Pagi ini, sama seperti jutaan orang lainnya, kita memulai aktivitas dengan membuka ponsel kemudian scrollinglayar. Dalam hitungan menit, kita sudah banyak melewati berbagai konten yang disajikan, termasuk konten keagamaan, mulai potongan ayat al-Qur’an, cuplikan ceramah pendek, nasihat singkat tentang sabar, syukur, hingga pengingat kematian. Semua itu terasa menenangkan, seolah-olah kita sedang berada dalam ruang spiritual yang hidup.
Saya sendiri pernah merasa cukup tenang setelah menonton berbagai potongan ceramah yang lewat di beranda. Seolah-olah saya sudah belajar. Namun ketika mencoba menjelaskan kembali atau menjawab pertanyaan yang lebih dalam, saya menyadari bahwa yang saya miliki hanyalah potongan, bukan pemahaman yang utuh.
Namun di balik kemudahan itu, ada satu pertanyaan yang sering kali tidak kita ajukan secara jujur kepada diri sendiri: “Apakah kita benar-benar sedang belajar agama, atau hanya sekadar mengonsumsi konten keagamaan saja?
Di era digital, agama tidak hanya hadir di masjid, majlis ta’lim, atau ruang-ruang pendidikan formal. Namun ia telah berpindah ke layar yang tiap hari kita genggam. Perubahan ini bukan sekadar medium, tapi cara menusia memahami, merasakan, dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agama itu sendiri.
Pada titik inilah agama bertemu dengan algoritma dan pertemuan ini tidaklah selalu melahirkan pemahaman yang mendalam, tapi seringkali justru hanya melahirkan sebuah ilusi.
Tingkat Religiusitas Tinggi, Kedalaman Pemahaman DipertanyakanIndonesia dikenal sebagai negara yang religius. Berbagai survei menunjukkan bahwa tingkat religiusitas generasi muda tetap tinggi, namun tidak secara otomatis mencerminkan tingkat kedalaman pemahamannya. Di era digital, ekspresi keagamaan menjadi semakin mudah ditampilkan, namun tidak selalu diiringi dengan internalisasi nilai-nilai religiusitas sehingga kedalamannya menjadi sulit untuk diverifikasi.
Sebuah riset dari Alvara Research memperlihatkan bahwa mayoritas anak muda Muslim Indonesia aktif mengakses konten keislaman secara online tiap pekan. Fenomena ini menunjukkan adanya semangat keberagamaan, tapi sekaligus membuka sebuah pertanyaan: “Apakah intensitas akses itu berbanding lurus dengan kualitas pemahaman?”
Dari sinilah paradoks itu mulai muncul: bahwa agama semakin dekat secara akses, tapi bisa jadi semakin jauh secara makna.
Dari Tradisi Keilmuan ke Budaya KonsumsiDalam tradisi Islam, kita mengetahui bahwa belajar agama memiliki proses yang panjang dan menuntut ketekunan agar mencapai pemahaman yang sempurna: ada akidah, fiqih, tafsir, hadis, adab, sanad, dan lainnya. Ilmu itu tidak diperoleh secara instan, melainkan melalui kesabaran dan bimbingan seorang guru.
Coba lihat, hadis-hadis Nabi tetap terjaga hingga kini karena adanya sanad yang bersambung dan terverifikasi. Tradisi ini menegaskan pentingnya otoritas dan kehati-hatian dalam mengambil ilmu. Sebagaimana ungkapan Muhammad bin Sirin r.a:
Namun di era digital saat ini, pola ini mengalami pergeseran. Agama kini hadir dalam bentuk konten singkat; video 30 detik seolah cukup untuk memahami persoalan kompleks. Ceramah dengan durasi panjang justru dilewati (di-skip). Akibatnya, agama tidak lagi dipelajari secara utuh namun hanya dikonsumsi secara parsial, yang diambil justru yang terasa relevan (related) secara emosional sehingga yang viral akan lebih diutamakan daripada yang memiliki kredibilitas pemahaman mendalam.
Akibatnya, yang hilang bukan hanya kedalaman, tetapi juga disiplin berpikir dalam beragama.
Algoritma sebagai “Guru Baru”Salah satu perubahan yang paling mendasar adalah munculnya algoritma sebagai penentu utama arus informasi keagamaan. Apa yang muncul di layar ponsel saat berselancar di media sosial bukanlah hasil pilihan atas dasar kesadaran semata, melainkan hasil dari sistem yang mempelajari kebiasaan kita. Setiap scrolling, like, atau waktu tonton memberi sinyal pada algoritma untuk menyajikan konten serupa.
Masalahnya, algoritma tidak memiliki kapasitas moral. Ia tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang keliru. Ia hanya mengenali apa yang menarik perhatian. Dalam konteks ini, konten keagamaan pun tunduk pada logika yang sama, yaitu semakin emosional, semakin besar peluangnya untuk viral.
