sektor otomotif, elektronika, infrastruktur, dan energi baru. Namun, perkembangan industri mesin perkakas dalam negeri masih berada dalam tahap awal. Sekitar 75 persen peralatan premium masih berasal dari impor sehingga membuka peluang strategis bagi pihak pemasok internasional,” menurut perwakilan dari pihak penyelenggara CMES Indonesia, Sun Xiao Li, sebagaimana dikutip dari siaran pers, Kamis 2 April 2026.
Kinerja sektor industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) turut mencerminkan tren tersebut. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, sektor ini tumbuh 6,96% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada Triwulan III-2025 dan menjadi salah satu motor penggerak industri pengolahan nasional.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya aktivitas produksi di berbagai subsektor. Industri mesin dan perlengkapan mencatat pertumbuhan sebesar 11,74% (YoY), seiring meningkatnya permintaan barang modal akibat ekspansi produksi dan investasi di sektor manufaktur.





