Semua Mata Menyorot Amerika, Gonjang-ganjing di Balik Piala Dunia 2026

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Kurang dari 100 hari, Piala Dunia 2026 akan segera dimulai. Perhelatan besar yang dinantikan masyarakat dunia itu akan berlangsung pada 11 Juni 2026 hingga 19 Juli 2026. Ajang persahabatan dan perdamaian itu telah lama dinantikan.

Kali ini, tuan rumah berasal dari tiga negara di Amerika Utara, yakni Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat (AS). Pertandingan-pertandingan itu akan dilaksanakan di 16 kota. Dengan luasnya cakupan pelaksanaan Piala Dunia yang diadakan tiap empat tahun ini tentu akan menarik banyak wisatawan dari berbagai belahan dunia.

Mega turnamen sepak bola ini diperkirakan bakal menarik sekitar 1,2 juta pengunjung internasional. Beberapa di antaranya meliputi para penonton dan pendamping-pendampingnya yang tak bertiket, perwakilan tim nasional, serta panitia pertandingan, seperti dikuti Tourism Economics dalam CBS News.

Baca JugaAncaman Trump Mengacaukan Rencana Berwisata

Kick off Piala Dunia 2026 akan jatuh pada 12 Juni 2026 di Los Angeles. Sebanyak 78 pertandingan akan tersebar di 11 kota di AS, dengan tambahan 26 permainan juga akan berlangsung di Meksiko dan Kanada. Laga final akan dilaksanakan di MetLife Stadium di East Rutherford, New Jersey pada 19 Juli 2026.

Acara pamungkas yang dinanti-nanti warga dunia ini bakal menguntungkan para tuan rumah, khususnya AS yang mengalami kemerosotan jumlah kunjungan pada 2025. Tahun lalu, jumlah kunjungan internasional turun 6,3 persen. Namun, jumlahnya diproyeksikan tumbuh 3,7 persen pada tahun ini, sebagian digerakkan Piala Dunia.

Dalam laporan FIFA, sekitar 6,5 juta orang diperkirakan hadir ke Piala Dunia 2026. Pengeluaran berkaitan dengan turnamen diproyeksikan mencapai 13,9 miliar dolar AS yang setara Rp 236,5 triliun dengan kurs Rp 17.015 per dolar AS. Hal itu meliputi penanaman modal, biaya tuan rumah, anggaran FIFA, dan perkiraan pengeluaran turis.

“Dampak global secara ekonomi dan sosial. Untuk ekonomi, dampak finansial langsung dan tidak langsung didapat dari pariwisata dan pengeluaran berkaitan dengan acara. Untuk sosial, nilai moneter dari kontribusi nonfinansial, termasuk hal menguntungkan dan merugikan,” demikian tertulis dalam laporan.

Pemasukan kotor yang disebut sebagai dampak ekonomi utama diperkirakan mencetak 80,1 miliar dolar AS atau Rp 1.362,9 triliun. Piala Dunia 2026 ini akan mencetak pertumbuhan ekonomi (GDP) hingga 40,9 miliar, setara Rp 695,9 triliun.

“Proyeksi pariwisata dalam Piala Dunia 2026 begitu menjanjikan. Gelombang pengunjung akan menghasilkan miliaran dolar AS dalam aktivitas ekonomi, menguntungkan bidang pelayanan, transportasi, dan sektor retail,” seperti tertulis dalam laporan FIFA.

Dari helatan besar ini, 62 persen keuntungan disumbang sektor pariwisata. Keuntungan lain merupakan kontribusi dari aspek olahraga (32 persen) dan hiburan (6 persen).

Batu sandungan

Melansir Forbes, Presiden FIFA Gianni Infantino mengatakan berulangkali bahwa tiket Piala Dunia cepat terjual habis. Permintaan terus bertambah dari jumlah tiket yang ditawarkan. Namun, pernyataan itu dibantah dengan kemungkinan-kemungkinan lain, mempertimbangkan sederet dinamika yang terjadi.

“Mereka menjual tiket-tiket lebih awal bagi pelanggan domestik. Hal ini meninggalkan pertanyaan besar mengenai pengunjung internasional. Aspek ini penting dipikirkan karena tiap pengunjung internasional menghabiskan sekitar empat kali lipat dibandingkan pengeluaran perorangan turis AS,” ujar Profesor di University of Central Florida’s Rosen College of Hospitality Management, Alan Fyall.

Baca JugaKota Besar di Asia, Turki, dan Amerika Serikat Jadi Incaran Wisatawan

Saat bersamaan, Departemen Luar Negeri memiliki sistem prioritas untuk mempercepat aplikasi visa bagi para penggemar sepak bola yang telah mengantongi tiket. Kondisi ini tentu berpotensi menomorduakan banyaknya permohonan visa para pengunjung internasional, apalagi visa AS terkenal panjang dan rumit.

Secara histori, banyak penggemar sepak bola tanpa tiket tetap pergi ke tuan rumah Piala Dunia. Upaya ini dilakukan demi menikmati festival penggemar sepak bola dan merasakan atmosfer kemenangan, ketika tim favoritnya menang pada babak-babak pertama.

“Saya akan terkejut jika ada lonjakan jumlah penggemar sepak bola dari luar negeri saat menit-menit terakhir. Tidak mudah untuk bisa ke lokasi turnamen pada saat-saat terakhir, apalagi dalam kondisi seperti sekarang ini,” tutur Fyall.

