TANGERANG, KOMPAS.com - Pekerja migran Indonesia (PMI) dikirim ke Jepang bukanlah proses yang singkat.
Pasalnya mereka harus melewati tahap demi tahap hingga akhirnya terpilih untuk bekerja di Jepang.
Tahapan yang mereka lewati, yakni mulai dari seleksi ketat hingga pelatihan berbulan-bulan sebelum akhirnya dinyatakan lolos dan tinggal menunggu keberangkatan.
Salah satunya adalah Obet (25), PMI asal Cirebon. Ia mengikuti program kerja ke Jepang melalui kerja sama pemerintah daerah dengan lembaga pelatihan.
Baca juga: 200 PMI Diberangkatkan ke Jepang, Kontrak Kerja hingga 5 Tahun
Menurut dia, proses yang dijalani selama enam bulan, mulai dari pelatihan dasar hingga pemantapan bahasa.
“Prosesnya tiga bulan untuk belajar basic dasar, lalu tiga bulan pemantapan bahasa pra-keberangkatan,” ujar Obet saat ditemui Kompas.com di Bandara Soekarno-Hatta, Jumat (3/4/2026).
Selama proses seleksi, Obet mengatakan dirinya sempat khawatir lantaran takut akan penipuan, seperti yang marak terjadi.
Namun, karena minatnya untuk bisa datang ke Negeri Sakura sangat besar, maka ia mencari tahu informasi loker tersebut.
"Saya dapat info dari media sosial dan informasi dari keluarga juga. Kalau penipuan pasti ada kekhawatiran, tapi karena ini dari Disnaker dan didukung pemerintah, jadi lebih yakin,” kata dia.
Kini, Obet telah mendapatkan perusahaan di sektor pengolahan makanan dan tinggal menunggu jadwal keberangkatan.
Ia dijadwalkan akan berangkat ke Jepang pada bulan depan, Mei 2026.
“Sudah dapat perusahaan. Insyaallah kalau tidak bulan ini, bulan depan. Tinggal menunggu tiket saja,” imbuh dia.
Baca juga: Cak Imin Sebut Jepang Jadi Prioritas Penempatan PMI
Soal penghasilan, Obet menyebutkan sistem penggajian di Jepang umumnya dihitung per jam, dengan akumulasi bulanan berkisar antara Rp 12 juta hingga Rp 20 juta, tergantung perusahaan.
Namun, terlepas dari penghasilan tersebut, ia berharap pengalaman bekerja di Jepang dapat meningkatkan kemampuan dan menjadi bekal saat kembali ke Indonesia.