Profil R.A Kartini, Pejuang Emansipasi Perempuan yang Dikenang Setiap 21 April

grid.id
2 jam lalu
Cover Berita

Grid.ID- Profil R.A. Kartini selalu menjadi sorotan setiap peringatan Hari Kartini yang jatuh pada 21 April. Sosok Raden Ajeng Kartini dikenal luas sebagai tokoh perempuan yang gigih memperjuangkan emansipasi dan kesetaraan hak bagi perempuan Indonesia.

Pemikirannya menjadikan Kartini sebagai simbol kebangkitan perempuan pribumi di tengah kuatnya tradisi yang membatasi ruang gerak kaum wanita pada masanya. Melalui tulisan, pendidikan, dan keberaniannya menolak ketidakadilan, ia meninggalkan warisan besar yang terus dikenang hingga kini.

Meski hidupnya singkat, perjuangan Kartini melampaui zamannya dan memberi pengaruh besar bagi perkembangan pendidikan perempuan. Berikut ulasan lengkap profil R.A. Kartini berdasarkan informasi yang kami himpun dari Kompas.com dan Tribunnews.com, Jumat (3/4/2026).

Profil R.A Kartini

R.A Kartini lahir pada 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah, dan juga disebut lahir di Mayong pada hari Senin Pahing. Raden Ajeng Kartini merupakan putri dari R.M.A.A. Sosroningrat atau Raden Mas Sosroningrat, yang saat itu dikenal sebagai Wedono Mayong sekaligus kemudian Bupati Jepara. Ibunya bernama Mas Ajeng Ngasirah, yang berstatus garwa ampil atau istri selir.

Status keluarga Kartini cukup kompleks. Ngasirah awalnya merupakan istri pertama, namun karena aturan yang mewajibkan pejabat seperti bupati menikahi perempuan dari kalangan bangsawan, ayah Kartini kemudian menikah lagi dengan Raden Ajeng Woerjan atau Moerjam, putri Bupati Jepara yang menjadi garwa padmi atau istri utama.

Kondisi inilah yang membuat Ngasirah menghadapi diskriminasi karena bukan berasal dari darah biru. Sebagai garwa ampil, ia tidak tinggal di rumah utama bupati, melainkan di bagian belakang pendapa. Meski begitu, Kartini lebih sering memilih tinggal bersama ibunya.

Silsilah Keluarga R.A Kartini

Dari pernikahan R.M. Sosroningrat dengan Mas Ajeng Ngasirah, lahir delapan anak, yaitu:

Raden Mas Slamet (15 Juni 1873)Raden Mas Boesono (11 Mei 1874)Raden Mas Kartono (10 April 1877)Raden Ajeng Kartini (21 April 1879)Raden Ajeng Kardinah (1 Maret 1881)Raden Mas Moeljono (26 Desember 1885)Raden Ajeng Soematri (11 Maret 1888)Raden Mas Rawito (16 Oktober 1892)

Sementara dari pernikahan ayahnya dengan Raden Ajeng Woerjan, lahir tiga putri, yaitu:

Raden Ajeng Soelastri (9 Januari 1877)Raden Ajeng Roekmini (4 Juli 1880)Raden Ajeng Kartinah (3 Juni 1883)

Riwayat Pendidikan

R.A. Kartini dikenal sebagai anak yang haus akan ilmu. Lahir dari keluarga ningrat yang menghargai pendidikan, Kartini mendapat kesempatan bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS) atau Europeesche Lagere School, sekolah untuk orang Belanda dan kalangan ningrat Jawa.

Kartini disebut belajar di bawah asuhan Ny. Ovink Soer. Namun, masa sekolahnya tidak berlangsung lama. Setelah lulus dari ELS pada 1892, saat usianya baru 12 tahun, ia harus menjalani pingitan sesuai adat Jawa yang berlaku bagi perempuan ningrat.

Dari 1892 hingga 1898, Kartini hidup dalam keterbatasan karena tidak diperbolehkan keluar rumah. Ia bahkan sempat memiliki keinginan melanjutkan pendidikan ke HBS Semarang, tetapi terhalang adat. Dalam beberapa catatan, Kartini juga pernah mengajukan beasiswa untuk belajar ke Belanda, yang sempat mendapat persetujuan ayahnya, namun akhirnya dibatalkan dan diserahkan kepada H. Agus Salim.

 

Masa pingitan pun tidak membuat semangat belajar Kartini padam. Justru pada masa inilah pemikirannya berkembang pesat.

Ia terus menambah wawasan dengan membaca buku, koran, dan majalah yang diperoleh dari ayah dan saudara-saudaranya, termasuk Raden Mas Slamet. Selain itu, Kartini juga menjalin persahabatan pena dengan Rosa Abendanon di Belanda.

Melalui surat-menyurat tersebut, Kartini bisa bertukar pikiran dan memahami bagaimana kehidupan perempuan Eropa yang jauh lebih maju dibandingkan dengan perempuan pribumi saat itu. Perbedaan itulah yang kemudian membentuk kesadaran kritisnya tentang pentingnya kesetaraan.

Perjuangan R.A Kartini untuk Emansipasi Perempuan

Perjuangannya dimulai dari tulisan. Salah satu tulisan yang mendapat perhatian berjudul “Upacara Perkawinan Suku Koja”, yang dimuat di sebuah majalah pada 1895, saat usianya baru 16 tahun.

