Pantau - Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan ultimatum 48 jam kepada Iran untuk mencapai kesepakatan nuklir atau membuka kembali Selat Hormuz di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump setelah sebelumnya memperpanjang tenggat negosiasi nuklir menjadi 10 hari.
"Ingat ketika saya memberi Iran sepuluh hari untuk membuat kesepakatan atau membuka Selat Hormuz," ungkapnya.
"Waktu hampir habis — 48 jam sebelum neraka menimpa mereka," ujarnya.
Eskalasi Konflik dan Respons IranKetegangan meningkat sejak serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026 yang menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu Ali Khamenei.
Iran kemudian membalas dengan melancarkan serangan drone dan rudal ke Israel serta menyasar fasilitas militer Amerika Serikat di Yordania, Irak, dan sejumlah negara Teluk.
Iran juga membatasi pergerakan kapal di Selat Hormuz sebagai bagian dari respons terhadap serangan tersebut.
Peran Strategis Selat HormuzSelat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi global yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Sebelumnya, Iran sempat mengizinkan 10 kapal tanker minyak berbendera Pakistan melintas, yang menjadi alasan perpanjangan tenggat negosiasi oleh Amerika Serikat.
Ultimatum terbaru ini menandai meningkatnya tekanan diplomatik dan militer di kawasan yang berpotensi berdampak pada stabilitas global.




