Jakarta (ANTARA) - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI menekankan kolaborasi dengan Kepolisian Makau (MJP), China merupakan langkah krusial dalam menggencarkan langkah kontraterorisme.
Dalam pertemuan dengan Kepolisian Makau di Sentul, Jawa Barat, Rabu (1/4), Direktur Kerja sama Bilateral BNPT RI Brigadir Jenderal Polisi Dhani Hernando mengatakan kerja sama keduanya bukan sekadar formalitas diplomatik, melainkan untuk membina rasa saling percaya (mutual trust) dalam koordinasi berkelanjutan di bidang kontraterorisme.
"Pertemuan pertama ini merupakan dasar strategis untuk membina saling percaya, memperdalam pemahaman kelembagaan, dan mengembangkan kerangka kerja yang berkelanjutan untuk koordinasi antara lembaga," ujar Brigjen Pol. Dhani, seperti dikutip dari keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu.
Adapun BNPT RI memperkuat kerja sama internasional melalui pertemuan perdana dengan Kepolisian Makau. Pertemuan strategis itu fokus pada perlindungan warga negara Indonesia (WNI) di luar negeri dan berbagi praktik baik.
Tercatat, sekitar 8 ribu WNI tinggal dan bekerja di Makau. Untuk itu, kehadiran Indonesia sangat dibutuhkan dalam menjaga keselamatan publik serta memitigasi potensi risiko ekstremisme.
Dia menilai kunjungan tersebut memiliki makna khusus karena menandai pertemuan perdana antara kedua lembaga untuk memperkuat dialog dan kerja sama yang lebih erat di bidang kontra terorisme, terutama dalam konteks perlindungan warga negara dan berbagi praktik terbaik.
Sementara itu, Ketua Delegasi Makau sekaligus Deputy Director MJP Lai Man Vai menyampaikan apresiasi mendalam atas sambutan pihak Indonesia.
Dirinya menegaskan meskipun terdapat perbedaan budaya dan struktur populasi, kedua pihak memiliki tujuan yang sama dalam melindungi warga negara.
"Kita memiliki perbedaan dalam budaya dan struktur populasi kita, tapi kita memiliki tujuan dan sasaran yang sama, yaitu melindungi warga negara kita," ucap Lai Man Vai dalam kesempatan yang sama.
Maka dari itu, dirinya berharap mulai saat ini Indonesia dan Makau dapat mengejar tujuan yang sama serta bekerja sama secara erat.
Pertemuan juga membahas potensi kerja sama lainnya, seperti upaya pencegahan radikalisasi dan ekstremisme kekerasan, pembangunan kapasitas hingga pelatihan.
Kunjungan delegasi ditutup dengan melihat secara langsung upaya deradikalisasi di Lapas Kelas II B Sentul guna memperlihatkan pendekatan Indonesia yang menekankan pada keseimbangan antara langkah keamanan dengan program rehabilitasi serta reintegrasi.
Baca juga: Legislator desak Komnas HAM investigasi kasus penyiraman air keras aktivis
Baca juga: Membersihkan cemong di muka pendataan bansos nasional
Dalam pertemuan dengan Kepolisian Makau di Sentul, Jawa Barat, Rabu (1/4), Direktur Kerja sama Bilateral BNPT RI Brigadir Jenderal Polisi Dhani Hernando mengatakan kerja sama keduanya bukan sekadar formalitas diplomatik, melainkan untuk membina rasa saling percaya (mutual trust) dalam koordinasi berkelanjutan di bidang kontraterorisme.
"Pertemuan pertama ini merupakan dasar strategis untuk membina saling percaya, memperdalam pemahaman kelembagaan, dan mengembangkan kerangka kerja yang berkelanjutan untuk koordinasi antara lembaga," ujar Brigjen Pol. Dhani, seperti dikutip dari keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu.
Adapun BNPT RI memperkuat kerja sama internasional melalui pertemuan perdana dengan Kepolisian Makau. Pertemuan strategis itu fokus pada perlindungan warga negara Indonesia (WNI) di luar negeri dan berbagi praktik baik.
Tercatat, sekitar 8 ribu WNI tinggal dan bekerja di Makau. Untuk itu, kehadiran Indonesia sangat dibutuhkan dalam menjaga keselamatan publik serta memitigasi potensi risiko ekstremisme.
Dia menilai kunjungan tersebut memiliki makna khusus karena menandai pertemuan perdana antara kedua lembaga untuk memperkuat dialog dan kerja sama yang lebih erat di bidang kontra terorisme, terutama dalam konteks perlindungan warga negara dan berbagi praktik terbaik.
Sementara itu, Ketua Delegasi Makau sekaligus Deputy Director MJP Lai Man Vai menyampaikan apresiasi mendalam atas sambutan pihak Indonesia.
Dirinya menegaskan meskipun terdapat perbedaan budaya dan struktur populasi, kedua pihak memiliki tujuan yang sama dalam melindungi warga negara.
"Kita memiliki perbedaan dalam budaya dan struktur populasi kita, tapi kita memiliki tujuan dan sasaran yang sama, yaitu melindungi warga negara kita," ucap Lai Man Vai dalam kesempatan yang sama.
Maka dari itu, dirinya berharap mulai saat ini Indonesia dan Makau dapat mengejar tujuan yang sama serta bekerja sama secara erat.
Pertemuan juga membahas potensi kerja sama lainnya, seperti upaya pencegahan radikalisasi dan ekstremisme kekerasan, pembangunan kapasitas hingga pelatihan.
Kunjungan delegasi ditutup dengan melihat secara langsung upaya deradikalisasi di Lapas Kelas II B Sentul guna memperlihatkan pendekatan Indonesia yang menekankan pada keseimbangan antara langkah keamanan dengan program rehabilitasi serta reintegrasi.
Baca juga: Legislator desak Komnas HAM investigasi kasus penyiraman air keras aktivis
Baca juga: Membersihkan cemong di muka pendataan bansos nasional





