Dari Artemis II, Mengapa Manusia Kembali ke Bulan?

kompas.id
9 jam lalu
Cover Berita
Apa saja yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
  1. Kapan saja misi manusia ke Bulan dilakukan?
  2. Apa saja yang menarik dari misi kali ini?
  3. Apa tujuan manusia ke Bulan?
  4. Negara apa saja yang bersaing ke Bulan?
Kapan saja misi manusia ke Bulan dilakukan?

Perjalanan terakhir manusia ke Bulan terjadi pada 1972 melalui misi Apollo 17. Setelah itu, selama lebih dari setengah abad, tidak ada lagi misi berawak ke Bulan, meskipun berbagai negara, termasuk China, aktif mengirim misi tanpa awak dan wahana robotik untuk eksplorasi serta pengambilan sampel.

Tonggak baru dicapai pada Rabu (1/4/2026) malam waktu setempat atau Kamis siang WIB, ketika misi berawak kembali menuju Bulan diluncurkan dari Pusat Antariksa Kennedy. Misi ini dipimpin oleh NASA dan mengirim empat astronot, yakni Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen, untuk melintasi orbit Bulan tanpa mendarat. Inilah misi berawak pertama ke Bulan sejak 1972.

Misi yang diberi nama Artemis II ini berdurasi hampir 10 hari. Pada fase awal, para astronot menghabiskan satu hingga dua hari di orbit tinggi Bumi untuk melakukan pengujian menyeluruh sistem kapsul Orion, mencakup pendukung kehidupan, propulsi, navigasi, dan komunikasi. Setelah dipastikan siap, wahana menyalakan mesin translunar injection untuk keluar dari orbit Bumi menuju lintasan Bulan.

Setibanya di sisi jauh Bulan, Orion memanfaatkan gravitasi Bulan untuk mengayunkan lintasan kembali ke Bumi dengan konsumsi bahan bakar minimal. Dalam perjalanan pulang, kru melakukan uji tambahan pada sistem daya dan kontrol panas. Kapsul kemudian masuk atmosfer dengan kecepatan sekitar 40.233 km/jam dan direncanakan mendarat di Samudra Pasifik, menandai kembalinya manusia ke misi Bulan setelah jeda lebih dari 50 tahun.

Baca JugaArtemis II Antar Manusia untuk Kembali Pergi ke Bulan
Apa saja yang menarik dari misi kali ini?

Misi Artemis II menandai kembalinya manusia ke Bulan setelah tertunda dua bulan dan akhirnya diluncurkan pada 1 April 2026 waktu AS. Perjalanan ini menjadi misi berawak pertama ke Bulan pada abad ke-21, sekaligus penerbangan manusia pertama sejak Apollo 17 pada 1972. Artemis II juga menjadi pertama kalinya roket SLS dan kapsul Orion membawa awak, setelah pada Artemis I (2022) keduanya hanya diuji tanpa awak.

Roket Space Launch System (SLS) milik NASA meluncur dari Kennedy Space Center membawa kapsul Orion dengan empat antariksawan: Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen. Dalam misi berdurasi 10 hari ini, Hansen mencatat sejarah sebagai orang Kanada pertama yang terbang ke Bulan, sementara awak lainnya membawa pengalaman panjang dari ISS. Misi ini hanya melintas dekat Bulan tanpa mengorbit atau mendarat.

Artemis II juga sarat “serba pertama” lainnya: perempuan pertama ke Bulan (Christina Koch), antariksawan kulit hitam pertama ke Bulan (Victor Glover), dan antariksawan non-AS pertama ke Bulan (Jeremy Hansen). Selain itu, Orion untuk pertama kalinya membawa toilet saat terbang mengelilingi Bulan. Dari sisi capaian teknis, misi ini akan membawa manusia ke jarak 406.841 km dari Bumi, menjadikannya penerbangan manusia terjauh sepanjang sejarah, melampaui rekor Apollo 13 pada 1970.

Di luar simbol sejarah, Artemis II menjadi fondasi bagi misi Bulan yang berkelanjutan. NASA menargetkan pendaratan manusia kembali ke Bulan mulai 2028 dan pembangunan pangkalan Bulan pada 2032, sekaligus menguji sistem krusial Orion—mulai dari pendukung kehidupan, modul layanan Eropa, hingga manuver Trans-Lunar Injection. Keberhasilan Artemis II bukan hanya menentukan kelanjutan program Artemis, tetapi juga membuka jalan bagi eksplorasi manusia ke Mars pada dekade mendatang.

