FAJAR, JAKARTA – Laporan intelijen terbaru Amerika Serikat mengungkap fakta mengejutkan terkait kekuatan militer Iran. Temuan ini langsung memicu perdebatan. Pasalnya bertolak belakang pernyataan Donald Trump yang menyebut Iran kehabisan amunisi. Trump berbohong?
Di tengah narasi bahwa Iran telah dilemahkan, laporan rahasia justru menunjukkan bahwa negara tersebut masih menyimpan kekuatan militer yang signifikan—bahkan siap digunakan kapan saja.
Berdasarkan informasi dari sejumlah sumber yang mengetahui isi laporan tersebut, sekitar 50 persen peluncur rudal Iran disebut masih dalam kondisi utuh dan operasional, meskipun telah menjadi target serangan udara intensif oleh Amerika Serikat dan Israel selama lima minggu terakhir.
Tak hanya itu, ribuan drone kamikaze—atau pesawat nirawak bunuh diri—dilaporkan masih tersimpan aman di gudang senjata Teheran. Kondisi ini menandakan bahwa ancaman militer Iran belum benar-benar mereda.
Seorang sumber intelijen bahkan memberikan peringatan keras terkait potensi eskalasi yang bisa terjadi sewaktu-waktu.
“Mereka masih sangat siap untuk menciptakan kekacauan total di seluruh kawasan,” ujarnya, sebagaimana dilansir CNN, Kamis (2/4/2026).
Laporan tersebut juga mengungkap bahwa sekitar setengah dari total kemampuan drone Iran masih tersedia. Sementara itu, sebagian besar armada rudal jelajah pertahanan pesisir Iran dilaporkan tidak tersentuh oleh serangan.
Hal ini diduga karena operasi militer AS tidak memprioritaskan target di wilayah pesisir—padahal kawasan tersebut memiliki peran strategis dalam mengancam jalur pelayaran global, terutama di Selat Hormuz.
Selain faktor target operasi, kemampuan Iran mempertahankan kekuatan militernya juga didukung oleh strategi penyimpanan senjata. Banyak peluncur rudal disembunyikan di jaringan terowongan dan gua bawah tanah yang luas, sehingga sulit dideteksi maupun dihancurkan melalui serangan udara.
Temuan intelijen ini secara langsung mematahkan klaim yang sebelumnya disampaikan oleh Donald Trump. Dalam pidatonya pada Rabu (1/4/2026), ia menyatakan bahwa kekuatan militer Iran telah hancur.
“Kemampuan Iran untuk meluncurkan rudal dan drone telah berkurang drastis, dan pabrik senjata serta peluncur roket mereka telah hancur berkeping-keping, hanya sedikit yang tersisa,” tegas Donald Trump.
Perbedaan tajam antara klaim politik dan laporan intelijen ini kini menjadi sorotan, sekaligus memunculkan pertanyaan besar: seberapa kuat sebenarnya Iran saat ini, dan apakah konflik di kawasan masih berpotensi memanas? (*)




