Pada Rabu (1 April), bertepatan dengan dimulainya Paskah Yahudi, Iran dan kelompok Hezbollah melancarkan serangan besar secara tiba-tiba. Amerika Serikat dan Israel segera melakukan serangan balasan yang menghantam 15 pangkalan militer Iran. Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa pemerintahan baru Iran telah meminta gencatan senjata, dan pasukan AS berpotensi ditarik dalam tiga minggu. Kabar ini mendorong lonjakan pasar saham global. Namun, dari dalam Iran muncul laporan bahwa Korps Garda Revolusi Islam telah mengambil alih kekuasaan dan membantah adanya gencatan senjata.
EtIndonesia. Pada Rabu (1 April), saat Paskah Yahudi dimulai, Iran meluncurkan serangan rudal ke Israel, sementara Hezbollah menembakkan roket dari Lebanon. Akibatnya, jutaan warga Israel terpaksa berlindung di bunker.
Menurut penilaian awal Pasukan Pertahanan Israel, sekitar 10 rudal balistik pertama kali ditembakkan ke wilayah tengah Israel—menjadi serangan rudal terbesar Iran sejak konflik dimulai. Beberapa menit kemudian, sirene kembali berbunyi menandakan serangan lanjutan.
Di saat yang sama, AS dan Israel juga melakukan pemboman besar-besaran terhadap target di dalam Iran. Militer Israel menyatakan bahwa mereka menyerang 15 fasilitas produksi senjata Iran dalam semalam, dan seorang komandan front selatan Hezbollah, Hashim, tewas dalam serangan tersebut.
Juru bicara militer Israel, Brigjen Defrin, mengatakan: “Kami terus menyerang musuh dengan tekad kuat. Hasil kami terus bertambah, dan pada akhirnya akan mencapai kemenangan besar. Kami sedang menghancurkan seluruh sistem rezim Iran dan para proksinya.”
Militer AS juga melaporkan telah melaksanakan lebih dari 12.000 misi penerbangan tempur untuk mendukung operasi “Epic Fury”.
Presiden Donald Trump pada Rabu menyatakan bahwa Iran sedang “dihancurkan habis-habisan”. Ia juga memuji presiden dari pemerintahan baru Iran sebagai sosok yang jauh lebih rasional dan kurang radikal dibanding pendahulunya, serta menyebut bahwa pihak tersebut telah meminta gencatan senjata kepada Amerika Serikat.
Trump mengatakan bahwa AS akan mempertimbangkan gencatan senjata setelah jalur di Selat Hormuz kembali terbuka sepenuhnya. Ia juga menetapkan batas waktu 2–3 minggu untuk penarikan pasukan AS dari Iran. Kabar ini mendorong lonjakan pasar saham global dan penurunan harga minyak.
Sehari sebelumnya, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa selama pihak lawan menjamin konflik tidak akan berlanjut, Teheran memiliki “niat yang diperlukan” untuk mengakhiri perang.
Namun, Kementerian Luar Negeri Iran pada Rabu membantah pernyataan Trump bahwa Teheran telah meminta gencatan senjata.
Media The Times of Israel mengutip laporan dari Iran International yang menyebut bahwa saat ini Iran secara de facto dikendalikan oleh sebuah “komite militer” yang terdiri dari pejabat tinggi Garda Revolusi. Mereka disebut menolak perintah Presiden Pezeshkian dan memutus komunikasi antara dirinya dengan pemimpin tertinggi Mojtaba Khamenei.
Garda Revolusi juga menyatakan bahwa Selat Hormuz masih berada di bawah kendali penuh mereka. Sebelumnya, parlemen Iran telah menyetujui rencana untuk mengenakan biaya bagi kapal yang melintas di selat tersebut.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan: “Selat Hormuz adalah perairan internasional. Setiap upaya Iran untuk menghambat pelayaran komersial adalah ilegal. Jika Iran benar-benar mencoba mengendalikan selat itu, pada akhirnya Presiden akan memutuskan apakah akan bertindak. Ini adalah masalah global.”
Rubio juga menyatakan bahwa pemerintahan Trump telah melihat “garis akhir” dari perang ini.
Reporter NTD Television, Yi Jing, melaporkan.