Sejumlah tulisannya tentang emansipasi perempuan juga dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari karya-karya itu, Kartini mulai dikenal oleh kalangan Belanda sebagai perempuan pribumi yang cerdas, kritis, dan memiliki gagasan besar tentang perubahan.

Perbedaan nasib perempuan Eropa dan perempuan di lingkungannya membuat Kartini ingin memajukan perempuan pribumi. Menurutnya, perempuan harus memiliki akses pendidikan agar mampu berpikir mandiri dan memperoleh kesetaraan dalam kehidupan sosial.

Salah satu bagian penting dalam profil R.A. Kartini adalah kiprahnya di bidang pendidikan. Kartini mendirikan sekolah bagi perempuan karena ia meyakini bahwa pendidikan adalah jalan utama menuju perubahan.

Sekolah pertamanya dikenal sebagai Sekolah Pertama Gadis-gadis Priyayi Bumi Putera yang dibina di serambi belakang Pendopo Kabupaten Jepara. Di sana, Kartini mengajarkan berbagai hal kepada murid-murid perempuan, termasuk pelajaran yang kini dikenal dengan istilah krida.

Setelah menikah, Kartini juga tetap memperjuangkan pendidikan perempuan di Rembang. Sekolah yang ia dirikan di Rembang terletak di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor Kabupaten Rembang, yang kini dikenal sebagai Gedung Pramuka.

Gagasan Kartini kemudian menginspirasi tokoh Politik Etis Van Deventer untuk mendirikan Sekolah Kartini pada 1912 di Semarang, setelah Kartini wafat. Sekolah tersebut kemudian berkembang ke Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon, dan sejumlah daerah lain.

Pernikahan

R.A. Kartini menikah pada 12 November 1903 saat berusia 24 tahun. Suaminya adalah Bupati Rembang, KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat atau dikenal juga sebagai Adipati Djoyohadiningrat.

 

Sebelum menikah, Kartini mengajukan sejumlah syarat yang berkaitan langsung dengan perjuangannya. Ia meminta agar ibunya diperbolehkan masuk ke pendopo, diizinkan membuka sekolah untuk perempuan di Rembang, dan tidak ada tradisi jalan jongkok, berlutut, dan menyembah kaki mempelai laki-laki dalam prosesi pernikahan.

Sikap ini menegaskan bahwa ia ingin laki-laki dan perempuan harus sederajat. Seluruh syarat tersebut dipenuhi, sehingga Kartini tetap bisa melanjutkan cita-citanya.

Akhir Hayat R.A Kartini

Perjuangan Kartini berlangsung singkat, tetapi sangat bermakna. R.A. Kartini melahirkan putra pertamanya pada 13 September 1904. Bayi laki-laki itu diberi nama Singgih atau R.M. Soesalit.

Namun, setelah melahirkan, kondisi kesehatannya memburuk meski sudah mendapatkan perawatan. Kartini akhirnya meninggal dunia pada 17 September 1904 dalam usia 25 tahun, hanya beberapa hari setelah kelahiran putra semata wayangnya. Jenazahnya dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang, Jawa Tengah.

Meski telah wafat, gagasan Kartini terus hidup. Surat-suratnya kepada sahabat-sahabat di Eropa kemudian dibukukan oleh Jacques Henrij Abendanon atau disebut juga Ny. Abendanon dalam konteks sahabat penanya, dengan judul “Door Duisternis tot Licht”.

Buku tersebut kemudian dikenal luas dalam bahasa Indonesia sebagai “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Kumpulan surat itu menjadi bukti kuat pemikiran Kartini tentang pendidikan, kebebasan, dan emansipasi perempuan.

Pemerintah kemudian menghargai perjuangannya dengan menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan melalui Surat Nomor 108 Tahun 1964 pada 2 Mei 1964. Sebagai bentuk penghormatan, tanggal kelahirannya, 21 April, diperingati setiap tahun sebagai Hari Kartini.

Itulah profil R.A. Kartini yang menjadi simbol perjuangan perempuan Indonesia. Warisannya adalah semangat emansipasi, akses pendidikan bagi perempuan, dan peringatan Hari Kartini setiap 21 April yang terus dikenang oleh bangsa Indonesia. (*)

 

Artikel Asli


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pendaftaran SIPENCATAR 2026 Jalur Mandiri PPI Madiun Dibuka, Ini Syarat dan Dokumennya
• 14 jam lalukompas.tv
thumb
Telan Pil Pahit di Laga Pembuka Final Four Proliga 2026, Bulent Karslioglu ungkap Biang Kerok Kekalahan Megawati Hangestri Cs
• 6 jam lalutvonenews.com
thumb
Laga Sengit Final Four Proliga Surabaya, Electric PLN Mobile Tumbangkan Pertamina Enduro 3-2
• 13 jam lalurepublika.co.id
thumb
Status Pemain Timnas Indonesia Aman usai Kasus Paspoortgate di Liga Belanda Mencuat? Begini Penjelasan Jujur PSSI
• 2 jam lalutvonenews.com
thumb
AS Pecat KASAD Jenderal Randy George di Tengah Perang dengan Iran
• 7 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.