Tanpa disadari, banyak orang belajar agama bukan dari guru yang jelas otoritas dan kredibilitasnya, tapi dari sistem yang tidak pernah benar-benar memahami substansi ajaran itu sendiri. Di titik ini, otoritas keagamaan diam-diam berpindah dari ulama ke sistem.
Ketika Agama Menjadi KomoditasDalam ekosistem digital, angka statistik menjadi pusat perhatian. Tiap konten akan bersaing memperebutkan klik, tayangan, dan interaksi. Ceramah akan menjadi lebih dramatis, judul akan dibuat lebih provokatif, dan pesan disederhanakan agar mudah viral. Dalam proses ini, agama berisiko kehilangan kedalaman dan kesakralannya. Ia berubah menjadi komoditas yang diproduksi dan dikonsumsi.
Ketika nilai-nilai ajaran agama masuk ke dalam pasar digital, maka ukuran keberhasilan pun akan bergeser: bukan lagi pada perubahan manusia, tetapi akan bergantung pada angka-angka statistik. Pada logika ini, kebenaran akan sering kalah oleh daya tarik.
Pergeseran Otoritas KeagamaanPerubahan lain yang tak kalah penting adalah pergeseran otoritas. Dulu, otoritas keagamaan dibangun melalui proses yang panjang dan pengakuan keilmuan. Kini, bisa muncul lebih instan melalui popularitas di media sosial.
Akibatnya, popularitas menjadi legitimasi baru yang dapat menggantikan sanad dan kedalaman keilmuan itu sendiri. Figur dengan banyak pengikut (followers) sering kali dianggap lebih kredibel, meskipun belum tentu memiliki kedalaman pemahaman keilmuan yang memadai. Sebaliknya, mereka yang memiliki kapasitas keilmuan yang dalam tidak hadir di permukaan ruang digital menjadi kurang terdengar.
“Di ruang digital, siapa yang paling sering muncul sering dianggap paling benar.”
EpilogPersoalannya sekarang bukan semata pada akses, melainkan pada cara kita menggunakannya. Ketika kemudahan tidak diiringi dengan kedalaman, maka yang lahir bukan pemahaman, melainkan ilusi pemahaman.
Fenomena ini bukan hanya sekadar perubahan cara belajar, tetapi perubahan cara beragama. Menurut Nurudin (2021), mengingatkan bahwa perhatian kita sering hanya tertuju pada guru dan institusi, sementara peran media sosial diabaikan, padahal sangat menentukan cara belajar dan perilaku.
Di tengah derasnya arus informasi digital, yang dibutuhkan hari ini bukanlah menjauhi teknologi, melainkan kedewasaan dalam menggunakannya. Media sosial dapat menjadi pintu awal untuk mengenal agama, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya tempat belajar.
Konten singkat dapat menjadi pemantik, namun pemahaman yang utuh tetap membutuhkan proses yang lebih panjang: membaca, berdiskusi, bertanya, dan belajar kepada guru yang memiliki kapasitas keilmuan yang jelas. Karena itu, masyarakat perlu membangun literasi digital keagamaan dengan membiasakan diri untuk tidak hanya bertanya “apa isi pesannya?”, tetapi juga “siapa yang menyampaikan?”, “apa dasar ilmunya?”, dan “apakah ada konteks yang dihilangkan?”.
Selain itu, para ulama, pendidik, dan lembaga keagamaan juga perlu hadir lebih aktif di ruang digital. Sebab jika ruang ini dibiarkan kosong, maka ia akan diisi oleh mereka yang lebih pandai menarik perhatian daripada membangun pemahaman. Dakwah di era digital bukan hanya soal hadir, tetapi juga soal menghadirkan kedalaman di tengah budaya serba cepat. Di saat yang sama, masyarakat juga perlu belajar menahan dan membatasi diri dalam mengonsumsi konten. Tidak semua video harus ditonton, tidak semua perdebatan harus diikuti, dan tidak semua hal yang viral layak dipercaya begitu saja.
Membatasi diri berarti memberi ruang bagi proses berpikir yang lebih tenang dan mendalam. Terlalu banyak konten sering kali membuat kita merasa tahu banyak, padahal yang dimiliki hanya potongan-potongan informasi yang tidak utuh. Karena itu, penting untuk mengatur waktu, memilih sumber yang jelas, dan tidak menjadikan media sosial sebagai satu-satunya rujukan dalam memahami agama. Pada akhirnya, algoritma hanyalah alat. Tantangan terbesar kita hari ini adalah bagaimana menjadikan tontonan sebagai pintu menuju tuntunan, bukan sekadar hiburan spiritual yang menenangkan sesaat.





