Tegas! Dedi Mulyadi Larang Pungli di Jembatan Cirahong, Penjagaan Sejak 30 Tahun Lalu Dihentikan

grid.id
11 jam lalu
Cover Berita

Grid.IDDedi Mulyadi kini larang pungli di Jembatan Cirahong. Penjagaan sejak 30 tahun dihentikan.

Perbincangan di media sosial memanas dengan pro dan kontra, setelah beredar rekaman yang memperlihatkan dugaan pungutan liar terhadap pengendara motor di Jembatan Cirahong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Terbaru, Dedi Mulyadi larang pungli di Jembatan Cirahong. Penjagaan sejak 30 tahun dihentikan.

Dalam rekaman video tersebut, terlihat seorang pria berdiri di tengah jalur dan menerima uang dari para pengendara yang melintas.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menanggapi tegas persoalan tersebut. Ia memastikan praktik pungutan liar di lokasi itu tidak akan dibiarkan terus berlangsung.

"Dan apabila masih terus dilakukan pungutan maka kami akan melakukan tindakan bahwa saudara sudah melakukan pungutan liar terhadap masyarakat," ujarnya dikutip Kompas.com, Sabtu (4/4/2026).

Menurutnya, tidak ada pembenaran apa pun bagi pihak mana pun untuk menarik uang dari masyarakat yang melintasi jembatan tersebut.

"Saya ucapkan terima kasih dan pasti ujungnya adalah pidana," tegas Dedi.

Ia menjelaskan bahwa Jembatan Cirahong merupakan aset milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang telah diperbaiki oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan anggaran lebih dari Rp 1 miliar. Dedi juga menyebut kondisi lantai jembatan saat ini sudah cukup baik dan aman untuk digunakan masyarakat tanpa hambatan berarti.

Selain itu, Pemprov Jawa Barat tengah merencanakan tahap lanjutan berupa pengecatan serta pemasangan lampu guna memperindah tampilan sekaligus meningkatkan kenyamanan pengguna. Ia kembali menegaskan bahwa praktik pungutan yang dilakukan oleh oknum di lokasi tersebut tidak memiliki dasar hukum dan tidak berkaitan dengan biaya resmi dari pemerintah.

"Untuk itu tidak ada alasan bagi siapa pun untuk memungut uang saat warga menggunakan jembatan tersebut," pungkasnya.

 

Sementara itu, video yang beredar di berbagai platform seperti X, Instagram, hingga TikTok memunculkan beragam tanggapan dari publik. Narasi yang menyertai unggahan tersebut menyebutkan bahwa pengendara diminta membayar saat melintas di jembatan penghubung Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Tasikmalaya.

Video yang diunggah akun X @FZA_007 bahkan telah ditonton ratusan ribu kali dan memicu perdebatan di kalangan warganet. Dalam video tersebut, terlihat sejumlah pengendara memberikan uang kepada penjaga jembatan.

Di sisi lain, pemerintah desa bersama warga setempat membantah adanya praktik pungutan liar seperti yang ramai dibicarakan.

“Kalau disebut kuli itu kan memaksa. Di sini tidak ada paksaan. Anak-anak hanya membantu mengatur lalu lintas karena kondisi jembatan sempit dan rawan,” ujarnya, dikutip dari TribunJabar.id.

Ia menjelaskan, kondisi Jembatan Cirahong yang memiliki jalur sempit di atas Sungai Citanduy berpotensi menimbulkan kecelakaan, terutama jika kendaraan dari dua arah melintas secara bersamaan.

“Kalau dari arah Tasik dan Ciamis masuk bersamaan, rawan senggolan. Bahkan risikonya fatal karena di bawahnya jurang dan Sungai Citanduy,” katanya.

Kartoyo menyebutkan, pemberian uang oleh pengendara bersifat sukarela. Tidak ada kewajiban ataupun tekanan bagi pengguna jalan untuk memberikan sesuatu.

“Yang ngasih Rp1.000 atau rokok itu sukarela. Tidak ada paksaan. Uangnya juga dipakai untuk kebutuhan sederhana, termasuk perbaikan jalur seperti meratakan papan,” jelasnya.

Meski demikian, ia tetap menyampaikan permohonan maaf kepada pengguna jalan apabila aktivitas warga tersebut dirasakan kurang nyaman.

“Atas nama masyarakat, kami mohon maaf jika dirasa kurang berkenan. Tujuan kami hanya untuk menjaga keselamatan bersama,” tuturnya.

Pernyataan serupa disampaikan Abdul Haris, salah satu penjaga jembatan. Ia mengaku telah ikut menjaga jalur tersebut selama kurang lebih 30 tahun secara bergiliran bersama warga lain.

 

“Ini sukarela, bukan narik. Kalau tidak ngasih juga tetap dipersilakan lewat,” ungkapnya.

Para penjaga biasanya bertugas secara bergantian dalam sistem shift, mulai pagi hingga malam hari. Selain membantu kelancaran lalu lintas, keberadaan mereka juga dinilai memberi rasa aman, khususnya saat malam.

Warga setempat menyebut, selain mengurangi risiko kecelakaan, penjagaan juga dilakukan untuk mengantisipasi potensi tindak kriminal maupun kejadian bunuh diri yang pernah terjadi di area tersebut. (*)

 

Artikel Asli


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sudah Komunikasi dengan John Herdman, Calon Striker Timnas Indonesia Luke Vickery Tinggal Tunggu Lampu Hijau PSSI
• 7 jam lalubola.com
thumb
100 Calon Ketua PAC PDIP Makassar Ikuti Fit and Proper Test di DPD Sulsel
• 14 jam laluterkini.id
thumb
Heboh 4 Pekerja Tewas di Jagakarsa Jaksel, Begini Kronologinya!
• 11 menit laluokezone.com
thumb
Prediksi Semen Padang vs Persib Bandung, Head to Head dan Susunan Pemain
• 12 jam lalubisnis.com
thumb
Rusia Sebut Inggris Terlibat Langsung dalam Serangan AS ke Iran
• 4 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.