Efek ‘Earworm’ hingga FOMO di Balik Ramainya Burger Aldi Taher

kompas.com
4 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Fenomena antrean panjang di gerai Aldi’s Burger di Cempaka Putih, Jakarta Pusat, bukan sekadar soal rasa burger.

Dari perspektif psikologi, perilaku konsumen yang rela berdiri berjam-jam hingga panas terik matahari dipicu oleh kombinasi strategi komunikasi, efek psikologis, dan interaksi sosial yang terjadi di media sosial.

Berbeda dari tren kuliner artis lainnya, viralitas Aldi’s Burger muncul tanpa strategi pemasaran besar sejak awal.

Pendekatan unik ini memunculkan perbincangan yang masif, membangkitkan rasa penasaran, dan akhirnya mendorong konsumen untuk datang langsung ke gerai.

Baca juga: Burger Aldi Taher Juicy Lucy Mahalini…: Gimik Receh atau Strategi Jenius?

Menurut Ratih Ibrahim, Psikolog Klinis Senior sekaligus Direktur Personal Growth dan Tim Ahli Kelompok Kerja Kesehatan Jiwa Kementrian Kesehatan RI, konten promosi Aldi’s Burger yang unik, repetitif, dan kadang absurd memiliki mekanisme psikologis yang jelas.

“Konten yang beda, sebeda-bedanya, termasuk yang memberi kesan ‘absurd’ dan original, apalagi dilakukan secara intens dan konsisten, cenderung lebih menarik perhatian dan mudah diingat,” ujar Ratih saat dihubungi Kompas.com, Kamis (2/4/2026).

KOMPAS.com/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Tumpukan kotak kemasan kuning ikonik Big Brother Burger siap diantarkan kepada pelanggan Aldi?s Burger, Kamis (2/4/2026).

Repetisi yang konsisten memperkuat jejak memori di otak, sementara keunikan konten membuatnya ‘menempel’ lebih kuat.

Ketika dikaitkan dengan momen perayaan atau kultur populer, efeknya menjadi semakin optimal.

Fenomena ini mirip dengan earworm, di mana informasi terus terulang di pikiran audiens tanpa disadari.

“Secara psikologis, respons audiens bisa bervariasi. Awalnya konten menarik perhatian dan memberi hiburan, lalu bisa berkembang menjadi ketertarikan terhadap produk. Tapi seringkali efeknya tetap di level hiburan dan ingatan,” jelas Ratih.

Baca juga: Demi Kebagian Aldi’s Burger, Pembeli Antre dari Pagi hingga Terik Matahari, Ini Cerita di Baliknya

Ia menambahkan, viralitas konten juga memicu perilaku kolektif, seperti ikut-ikutan membuat atau menyebarkan konten serupa karena dorongan sosial dan rasa ingin menjadi bagian dari tren.

“Ketika konten mudah diingat, sering muncul, dan terlihat banyak diikuti orang lain, individu terdorong meniru sebagai bentuk partisipasi atau hiburan. Efek FOMO (Fear of Missing Out) juga muncul karena persepsi bahwa ini sedang tren,” ujar Ratih.

Strategi ‘Guerilla Marketing’ Digital

Dari perspektif media sosial dan algoritma, viralitas Aldi’s Burger juga dijelaskan oleh Ismail Fahmi, pakar teknologi informasi sekaligus Founder Drone Emprit, Jumat (3/4/2026).

Menurut Ismail, ada tiga faktor utama yang bekerja simultan: repetisi, absurditas, dan traffic hijacking.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Pesan “rotinya lembut, dagingnya Juicy Lucy, Mahalini, Rizky Febian bisa pesen online” muncul berulang kali di kolom komentar Threads dan X.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dihantui Tren Buruk di Kandang Jelang Laga Kontra Persis, PSM Malah Ditinggal Pelatih Kepalanya
• 11 jam lalubola.com
thumb
Hasil Final Four Proliga 2026: Gresik Phonska Plus Indonesia Bungkam Sang Juara Putaran Kedua Tiga Set Langsung
• 22 jam lalutvonenews.com
thumb
Lagi Tiga Pasukan UNIFIL Asal RI Jadi Korban Serangan di Lebanon, Dua Luka Serius
• 17 jam laluviva.co.id
thumb
Berubah Sikap Trump soal Iran Bikin Putin Siap Turun Tangan
• 13 jam laludetik.com
thumb
KAI Tembus 5 Juta Penumpang Selama Mudik Lebaran 2026
• 8 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.