Pilihan kursi di pesawat bukan sekadar soal kenyamanan. Para psikolog mengungkap, preferensi duduk saat terbang ternyata dapat mencerminkan kepribadian seseorang, mulai dari tingkat kecemasan hingga kebutuhan akan kontrol.
Dilansir Huffpost, fenomena ini terlihat dari kebiasaan banyak penumpang yang sangat selektif dalam memilih kursi. Sebagian orang bahkan rela memantau peta kursi (seat map) secara berkala sebelum keberangkatan, demi mendapatkan posisi ideal baik itu kursi dekat jendela, lorong, atau baris tertentu.
Spesialis psikologi performa, Sam Wones, menjelaskan bahwa kebiasaan ini berkaitan dengan kebutuhan akan kontrol di situasi yang penuh ketidakpastian seperti perjalanan udara.
“Ritual seperti mengecek kursi berulang kali membantu mengurangi kecemasan terhadap hal yang tidak bisa diprediksi,” ujarnya.
Posisi Duduk Cerminan KarakterPilihan kursi juga disebut mencerminkan karakter dasar penumpang. Kursi dekat jendela, misalnya, cenderung dipilih oleh individu yang lebih introvert karena menawarkan privasi dan rasa aman. Sebaliknya, kursi lorong lebih disukai oleh mereka yang ekstrovert, karena memberi kemudahan bergerak dan berinteraksi.
Sementara itu, posisi kursi di bagian depan atau belakang pesawat juga memiliki makna tersendiri. Penumpang yang memilih bagian depan biasanya mengutamakan efisiensi atau ingin cepat turun dan menghindari keramaian. Di sisi lain, mereka yang duduk di belakang cenderung lebih santai dan tidak terburu-buru.
Kursi Tengah dan Rasa Percaya DiriKursi tengah yang sering dihindari banyak orang ternyata juga mengungkap aspek psikologis. Psikolog sosial Chris Lipp menyebut, individu yang percaya diri cenderung lebih toleran duduk di kursi tengah karena tidak terlalu terganggu dengan ruang personal yang terbatas.
Sebaliknya, penumpang yang lebih cemas biasanya akan menghindari kursi tersebut atau menjaga batas ruang dengan lebih ketat.
Tak sedikit penumpang yang memiliki kebiasaan unik, seperti hanya memilih nomor kursi tertentu atau posisi spesifik di pesawat. Ada yang percaya pada “angka keberuntungan”, hingga merasa tidak aman jika harus berpindah dari kursi pilihan awalnya.
Menurut Wones, kebiasaan ini terbentuk dari pengalaman sebelumnya yang dianggap nyaman, lalu secara tidak sadar menjadi pola tetap.
Secara umum, penumpang dapat dibagi menjadi dua tipe: perencana dan penikmat. Mereka yang teliti memilih kursi biasanya memiliki tingkat kesadaran tinggi dan cenderung ingin mengontrol situasi. Sementara itu, penumpang yang tidak terlalu memikirkan posisi duduk cenderung lebih fleksibel dan memiliki toleransi tinggi terhadap ketidakpastian.





