FAJAR, MAKASSAR — Hasil imbang 1-1 antara PSM Makassar dan Persis Solo di pekan ke-26 Super League Indonesia menyisakan satu pertanyaan besar: ke mana daya gedor lini depan Juku Eja?
Di Stadion Gelora B. J. Habibie, Sabtu sore itu, PSM sebenarnya memulai pertandingan dengan cukup menjanjikan. Gol pembuka dari Yuran Fernandes pada menit ke-18—hasil sundulan memanfaatkan sepak pojok Victor Luiz—memberi kesan bahwa tuan rumah akan mengontrol jalannya laga.
Namun, seperti yang berulang kali terjadi sepanjang musim, keunggulan itu tidak mampu dijaga hingga akhir. Ketika Roman Paparyga menyamakan kedudukan di babak kedua, bukan hanya skor yang berubah, tetapi juga arah permainan. PSM kehilangan momentum, sementara Persis justru menemukan kepercayaan diri.
Di titik inilah sorotan mengarah ke lini depan PSM—terutama pada dua nama yang diharapkan menjadi pembeda: Luka Cumic dan Alex Tanque.
Keduanya masuk dalam skenario sebagai “kartu mati”—opsi yang diharapkan mampu mengubah jalannya pertandingan. Namun, realitas di lapangan berkata lain. Cumic, yang sebelumnya digembleng khusus untuk meningkatkan penyelesaian akhir, gagal memaksimalkan peluang yang ia dapatkan. Sementara Alex Tanque, yang memulai laga dari bangku cadangan, tidak mampu memberi dampak signifikan saat dibutuhkan.
Masalahnya bukan sekadar soal peluang yang gagal dikonversi. Lebih dalam dari itu, PSM terlihat kesulitan menciptakan situasi yang benar-benar matang di sepertiga akhir lapangan. Kreativitas yang diharapkan dari Savio Roberto memang masih terlihat dalam distribusi bola, tetapi tanpa penyelesaian yang tajam, semua itu menjadi sia-sia.
Sebaliknya, Persis Solo menunjukkan efisiensi yang lebih baik. Dengan peluang yang tidak banyak, mereka mampu memaksimalkan satu momen melalui Paparyga. Ditambah dengan pergerakan Dejan Tumbas yang terus merepotkan lini tengah PSM, tim tamu berhasil menjaga tekanan hingga akhir laga.
Penampilan Muhammad Riyandi juga menjadi faktor penting. Ia beberapa kali menggagalkan peluang PSM, terutama dari situasi bola mati dan umpan silang. Ketangguhannya di bawah mistar membuat frustrasi para pemain depan tuan rumah semakin terlihat.
Situasi ini mempertegas satu persoalan yang belum terselesaikan di tubuh PSM musim ini: inkonsistensi lini serang. Ketika gol justru datang dari pemain belakang seperti Yuran Fernandes, itu menjadi indikasi bahwa distribusi gol tidak berjalan ideal.
Padahal, dalam pertandingan dengan intensitas tinggi seperti ini, keberadaan penyerang tajam menjadi kunci. Satu peluang, satu sentuhan, satu keputusan—semuanya bisa menjadi pembeda. Dan di sinilah PSM tertinggal.
Hasil imbang ini memang tidak mengubah posisi kedua tim secara signifikan di klasemen. PSM tetap di peringkat ke-13, sementara Persis berada di posisi ke-15. Namun, angka-angka itu tidak sepenuhnya menggambarkan masalah yang ada.
PSM tidak kekurangan usaha. Mereka menguasai fase-fase tertentu dalam pertandingan, menciptakan peluang, dan bahkan sempat memimpin. Tetapi tanpa efektivitas di lini depan, semua itu menjadi setengah jadi.
Pertanyaan yang kini muncul bukan lagi soal siapa yang harus dimainkan, melainkan bagaimana memaksimalkan potensi yang sudah ada. Apakah Cumic dan Tanque hanya belum menemukan ritme? Atau justru ada masalah struktural dalam pola serangan yang membuat mereka sulit berkembang?
Sepak bola sering kali kejam dalam kesederhanaannya: tim yang lebih klinis akan keluar sebagai pemenang. Dan pada laga ini, PSM gagal memenuhi syarat itu.
Ketika peluit panjang dibunyikan, skor memang imbang. Tetapi bagi PSM Makassar, hasil ini terasa seperti kehilangan—kehilangan dua poin, dan mungkin juga kehilangan jawaban atas persoalan yang terus berulang di lini depan.





