Jakarta (ANTARA) - Duta Besar (Dubes) Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi menyampaikan apresiasi kepada pemerintah Indonesia atas kesediaannya untuk berperan sebagai fasilitator dalam upaya menciptakan perdamaian di kawasan Timur Tengah.
“Saya juga mengucapkan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pemerintah Republik Indonesia yang setelah perang Amerika-Israel melawan Iran, memiliki kesediaan, kesiapan, menyatakan kesediaannya untuk menjembatani bagi terwujudnya perdamaian, untuk menjadi fasilitator dalam terciptanya perdamaian di wilayah tersebut,” ujar Boroujerdi.
Hal tersebut disampaikan Boroujerdi saat menghadiri pertemuan dengan sejumlah tokoh Islam Indonesia di Jakarta, Jumat.
Lebih lanjut, dia menyampaikan bahwa komitmen Indonesia tersebut menjadi langkah penting dalam mendorong terciptanya stabilitas dan perdamaian yang berkelanjutan di kawasan.
Baca juga: Sekjen PBB: Hentikan konflik Timur Tengah
Selain itu, Boroujerdi juga menyampaikan apresiasi khusus kepada tokoh cendekiawan Islam Indonesia Din Syamsuddin yang ikut pula hadir dalam pertemuan itu. Ia menilai Din Syamsuddin yang juga merupakan Ketua Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC) itu memiliki kontribusi besar, di antaranya dalam mendorong upaya perdamaian, baik di tingkat kawasan maupun global.
“Saya juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan spesial terhadap Prof. Syamsuddin selaku ketua CDCC yang begitu rupa usahanya, begitu banyak usahanya untuk menciptakan perdamaian yang langgeng, perdamaian yang abadi baik itu di wilayah ataupun juga di dunia,” kata Boroujerdi.
Berikutnya dalam kesempatan yang sama, Boroujerdi mengajak segenap umat Islam, terutama umat Islam di tanah air untuk bersatu mengampanyekan anti-perang.
"Oleh karena itu, sebaiknya bagi umat Islam, wajib bagi umat Islam untuk bersatu supaya dapat menghadapi bersama-sama serangan-serangan, peperangan-peperangan yang dilancarkan oleh Zionis dan juga bersama Amerika," ujar dia.
Baca juga: IEA: Krisis avtur akibat konflik kawasan hantam Asia, Eropa menyusul
Ia juga mengingatkan bahwa pihak Zionis tidak hanya memerangi Islam, tetapi juga agama-agama lainnya.
"Rezim Zionis ini menentang seluruh agama, menentang agama Islam, menentang agama Kristen, menentang bahkan Yahudi yang non-Zionis. Mereka menentang semua, tidak mengizinkan umat Islam untuk melaksanakan ibadahnya di Masjidil Aqsa," ucapnya.
Baca juga: Harga migas di Eropa naik hingga 70 persen sejak konflik Timteng
“Saya juga mengucapkan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pemerintah Republik Indonesia yang setelah perang Amerika-Israel melawan Iran, memiliki kesediaan, kesiapan, menyatakan kesediaannya untuk menjembatani bagi terwujudnya perdamaian, untuk menjadi fasilitator dalam terciptanya perdamaian di wilayah tersebut,” ujar Boroujerdi.
Hal tersebut disampaikan Boroujerdi saat menghadiri pertemuan dengan sejumlah tokoh Islam Indonesia di Jakarta, Jumat.
Lebih lanjut, dia menyampaikan bahwa komitmen Indonesia tersebut menjadi langkah penting dalam mendorong terciptanya stabilitas dan perdamaian yang berkelanjutan di kawasan.
Baca juga: Sekjen PBB: Hentikan konflik Timur Tengah
Selain itu, Boroujerdi juga menyampaikan apresiasi khusus kepada tokoh cendekiawan Islam Indonesia Din Syamsuddin yang ikut pula hadir dalam pertemuan itu. Ia menilai Din Syamsuddin yang juga merupakan Ketua Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC) itu memiliki kontribusi besar, di antaranya dalam mendorong upaya perdamaian, baik di tingkat kawasan maupun global.
“Saya juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan spesial terhadap Prof. Syamsuddin selaku ketua CDCC yang begitu rupa usahanya, begitu banyak usahanya untuk menciptakan perdamaian yang langgeng, perdamaian yang abadi baik itu di wilayah ataupun juga di dunia,” kata Boroujerdi.
Berikutnya dalam kesempatan yang sama, Boroujerdi mengajak segenap umat Islam, terutama umat Islam di tanah air untuk bersatu mengampanyekan anti-perang.
"Oleh karena itu, sebaiknya bagi umat Islam, wajib bagi umat Islam untuk bersatu supaya dapat menghadapi bersama-sama serangan-serangan, peperangan-peperangan yang dilancarkan oleh Zionis dan juga bersama Amerika," ujar dia.
Baca juga: IEA: Krisis avtur akibat konflik kawasan hantam Asia, Eropa menyusul
Ia juga mengingatkan bahwa pihak Zionis tidak hanya memerangi Islam, tetapi juga agama-agama lainnya.
"Rezim Zionis ini menentang seluruh agama, menentang agama Islam, menentang agama Kristen, menentang bahkan Yahudi yang non-Zionis. Mereka menentang semua, tidak mengizinkan umat Islam untuk melaksanakan ibadahnya di Masjidil Aqsa," ucapnya.
Baca juga: Harga migas di Eropa naik hingga 70 persen sejak konflik Timteng





