Kisah Menarik di Balik Pendirian Taman Margasatwa Ragunan, Dulu Milik Raden Saleh

idxchannel.com
5 jam lalu
Cover Berita

Sebelum pengelolaan diserahkan kepada Pemprov DKI Jakarta, Ragunan adalah taman margasatwa milik Raden Saleh.

Kisah Menarik di Balik Pendirian Taman Margasatwa Ragunan, Dulu Milik Raden Saleh. (Foto: MNC Media)

IDXChannel—Taman Margasatwa Ragunan menyimpan kisah masa lalu yang menarik. Cikal bakal kebun binatang tertua di Indonesia ini berawal dari lahan pribadi milik pelukis ternama, Raden Saleh. 

Humas Ragunan, Bambang Wahyudi, mengungkapkan bahwa pada 1864, kebun binatang ini awalnya berdiri di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, dengan nama Planten en Dierentuin yang diambil dari bahasa Belanda. 

Baca Juga:
Pariwisata Tertekan Geopolitik, Menpar Ungkap Strategi Capai 17,6 Juta Wisman di 2026

“Itu milik bangsawan ternama Indonesia, Bapak Raden Saleh. Beliau pelukis naturalis yang sangat menyukai objek satwa. Motivasi beliau adalah menjadikan satwa-satwa tersebut sebagai objek lukisannya di rumah pribadinya,” kata Bambang kepada iNews Media Group (IMG), Jumat (3/4/2026). 

Saat itu, luas lahan peliharaan Raden Saleh hanya sekitar 10 hektar. Sang pelukis memelihara beberapa satwa kesayangannya, termasuk harimau yang sering menjadi objek dalam lukisan-lukisannya. 

Baca Juga:
Gandeng Qatar, Danantara  Investasi di Labuan Bajo Bangun Destinasi Pariwisata Super Prioritas

Lantaran banyaknya masyarakat yang ingin melihat, akhirnya area tersebut dibuka untuk umum dengan nama Taman Raden Saleh. 

Pada 1964, tepat 100 tahun setelah pendiriannya, pengelolaan diserahkan ke Pemprov DKI Jakarta dan lokasi dipindahkan ke Ragunan dengan lahan yang jauh lebih luas. 

Baca Juga:
Ragunan Padat di Libur Long Weekend, Siap Tambah Jadwal Nite Zoo Mulai Pekan Depan 

Kini, Ragunan telah berkembang dari 30 hektare menjadi 127 hektare dan menjadi kebun binatang terluas di Asia. 

Menariknya, Taman Margasatwa Ragunan masih menyimpan beberapa jenis koleksi satwa milik Raden Saleh. Bahkan, usia satwa-satwa itu disinyalir mencapai lebih dari 50 tahun. 

“Masih ada beberapa memori yang tersimpan dari Cikini. Seperti beruang Eropa itu masih hidup. Kemudian, gajah sumatera usianya sudah di atas 50 tahun. Ada juga simpanse,” ungkap Bambang.

Merujuk pada kondisi satwa tersebut yang sudah sangat tua, pengelola memutuskan untuk memberikan perawatan khusus kepada hewan-hewan ini sehingga tidak ditampilkan kepada publik.

“Kita masih merawat karena itu merupakan satu kenangan dari Cikini sampai sekarang,” jelasnya. 

Selain merawat satwa legendaris, pihak pengelola juga terus melakukan regenerasi. 

Terbaru, ada bayi orangutan berusia 3 bulan dan jenis primata gibon yang baru lahir di Pusat Primata Schmutzer, meskipun saat ini masih dalam proses karantina dan pengawasan ketat dari induknya.


(Nadya Kurnia)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jerman Minta Tiongkok Bujuk Iran Masuk Perundingan Damai dengan AS
• 19 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Rundown dan Panduan Masuk Konser aespa Jakarta 2026 di ICE BSD
• 8 jam lalumedcom.id
thumb
Perawat RSUD Takengon yang Viral Joget saat Operasi Pasien Dinonaktifkan
• 6 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Polisi Tetapkan Tiga Tersangka Penyiraman Air Keras di Tambun Bekasi
• 22 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Jalan Rasuna Said Arah Mampang Jaksel Terendam Banjir hingga 50 Cm
• 12 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.