SURABAYA, KOMPAS - Uskup Surabaya Monsinyur Agustinus Tri Budi Utomo mengajak umat Katolik memaknai Paskah sebagai kebangkitan mendewasakan hidup menggereja, iman, dan cara keagamaan.
”Mari berkomitmen untuk bangkit mendewasakan hidup menggereja, iman, mematangkan cara keagamaan di tengah hidup bersama satu iman, tetapi juga hadir di tengah masyarakat sebagai persekutuan umat yang dewasa dalam iman,” ujar Agustinus dalam pesan Paskah di Surabaya, Minggu (5/4/2026).
Agustinus yang akrab disapa Modik ini melanjutkan, kedewasaan hidup merupakan impian seluruh masyarakat. Kedewasaan diibaratkan cara pandang seseorang yang terperosok ke sumur saat melihat langit. Kedewasaan tidak lagi sempit melihat langit kehidupan yang hanya seluas lingkaran bibir sumur.
Padahal, bumi amat luas. Manusia hidup dalam keberagaman iman, keyakinan, budaya, hayati, dan SARA (suku agama ras antargolongan). Dalam keragaman itu, umat manusia tentu berharap menjadi dewasa berpikir, berucap, dan bertindak.
Bagi umat Katolik, Paskah adalah perayaan puncak kebangkitan Yesus setelah sengsara dan wafat disalibkan. Paskah mengajarkan kedewasaan hidup melalui teladan Yesus mengenai pengorbanan.
”Kedewasaan tidak akan pernah tercapai dengan mengorbankan pihak lain,” ujar Agustinus. Kedewasaan ditandai keberanian berkorban dan mempersembahkan hidup untuk masyarakat dan dunia.
Yesus berbuat demikian. Yesus menerima penderitaan dan kematian karena penyaliban demi penebusan dosa atau keselamatan umat manusia. Pengorbanan Yesus dua milenium lalu bukan memakai pihak lain melainkan diri-Nya untuk masyarakat dunia.
Untuk itu, Yesus menyatakan dan dinyatakan sebagai jalan keselamatan. Umat Katolik diharapkan bersedia berkorban untuk kedewasaan hidup bermasyarakat dalam iman, agama, dan sosial.
Dalam perayaan Minggu Paskah untuk anak-anak, Pastor Kepala Paroki Salib Suci, Tropodo, Sidoarjo, RP Yohanes Paulus Robin SVD mengingatkan orangtua dan keluarga untuk terus memelihara iman dan sikap hidup yang baik bagi anak-anak.
”Anak-anak adalah masa depan dan harapan kehidupan yang semoga lebih baik dari yang kita alami,” ujar Robin yang lebih akrab disapa Romo Sonny itu. Anak-anak diajak bangga sebagai orang Katolik dan mau mencontoh kehidupan Yesus untuk berkorban demi keselamatan dunia.
Rangkaian waktu menuju Paskah dimulai pada Rabu Abu (18 Februari 2026). Itulah masa umat Katolik untuk bertobat, berpuasa, dan berpantang agar pantas merayakan Paskah pada Minggu (5/4/2026).
Bertobat, berpuasa, dan berpantang adalah wujud pengorbanan agar kehidupan umat menjadi lebih baik. Dengan itu, umat diajak menahan diri dari segala godaan hingga jangan terlibat tindakan yang mengganggu ketertiban dan keamanan umum.
Anak-anak pun perlu terus dipupuk untuk menjalani kehidupan iman yang baik. Sebagai anak Katolik, nilai-nilai pengorbanan dapat diwujudkan dalam aspek yang praktis yakni mau terlibat dalam kehidupan sosial di paroki. Jangan lupakan terlibat dalam hidup sosial masyarakat.
Dalam homili Sabtu Suci atau Vigili Paskah, Pastor Rekan Paroki Yohanes Pemandi RP Joseph Purwo SVD menekankan, kesiapan hati umat menyambut kebangkitan Yesus dan merayakan Paskah.
”Mari lebih reflektif dalam memaknai dan menjalankan hidup sehingga bernilai dan berdampak baik bagi masyarakat,” kata Purwo.
Di Gereja Katolik Yohanes Pemandi, Vigili Paskah diadakan dua kali yakni pukul 17.30 WIB dan 21.30 WIB. Seusai misa kedua yang berakhir pukul 23.30 WIB, umat disuguhi makanan dan minuman gratis sebagai tanda syukur dan suka cita Paskah.
”Mari bersyukur dan berharap suka cita agar kehidupan kita tetap bermakna dan bermanfaat bagi masyarakat,” kata Joseph.





