Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan terjun langsung melakukan monitoring kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Desa Sekodi, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis. Selain melakukan pemantauan, kehadiran Kapolda bertujuan untuk memberikan dukungan moril kepada tim gabungan yang tengah berjibaku memadamkan api.
Kapolda Irjen Herry Heryawan turun ke lokasi pada Jumat (3/4/2026) siang tadi. Ia hadir bersama Guru Besar IPB University bidang perlindungan hutan, Prof Bambang Hero Suharjo, dan Kapolres Bengkalis AKBP Fahrian Saleh Siregar.
Kegiatan ini menjadi bagian dari langkah terpadu dalam mengantisipasi meningkatnya potensi karhutla di Riau, seiring prediksi menguatnya fenomena El Nino pada 2026 yang berpotensi memperparah kondisi kekeringan. Kehadiran Prof Bambang Hero Suharjo turut memperkuat aspek ilmiah dalam penanganan karhutla.
Saat ini, tim gabungan dari unsur BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, relawan, dan Masyarakat Peduli Api (MPA) tengah berupaya melakukan pemadaman. Jenderal bintang dua itu menegaskan bahwa penanganan karhutla tidak bisa dilakukan secara parsial, tetapi memerlukan upaya kolaborasi lintas sektoral.
"Kami hadir di sini untuk memberikan motivasi, dukungan moril dan memastikan bahwa upaya pemadaman dilakukan secara maksimal. Ini tidak bisa dikerjakan sendiri-sendiri, tetapi harus kolaboratif melibatkan semua pihak," ujar Irjen Herry.
Upaya kolaborasi dan langkah strategis yang dilakukan saat ini adalah untuk menemukan dan memutus titik api sedini mungkin agar kebakaran tidak meluas, terutama menjelang puncak musim kemarau. Ia juga turut mengingatkan ancaman Super El Nino yang berpotensi menimbulkan karhutla dahsyat seperti pada tahun 1997-1998.
"Lebih baik bekerja keras sekarang sebelum memasuki puncak kemarau, daripada nanti memadamkan dalam kondisi yang jauh lebih besar dan sulit," tegasnya.
Selain upaya pemadaman, Kapolda Riau juga terus berkomitmen melakukan penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan. Sepanjang 2025, Polda Riau dan jajaran telah menangani 74 kasus karhutla dan menangkap 74 tersangka.
"Penegakan hukum harus tegas dan berkeadilan. Tidak boleh ada toleransi bagi pelaku pembakaran, baik yang disengaja maupun yang berlindung di balik alasan kelalaian," tegasnya.
Di sisi lain, langkah pencegahan juga dilakukan Polda Riau bersama stakeholder dengan memberikan edukasi kepada masyarakat. Polda Riau dan Pemda juga telah memasang ratusan papan imbauan (plang) peringatan ancaman pidana bagi pelaku pembakaran, sekaligus larangan pemanfaatan lahan bekas terbakar untuk kegiatan perkebunan.
"Kami ingin ada efek jera. Lahan yang sudah terbakar tidak boleh dimanfaatkan kembali, termasuk untuk penanaman sawit. Ini bagian dari upaya moratorium agar kejadian serupa tidak terulang," tambahnya.
Ancaman Super El NinoPada kesempatan yang sama, Prof Bambang Hero Saharjo, mengingatkan bahwa situasi tahun ini memerlukan perhatian ekstra serius dan langkah proaktif sebelum kabut asap mengepung wilayah nusantara.
Istilah 'Super El Nino' merujuk pada fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis yang mencapai setidaknya 2,7°C di atas rata-rata. Dampaknya tidak main-main: pergeseran sirkulasi atmosfer global yang memicu cuaca ekstrem.
"Dengan kondisi 2,7°C ini, ini persis kejadiannya seperti kejadian kebakaran 1997-1998, di mana lahan yang terbakar 10-11 juta hektare dan yang meninggal itu 500 jiwa," kata Bambang.
Bambang kemudian menyinggung program Green Policing yang diinisiasi oleh Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan. Menurutnya, langkah strategis Polda Riau dalam aksi masif penanaman pohon dapat mencegah terjadinya karhutla yang lebih buruk.
"Polda Riau sudah melakukan Green Policing, penanaman pohon dan sebagainya. Karena apa, kebakaran yang terjadi ini harus diimbangi juga dengan penanaman pohon. Kalau ini tidak dilakukan, maka emisi yang sudah kita hitung itu harus direvisi lagi," katanya.
"Karena emisi gas rumah kaca yang kita lepaskan itu harus dikendalikan dengan penanaman dan Kapolda Riau telah melakukan itu, meskipun kelihatannya 'main-main' tanam...tanam...tanam, tetapi kalau kita lihat secara scientific, itulah cara untuk menekan emisi gas rumah kaca," katanya.
(mea/dhn)