Baca JugaSerba Pertama di Misi Artemis II ke Bulan
Apa tujuan manusia ke Bulan?

Amerika Serikat saat ini menjadi satu-satunya negara yang pernah mendaratkan manusia di Bulan dan paling siap melakukannya kembali. Setelah Artemis II, NASA berencana melanjutkan dengan Artemis III untuk pendaratan manusia, Artemis IV untuk membangun stasiun orbit Bulan Gateway, serta pangkalan Bulan bersama mitra internasional seperti ESA dan JAXA. Di sisi lain, China, Rusia, India, dan Jepang juga memiliki rencana ambisius menuju Bulan dalam dekade mendatang, menandai meningkatnya persaingan dan kolaborasi global dalam eksplorasi antariksa.

Kembalinya manusia ke Bulan kali ini bertujuan pada eksplorasi yang berkelanjutan, bukan sekadar prestise seperti era Perang Dingin. Bulan dipandang sebagai arsip alami sejarah Tata Surya dan sumber pengetahuan ilmiah yang belum tergali optimal. Selain itu, Bulan menyimpan potensi sumber daya penting—terutama air di kutub selatan—yang dapat diolah menjadi air minum, oksigen, hingga bahan bakar roket, serta mineral bernilai tinggi yang mendukung ekonomi antariksa jangka panjang.

Meski misi berawak berisiko tinggi dan jauh lebih mahal dibandingkan misi robotik, manusia dinilai unggul dalam kecepatan kerja, pengambilan keputusan, pengumpulan sampel, dan pembangunan proyek kompleks. Robot tetap penting untuk misi jangka panjang di lingkungan ekstrem, tetapi manusia mampu menghasilkan dampak ilmiah dan inspiratif yang lebih besar. Pada akhirnya, yang terpenting bukan memilih manusia atau robot, melainkan memastikan eksplorasi Bulan dilakukan secara berkelanjutan agar investasi besar yang telah dikeluarkan memberi manfaat jangka panjang bagi umat manusia.

Baca JugaMengapa Manusia Kembali ke Bulan?
Negara apa saja yang bersaing ke Bulan?

Persaingan menuju Bulan tidak hanya melibatkan Amerika Serikat. China, India, dan Jepang juga gencar mengembangkan teknologi peluncuran dan misi Bulan. China dan India telah berhasil mendaratkan wahana tanpa awak di Kutub Selatan Bulan, sementara Jepang juga sukses mendarat di permukaan Bulan. Persaingan ini bukan sekadar mengulang sejarah, melainkan menjadikan Bulan sebagai lokasi uji coba dan terminal menuju ambisi yang lebih besar.

Bulan dipandang krusial sebagai pangkalan terakhir dan tempat latihan manusia sebelum perjalanan jauh ke Mars. Di sana, manusia dapat belajar hidup di luar Bumi dan menyiapkan kendaraan antariksa besar. Ke depan, persaingan AS dan China diperkirakan akan menguat di Bulan dan bahkan Mars, termasuk dalam pembangunan koloni serta pangkalan antariksa.

Di luar tujuan eksplorasi, proyek antariksa juga berkaitan dengan penguatan kapasitas militer. Antariksa diproyeksikan menjadi medan strategis masa depan, dengan potensi konflik yang melibatkan satelit pengintaian dan komunikasi. Dari spesies yang dulu hanya menatap Bulan, manusia kini menguasai angkasa dan tengah bersiap melangkah lebih jauh, salah satunya menuju Mars.

Baca JugaPersaingan Menuju Bulan

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rumah Tiba-Tiba Diukur Tanpa Izin, Rachel Vennya Bongkar Bukti CCTV dan Sindir Sikap Mantan Suami
• 6 jam laluviva.co.id
thumb
Layanan SIM Keliling Jakarta Ditiadakan Hari Ini, Jumat 3 April 2026
• 9 jam lalukompas.com
thumb
Rekomendasi Film dan Serial Netflix Tayang Bulan April
• 20 jam lalubeautynesia.id
thumb
Long Weekend Lagi! Catat Ada 5 Tanggal Merah pada April 2026
• 6 jam lalumedcom.id
thumb
Ungkap Dampak Serangan Dahsyat Iran ke Israel, Ini yang Dialami Jurnalis India
• 17 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.