TABLOIDBINTANG.COM - Sosok Putri Diana kembali menjadi sorotan setelah baru-baru ini muncul dalam rekaman di balik layar saat berkunjung ke Angola beberapa bulan sebelum wafat.
Rekaman yang ditayangkan oleh ITV News ini menghadirkan sisi pribadi Diana yang jarang terlihat publik. Dalam perjalanan tersebut, Diana—yang saat itu berusia 36 tahun sebelum meninggal dalam kecelakaan mobil di Paris—mengunjungi Angola pada Januari 1997 untuk mendukung kampanye pelarangan ranjau darat secara global. Kunjungan itu sempat menuai kritik politik di Inggris.
Dalam cuplikan terbaru, Diana tampak berbincang dengan jurnalis, termasuk Steve Scott yang saat itu menjabat sebagai koresponden Afrika.
Selama kunjungan, Diana berjalan melintasi ladang ranjau aktif dengan mengenakan perlengkapan pelindung, serta bertemu para korban ranjau darat, termasuk anak-anak yang kehilangan anggota tubuh. Momen tersebut kemudian menjadi salah satu aksi kemanusiaan paling ikonis dalam hidupnya, meski juga memicu perdebatan karena dianggap sejalan dengan kebijakan Partai Buruh yang saat itu dikritik pemerintah Konservatif.
Steve Scott mengenang percakapannya dengan Diana di dalam pesawat. Ia menyebut Diana lebih banyak berbicara tentang kedua putranya dan betapa ia merindukan mereka saat harus bepergian.
“Meski kampanye ini sangat penting baginya dan ia berniat melanjutkannya, prioritas utamanya tetap anak-anaknya,” ujar Scott.
Ia juga mengungkapkan kesedihannya setelah Diana wafat. Menurutnya, dunia kehilangan sosok yang berpotensi memberi dampak besar, sementara kedua putranya kehilangan figur ibu yang sangat mereka butuhkan dalam menjalani hidup.
Dalam rekaman arsip tersebut, Diana turut menanggapi kontroversi kunjungannya dengan mengatakan bahwa dirinya bukanlah figur politik.
“Saya melihatnya hanya sebagai gangguan. Saya bukan tokoh politik, saya adalah tokoh kemanusiaan,” ujarnya.
Rekaman ini merupakan bagian dari seri Reporting History milik ITV News yang tersedia di berbagai platform, termasuk ITVX.
Upaya Diana di Angola berperan besar dalam meningkatkan kesadaran global terhadap bahaya ranjau darat. Sejak saat itu, diperkirakan sekitar 100.000 ranjau telah berhasil dibersihkan dari negara tersebut.
Putranya, Prince Harry, Duke of Sussex, kembali mengunjungi lokasi yang sama pada 2019 dan hingga kini terus mendukung upaya pembersihan ranjau sebagai patron dari The HALO Trust.



