Petani Sayur Boyolali Temukan Harapan Baru Lewat MBG

tvrinews.com
2 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Redaksi TVRINews

TVRINews, Boyolali 

Aktivitas warga pada pagi hari di Dukuh Pasah, Desa Senden, Kecamatan Selo, Kab. Boyolali, selalu dimulai dengan kesibukan yang sama. Di antara embun yang masih menggantung di daun, Budi, seorang petani, mulai bekerja di kebunnya.

Barisan sayuran hijau tampak segar dan siap dipanen. Pakcoy tumbuh rapi, sementara tomat mulai berbuah. Brokoli dan wortel turut melengkapi ragam tanaman yang ia kelola.

Budi, seorang petani holtikultura

“Saya petani hortikultura, menanam berbagai jenis sayuran seperti pakcoy, tomat, brokoli, wortel, dan lainnya,” ujar Budi saat ditemui di kebunnya.

Selama ini, hasil panen Budi tidak langsung sampai ke konsumen. Ia bersama petani lain mengandalkan pengepul yang kemudian menyalurkan hasil tani ke pasar-pasar besar seperti Cepogo, Bandungan, hingga Sragen. Rantai distribusi tersebut telah berlangsung lama, dengan harga yang kerap tidak menentu. 

Namun, belakangan mulai ada perubahan yang dirasakan. Kehadiran program Makan Bergizi Gratis (MBG) membuka jalur distribusi baru yang lebih dekat dan lebih pasti. 

“Sejauh ini sudah ada kerja sama dengan MBG, tapi kapasitasnya masih terbatas,” kata Budi.

Saat ini, Budi baru menyuplai kebutuhan untuk satu dapur MBG, yakni Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Podo Moro di Gebyog. Meski skalanya masih kecil, dampaknya sudah mulai terasa.

Setiap hari, dapur tersebut membutuhkan sekitar 50 kilogram pakcoy, 30 kilogram tomat, dan 20 kilogram selada. Menariknya, pasokan tersebut kini dapat dipenuhi langsung dari petani.

Skema ini tidak hanya memangkas rantai distribusi, tetapi juga memberikan kepastian pasar bagi petani. Bagi Budi, hal ini bukan sekadar transaksi, melainkan tentang keberlanjutan usaha tani.

“Program MBG ini sangat membantu, karena harga sayuran bisa lebih baik dibandingkan sebelumnya,” ujarnya.

Harga yang lebih stabil memberi ruang bagi petani untuk berkembang. Pendapatan meningkat, dan hasil panen tidak lagi sepenuhnya bergantung pada fluktuasi pasar tradisional.

“Dari sisi ekonomi tentu menambah pendapatan kami sebagai petani. Selain itu, serapan komoditas di dukuh kami juga menjadi lebih beragam,” jelasnya.

Budi berharap program ini dapat terus diperluas. Saat ini, baru sebagian kecil hasil panen yang terserap oleh dapur MBG. Ke depan, ia berharap lebih banyak petani terlibat dan lebih banyak komoditas lokal yang dapat diserap.

“Program MBG ini sangat baik untuk dilanjutkan. Ke depan, mungkin bisa lebih dievaluasi agar kebutuhan dapur bisa semakin banyak menyerap produk kami. Ini sangat membantu,” ungkapnya.

Bagi Budi, MBG bukan sekadar program bantuan atau proyek pemerintah. Program ini menjadi jembatan yang menghubungkan ladang dengan dapur, petani dengan pasar, serta kerja keras dengan hasil yang lebih layak.

Di akhir perbincangan, ia menyampaikan harapan sederhana kepada Presiden Prabowo Subianto. “Terima kasih, Pak Prabowo Subianto. Semoga program MBG terus berlanjut. Panjang umur dan sehat selalu,” tutupnya.

Editor: Redaktur TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Film Horor “Songko” Angkat Urban Legend Asal Sulawesi
• 14 jam laluharianfajar
thumb
11 Wilayah di Tangsel Terendam Banjir Sabtu Malam, Ratusan Warga Terdampak
• 2 jam lalukompas.com
thumb
Manfaatkan Jeda F1 2026, Scuderia Ferrari Komitmen Kejar Ketertinggalan dari Mercedes
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
PSSI Pastikan Polemik Paspoortgate Pemain Timnas Indonesia Hanya Masalah Teknis Administrasi di Liga Belanda
• 11 jam lalutvonenews.com
thumb
Kumpulan Ucapan Sabtu Suci 2026 Penuh Makna dan Doa
• 10 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.