Paradoks Pekerja Indonesia: Stres, Lelah, Tetapi Bahagia

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Fantastis, 82% pekerja Indonesia bahagia di tempat kerja. Tepatnya, 37% merasa sangat bahagia, 45% merasa cukup bahagia. Ini terjadi di semua generasi, tetapi persentase tertinggi tidak bahagia adalah generasi Z. Demikian temuan utama dalam Indeks Kebahagiaan di Tempat Kerja yang dilakukan oleh platform ketenagakerjaan Jobstreet by SEEK.

Ini adalah hasil survei secara daring selama Oktober-November 2025 dengan sekitar 1.000 responden berusia 18-64 tahun yang aktif di pasar ketenagakerjaan. Dibandingkan tujuh negara Asia-Pasifik lainnya yang juga disurvei, Indonesia menempati peringkat pertama. Di urutan kedua adalah Filipina yakni sebanyak 77% dari pekerja yang disurvei, dan yang paling buncit adalah Hong Kong (47%).

Namun demikian, survei tersebut juga menemukan bahwa hanya 44% pekerja Indonesia tidak merasa terganggu oleh level stres mereka. Sedangkan yang merasa lelah (burnout) mencapai 54%. Bahkan, 40% dari pekerja yang termasuk dalam kategori menjawab bahagia pun merasakan burnout dengan pekerjaannya. Jadi ada paradoks di sini. Pekerja Indonesia banyak yang bahagia, tetapi tidak sedikit yang sekaligus merasa stres dan lelah.

Ongkos dari Paradoks

Tentu, paradoks ini membawa konsekuensi. Pekerja yang tidak bahagia di tempat kerja akan sulit untuk berkontribusi optimal bagi tempat kerjanya. Dalam bahasa yang lebih teknis, produktivitasnya cenderung tertahan dan sulit untuk meningkat. Yang mengaku bahagia tetapi sekaligus mengalami stres dan lelah juga akan menghadapi persoalan serupa. Sulit untuk berharap terlalu banyak pada pekerja dengan ciri-ciri seperti ini untuk mempunyai inisiatif yang kuat di tempat kerja. Yang diyakini akan lebih tampak adalah pasif dan lamban dalam merespons, terutama terhadap hal-hal yang di luar tugas pokoknya. Ringkasnya, yang menguat adalah "prinsip minimalis".

Produktivitas yang stagnan, inisiatif yang minim misalnya, pastilah menimbulkan ongkos ekonomi baik pada level perusahaan atau tempat kerja, ataupun akumulasinya sampai level agregat. Bahkan, riset Gallup State of the Global Workplace 2025 menyebutkan keterlibatan (engagement) pekerja tahun 2024 turun dua poin dari 23% menjadi 21%, dengan akibat ekonomi global merugi hingga US$438 miliar sebagai implikasi hilangnya produktivitas.

Kabar baiknya, jika seluruh pekerja dunia terlibat sepenuhnya, ekonomi global dimungkinkan untuk memperoleh tambahan produktivitas sebesar US$9,6 triliun, atau setara dengan kenaikan 9% pada Produk Domestik Bruto (PDB) global. Namun untuk mencapai ini ada syaratnya, yakni keterlibatan manajer atau pimpinan. Ini menjadi kunci untuk membalikkan penurunan produktivitas, memperbaiki kesejahteraan pekerja, serta membuka potensi ekonomi triliunan dolar tersebut.

Lalu Bagaimana?

Di satu sisi, mungkin masih pantas untuk menyatakan bahwa pekerja Indonesia memiliki resiliensi yang tinggi. Ada stres, lelah tapi juga masih merasa bahagia. Ini bisa dianggap sebagai modal yang baik. Tetapi jelas tidak bisa dibiarkan terus demikian, karena produktivitas menjadi taruhannya.

Banyak hal yang harus dilakukan, tetapi salah satu yang penting adalah peran para manajer atau pimpinan perusahaan atau organisasi di mana para pekerja yang bahagia-stres-lelah itu berada. Karena produktivitas ekonomi nasional adalah akumulasi dari produktivitas pada level-level di bawahnya, sudah tentu yang harus menyadari dan merespons situasi ini termasuk juga pimpinan pada level negara.

Persoalan ini harusnya menjadi isu yang strategis secara nasional. Bukan cuma menggelorakan obsesi mengejar angka pertumbuhan, tetapi juga menimbang kesejahteraan mental pada pekerja secara keseluruhan. Dalam wujud kebijakan, ini termasuk juga mengarah kepada regulasi keseimbangan kerja yang lebih manusiawi.

Pekerja yang bahagia, tidak stres dan tidak lelah berpotensi untuk membuat ekonomi nasional yang sehat dan tumbuh, asal "diterapi" dengan benar dan sinergis antara negara, dunia usaha, dan semua organisasi, tidak terkecuali di pemerintahan. Tetapi juga dengan harus selalu mengingat bahwa pekerja juga berhak atas kesejahteraan ekonomi yang ikut mereka tumbuhkan.

Jangan sampai obsesi pimpinan pada target maupun kendali manajerial, hanya berujung pada pingsannya para pekerja secara massal, bukan karena terlalu bersemangat bekerja tetapi justru karena sistem yang ada tidak cukup peduli terhadap mereka.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menhan AS Minta Kepala Staf Angkatan Darat Segera Mundur
• 15 jam laludetik.com
thumb
Tinggalkan BBM! Yadea Osta Hadir dengan Jarak 150 Km, Harga Rp19 Jutaan
• 6 jam laluviva.co.id
thumb
Koper Haji 2026 Mulai Didistribusikan, Calon Jemaah di Surabaya Bersiap Berangkat ke Tanah Suci
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
Pemerintah Pastikan Pemulangan Jenazah 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Arema FC Bidik Kemenangan atas Malut United Meski Dihantam Absensi Pemain Inti
• 17 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.