JAKARTA, KOMPAS.TV - Ekonom Senior INDEF, Aviliani, mengingatkan bahwa dampak perang kali ini bisa jauh lebih luas dibanding konflik sebelumnya seperti Rusia-Ukraina.
Ia menjelaskan, jika sebelumnya dampak utama hanya pada energi dan gandum, kini gangguan bisa menjalar ke berbagai sektor ekonomi global.
Gangguan di jalur strategis seperti Selat Hormuz berpotensi menghambat distribusi barang, termasuk bahan bakar dan bahan baku industri.
Akibatnya, perusahaan bisa mengalami kesulitan pasokan dan terpaksa menurunkan produksi.
Dampak lanjutan dari kondisi ini adalah tekanan terhadap daya beli masyarakat. Di sisi lain, kenaikan harga juga tidak hanya terjadi pada BBM, tetapi merembet ke berbagai kebutuhan lain.
Aviliani juga menegaskan, masyarakat tidak boleh terlena dengan kebijakan subsidi. Sebab, ancaman juga datang dari sektor pangan, mengingat Indonesia masih bergantung pada impor.
Selain itu, sektor industri, terutama makanan dan minuman, juga berisiko terdampak akibat terganggunya pasokan bahan baku.
Aviliani mengingatkan pentingnya kesadaran publik agar meningkatkan kewaspadaan dalam situasi ini.
Meski demikian, masyarakat juga diimbau untuk tidak melakukan panic buying. Kunci utama adalah tetap tenang, namun mulai mengatur pengeluaran secara bijak.
Bagaimana menurut Anda?
Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/9DI00APczvU
#iran #USA #indonesia
Penulis : Elisabeth-Widya-Suharini
Sumber : Kompas TV
- perang
- iran
- usa
- israel
- indonesia
- ekonomi





