Seorang pria berusia 20 tahun di China mengalami kasus medis langka setelah tato berbentuk tanda salib merah di lehernya tiba-tiba menghilang. Tak hanya itu, kondisi tersebut diikuti dengan munculnya benjolan hingga luka serius yang memerlukan tindakan operasi.
Dilansir Live Science, awalnya pria tersebut membuat tato di bagian leher. Namun, tiga bulan kemudian, tinta tato itu perlahan menghilang tanpa jejak. Tak lama setelah itu, ia mulai merasakan benjolan di kedua sisi lehernya yang semakin membesar.
Bekas tato berubah menjadi luka cekung, disertai ulkus atau luka terbuka berisi jaringan mati yang dipenuhi campuran cairan dan darah berwarna merah muda. Kondisi ini dikenal sebagai ulkus nekrotik.
Lima bulan setelah membuat tato, pria tersebut akhirnya memeriksakan diri ke rumah sakit. Ia sempat diberikan antibiotik dan kortikosteroid topikal, namun kondisinya tidak kunjung membaik.
Saat diperiksa lebih lanjut, dokter menemukan kelenjar getah bening di kedua sisi lehernya membengkak dan mengeras. Selain itu, terdapat luka nekrotik besar di bagian tengah leher yang telah menyebar hingga ke lapisan kulit lebih dalam.
Hasil pemindaian MRI menunjukkan benjolan di kedua sisi leher berukuran sekitar 4 x 3 cm, sementara massa di bagian tengah mencapai hampir 5 x 3,5 cm. CT scan lanjutan mengungkap adanya pembekuan darah di dua vena jugularis di leher.
Dokter kemudian melakukan biopsi menggunakan jarum halus. Hasilnya menunjukkan adanya sel mati, sel imun, dan jaringan parut, namun belum dapat memastikan penyebab pasti dari nekrosis tersebut.
Karena kondisi pasien terus memburuk, tim medis memutuskan untuk segera melakukan operasi. Mereka mengangkat jaringan luka dan benjolan, serta menutup vena yang mengalami pembekuan untuk mencegah aliran darah. Setelah itu, leher pasien direkonstruksi menggunakan jaringan dari paha.
Setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan menggunakan metode imunohistokimia, dokter menemukan adanya sel yang membentuk tumor jinak. Hasil tes juga negatif untuk virus Epstein-Barr dan tuberkulosis.
Berdasarkan temuan tersebut, pasien didiagnosis mengalami necrotizing granulomatous lymphadenitis, yakni respons imun terhadap cedera, dalam kasus ini diduga dipicu oleh tato.
Dokter menjelaskan bahwa beberapa pigmen tato, terutama yang mengandung logam berat seperti merkuri dan kadmium serta pewarna merah organik, dapat memicu reaksi imun tertunda. Kendati begitu, sisa pigmen tato tidak ditemukan pada jaringan yang diangkat, sehingga tidak bisa dianalisis lebih lanjut.
Setelah menjalani operasi dan terapi hormon jangka pendek, pasien dilaporkan pulih sepenuhnya. Namun, jenis terapi hormon yang diberikan tidak dijelaskan secara rinci.
Kasus ini tergolong sangat langka. Tato memang diketahui memiliki risiko kesehatan seperti reaksi alergi dan infeksi kulit. Dalam sebuah studi terhadap 226 orang yang mengalami reaksi terhadap tato, sekitar 48 persen di antaranya menunjukkan reaksi granulomatosa.
Meski begitu, kasus nekrosis akibat tato seperti yang dialami pria ini baru menjadi laporan kedua yang pernah tercatat. Pada kasus sebelumnya, pasien mengalami kondisi kulit langka yang menyebabkan kerusakan kolagen.
Dokter juga menilai luka pada pasien ini tergolong sangat agresif karena mampu menembus hingga lapisan kulit yang lebih dalam.
Ada beberapa kemungkinan penyebab kondisi tersebut, antara lain peradangan kronis yang meningkatkan risiko pembekuan darah, pembengkakan kelenjar getah bening yang menekan pembuluh darah, atau kerusakan dinding pembuluh darah akibat inflamasi berkepanjangan.
Secara keseluruhan, kasus ini menambah daftar panjang potensi komplikasi yang bisa muncul akibat tato, meskipun kemungkinan terjadinya sangat jarang.





