Penulis: Syifa
TVRINews, Banjarmasin
Proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang diinisiasi oleh pemerintah pusat mulai diterapkan di Kota Banjarmasin sebagai salah satu kota percontohan. Dalam pelaksanaannya, Pemerintah Kota Banjarmasin menggandeng Kabupaten Banjar dan Kabupaten Barito Kuala untuk memenuhi kebutuhan suplai sampah pada Jumat, 3 April 2026.
Setiap hari, operasional minimum PSEL membutuhkan setidaknya 500 ton sampah. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarmasin, Ichrom Muftezar, menyatakan bahwa pemerintah kota telah siap menyediakan lahan untuk mendukung pelaksanaan program strategis tersebut, yakni di TPAS Basirih serta lahan di sekitar Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum.
Ia menambahkan bahwa kondisi geografis Banjarmasin dinilai menjadi keunggulan tersendiri karena letaknya yang dekat dengan aliran sungai, sehingga sangat mendukung proses distribusi serta manajemen pengelolaan sampah.
“Bagaimana arahan Pak Wali Kota, kita berharap Basirih itu bisa ditentukan untuk lokasi pembangunan PSEL, dan Kabupaten Batola serta Kabupaten Banjar itu memberikan dukungan untuk pengiriman sampah ke sini, karena sampah kita timbulannya itu sekitar 491 ton per harinya, tapi karena kita sudah bisa mengolah sampah kurang lebih sekitar 21,36 persen atau sekitar 70–80 ton, sehingga masih ada kekurangan sampah," ucap Ichrom Muftezar, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarmasin.
Seiring dengan persiapan pelaksanaan PSEL, Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarmasin juga terus memperkuat sosialisasi pemilahan dan pengolahan sampah secara mandiri kepada masyarakat. Edukasi ini menyasar berbagai lapisan, mulai dari lingkup rumah tangga, sekolah, hingga perkantoran, guna mendukung keberhasilan program pengolahan sampah secara berkelanjutan di masa depan.
Editor: Redaktur TVRINews