Kekhawatiran lain juga diutarakan CEO Asosiasi Perjalanan AS Geoff Freeman. Ia menekankan, Negara Paman Sam tersebut merupakan satu-satunya negara besar di dunia dengan penyusutan tren perjalanan pada 2025. Situasi itu menimbulkan tanda tanya apakah pemerintah akan bersikeras menetapkan kebijakan yang menekan pariwisata, seperti biaya visa baru.

Tiap pengunjung internasional dikenakan biaya 100 dolar AS atau Rp 1,7 juta untuk masuk taman nasional. Ada pula kebijakan Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS yang mengharuskan wisatawan internasional menunjukkan riwayat media sosialnya.

Isu-isu tadi belum mewakili seluruh masalah yang sebenarnya menghambat AS. Para pengunjung internasional juga ditekan dengan kebijakan-kebijakan rumit saat berhadapan dengan pihak imigrasi, diskriminasi terhadap paspor-paspor kelompok LGBTQ+, memperketat penjagaan batas antarnegara, serta diperlemah dengan fluktuasi mata uang, seperti tertulis dalam Euro News.

Baca JugaDibayangi Perang, Irak Akhiri Penantian 40 Tahun ke Piala Dunia

Pemerintah AS juga melarang perjalanan dari sejumlah negara, termasuk empat negara yang lolos kualifikasi Piala Dunia, yakni Iran, Senegal, Ivory Coast, dan Haiti. Pihaknya juga mengenakan “pungutan resmi” senilai 250 dolar AS atau sekitar Rp 4,3 juta untuk turis-turis non-imigran dan visa bisnis.

Dalam laporan firma analitik pelayanan, CoStar dan Tourism Economics, permintaan penginapan di AS selama Juni-Juli diperkirakan hanya tumbuh tipis. Peningkatan pendapatan per kamar yang tersedia (RevPAR) hanya tumbuh 1,7 persen secara tahunan. Angka itu sekitar seperempat dari peningkatan keseluruhan yang diterima AS saat terakhir menjadi tuan rumah Piala Dunia pada 1994.

Hingga awal Februari, menurut data Cirium, pemesanan tiket pesawat dengan tujuan kota-kota penyelenggara turnamen justru menyusut pada Juni mendatang. Tingkat pemesanan di Eropa turun 5 persen dibandingkan tahun lalu, begitu pula dari Asia yang mencatat penurunan 3,6 persen. Hanya Amerika Selatan yang menunjukkan kenaikan 0,2 persen.

Ketegangan Timur Tengah

Ketegangan yang memanas di Timur Tengah antara AS-Israel dan Iran, diperkirakan menurunkan animo penggemar sepak bola untuk menikmati turnamen secara langsung. Kondisi ini memperparah ragam skenario optimisme yang disusun.

Profesor di University of Central Florida’s Rosen College of Hospitality Management, Alan Fyall mengemukakan, momen perang Iran sungguh menantang bagi pariwisata. Ketidakpastian merupakan hal buruk bagi sektor tersebut. Pariwisata bergantung pada stabilitas dan keselamatan, seperti dikutip dari Forbes.

Baca JugaJaga Perbatasan, Tata Keseimbangan

Mengutip 7News, Juru Bicara Aplikasi Going Travel Katy Nastro mengatakan, dinamika perjalanan ke lokasi-lokasi tuan rumah Piala Dunia 2026 tampaknya tidak semenggairahkan yang dinanti.

“Piala Dunia ini, meskipun merupakan acara yang menggembirakan dan banyak negara menantikannya, tampaknya jumlah perjalanannya tidak seperti yang kami antisipasi. Jika tekanan ini makin bertambah, akan makin sulit bagi kota-kota tuan rumah untuk mengisi kursi-kursi yang telah disiapkan bagi para wisatawan mancanegara,” tutur Nastro.

Meski saat ini dinilai terlalu dini untuk melihat seberapa besar dampaknya, tetapi para pelaku industri telah bersiap. Maskapai-maskapai telah menambah jumlah penerbangan. Banyak hotel telah menyiapkan diri akan hadirnya kerumunan, serta pelaku usaha transportasi sudah bersigap untuk menyambut penggemar. 

Ketegangan geopolitik dan kondisi internal AS memang bakal berpengaruh pada animo masyarakat menikmati Piala Dunia 2026. Jika situasi tidak segera membaik, maka skenario optimisme berisiko jadi isapan jempol belaka.

Bukan tidak mungkin, segala upaya yang disiapkan sejak jauh hari tidak berjalan optimal karena kurangnya kerendahan hati untuk menyambut dan memeriahkan Piala Dunia 2026. Ajang sepak bola semestinya menyatukan semua orang sekaligus momentum ajang persatuan dan perdamaian.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Heboh Emas 30.000 Ton Ditemukan di Banten, Dirampok Asing
• 21 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Hukum Islam Itu Sulit, atau Kita yang Belum Memahaminya?
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Zendaya Ungkap Momen Merasa Yakin Tom Holland Adalah Pria yang Tepat
• 19 jam lalukumparan.com
thumb
Tabrakan Truk Vs Motor di Kalideres Jakbar, Satu Orang Tewas
• 20 jam laludetik.com
thumb
Pemkot Jaktim prioritaskan kesehatan siswa korban keracunan MBG
• 1 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.