FAJAR, MAKASSAR –Di balik susunan pemain yang tampak konvensional, PSM Makassar diam-diam menyimpan lapisan strategi yang lebih dalam saat menjamu Persis Solo. Rotasi yang dilakukan bukan sekadar perubahan nama di atas kertas, melainkan bagian dari skenario yang disusun untuk menjaga ritme sekaligus memberi kejutan di momen yang tepat.
Keputusan menempatkan Alex Tanque di bangku cadangan menjadi salah satu sinyal paling jelas. Sebagai penyerang utama, absennya sejak awal laga membuka ruang bagi pendekatan berbeda. Jacques Medina dipercaya mengisi lini depan sejak menit pertama—pilihan yang mengindikasikan kebutuhan akan mobilitas dan variasi serangan di fase awal pertandingan.
Di bawah mistar, Hilman Syah kembali mendapat kepercayaan. Ia akan dilindungi oleh lini belakang yang relatif solid, dengan duet Yuran Fernandes dan Aloisio Neto sebagai poros utama. Di sisi sayap, Victor Luiz dan Daffa Salman memberi keseimbangan antara bertahan dan membantu serangan.
Namun, kunci permainan tampaknya tetap berada di lini tengah. Kombinasi Gledson Paixao dan Rifky Dwi Septiawan dipasang sebagai peredam agresivitas lawan. Keduanya akan bertugas memutus aliran bola, terutama untuk meredam pergerakan Dejan Tumbas yang tengah dalam performa menanjak.
Sementara itu, peran kreatif tetap dipegang Savio Roberto. Ia menjadi penghubung antara lini tengah dan depan, sosok yang diharapkan mampu membuka ruang di tengah rapatnya pertahanan Persis.
Di sisi lawan, Milomir Seslija tetap mengandalkan struktur 4-3-3 yang fleksibel. Nama-nama seperti Bruno Gomes, Dejan Tumbas, hingga Roman Paparyga menjadi ancaman nyata, terutama dalam transisi cepat dari bertahan ke menyerang.
Namun, cerita sebenarnya mungkin tidak dimulai dari sebelas pemain pertama.
Di bangku cadangan, PSM menyimpan dua kartu yang berpotensi mengubah jalannya pertandingan: Luca Cumic dan Dusan Lagator.
Cumic, yang disebut mendapat porsi latihan khusus untuk penyelesaian akhir, tampak dipersiapkan sebagai “senjata terlambat”. Ia bukan hanya opsi tambahan, tetapi bagian dari skenario—masuk di saat pertahanan lawan mulai kehilangan fokus. Dalam kondisi seperti itu, satu momen kecil bisa menjadi pembeda, dan Cumic disiapkan untuk memanfaatkan celah tersebut.
Sementara itu, Dusan Lagator menawarkan dimensi berbeda. Sebagai gelandang dengan pengalaman dan ketenangan, kehadirannya dari bangku cadangan bisa memberi stabilitas ketika pertandingan memasuki fase krusial. Ia adalah tipe pemain yang tidak selalu terlihat mencolok, tetapi mampu mengendalikan tempo saat permainan mulai liar.
Keputusan untuk tidak langsung memainkan keduanya sejak awal memperlihatkan pendekatan yang lebih strategis dari staf pelatih. PSM tidak hanya memikirkan bagaimana memulai pertandingan, tetapi juga bagaimana mengakhirinya.
Dalam sepak bola modern, kemenangan sering kali ditentukan oleh kedalaman skuad—oleh siapa yang bisa memberi dampak dari bangku cadangan, bukan hanya dari starting eleven. Dan dalam konteks ini, PSM tampaknya ingin memastikan bahwa mereka memiliki “lapisan kedua” yang sama berbahayanya.
Ketika peluit awal dibunyikan, perhatian mungkin tertuju pada pemain yang berada di lapangan. Namun seiring waktu berjalan, sorotan bisa saja bergeser ke pinggir lapangan—ke dua nama yang menunggu momen mereka.
Karena terkadang, kejutan terbesar bukan datang dari awal, melainkan dari keputusan yang diambil di tengah pertandingan.
Hilman Syah; Aloisio Soares Neto, Yuran Fernandes, Victor Luiz, Daffa Salman; Gledson Paixao, Savio Roberto, Rifky Dwi Septiawan; Dzaky Asraf, Jacques Medina Temopele, Rizky Eka Pratama
Pelatih: Ahmad Amiruddin
Persis Solo (4-3-3):
Muhamad Riyandi; Andrei Alba, Dodi Alekvan Djin, Kadek Raditya, Dusan Mijic; Dimitri Lima, Zanadin Fariz, Miroslav Maricic; Bruno Gomes, Dejan Tumbas, Roman Paparyga.
Pelatih: Milomir Seslija





