Punya Reputasi Mentereng di Jerez, Veda Ega Pratama Diprediksi Raih Podium Moto3 Spanyol

harianfajar
6 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, JAKARTA — Di Jerez, lintasan tak hanya menjadi arena balap, tetapi juga ruang di mana pengalaman dan insting bertemu dalam kecepatan tinggi. Di sana, Veda Ega Pratama datang bukan sebagai sekadar pendatang baru, melainkan sebagai pembalap muda yang membawa bekal memori—dan ambisi yang mulai diperhitungkan.

Seri Moto3 Spanyol 2026, yang akan digelar pada 26 April, menghadirkan satu keunggulan yang tidak dimiliki semua rivalnya: familiaritas. Sirkuit Circuito de Jerez – Ángel Nieto bukanlah wilayah asing bagi Veda. Ia telah menaklukkannya enam kali dalam berbagai ajang, sebuah angka yang, bagi pembalap muda, berarti banyak.

Namun sebelum tiba di Jerez, perjalanan Veda musim ini sudah lebih dulu menarik perhatian. Ia memulai tanpa ekspektasi besar, tetapi dengan cepat mengubah persepsi. Finis kelima di Thailand menjadi pembuka, diikuti podium ketiga di Brasil—hasil yang menempatkannya dalam radar persaingan. Bahkan di Circuit of the Americas, ketika ia gagal finis akibat kecelakaan, kecepatan yang ditunjukkan dari posisi start keempat menjadi bukti bahwa ia mampu bersaing di level tertinggi Moto3.

Di titik ini, Veda bukan lagi sekadar rookie. Ia adalah variabel tak terduga.

Jerez memberi dimensi berbeda dalam ceritanya. Tidak seperti Brasil atau Amerika yang sepenuhnya baru baginya, lintasan di Spanyol ini telah ia pahami sejak masa junior. Dalam Red Bull MotoGP Rookies Cup 2024, ia mengalami fase belajar—gagal finis di satu balapan dan finis ke-11 di balapan lainnya. Namun setahun berselang, ia menunjukkan kematangan dengan naik podium ketiga.

Perjalanan itu berlanjut di FIM JuniorGP World Championship 2025. Meski hasilnya belum menonjol, pengalaman tersebut memperkaya pemahamannya terhadap karakter teknis Jerez—dari titik pengereman hingga cara menjaga kecepatan di tikungan panjang.

Semua ini membentuk satu hal yang tak kasat mata: insting lintasan.

Dalam balap motor, insting sering menjadi pembeda antara pembalap cepat dan pembalap yang mampu menang. Ia tidak selalu tercermin dalam data, tetapi terasa dalam keputusan sepersekian detik—kapan menyalip, kapan bertahan, dan kapan mengambil risiko.

Veda kini berada di fase di mana insting itu mulai terasah.

Keunggulan lain yang dimilikinya adalah fleksibilitas. Hasil di Thailand dan Brasil menunjukkan bahwa ia mampu beradaptasi, baik di sirkuit yang dikenal maupun yang sepenuhnya baru. Ini menjadi indikator penting dalam kompetisi seperti Moto3, di mana perbedaan antar pembalap sering kali sangat tipis.

Namun, ekspektasi juga membawa tekanan. Prediksi podium bukan lagi sekadar harapan, tetapi tantangan. Veda harus mampu mengelola itu—menjaga fokus tanpa terbebani oleh sorotan.

Jerez akan menjadi ujian penting dalam hal ini. Apakah ia mampu mengubah pengalaman menjadi keunggulan nyata di lintasan? Atau justru tekanan akan menjadi faktor yang mengganggu ritmenya?

Di sisi lain, kompetisi di Moto3 tidak pernah sederhana. Grid yang padat, karakter balapan yang agresif, serta potensi insiden di setiap tikungan membuat hasil akhir sulit diprediksi. Bahkan pembalap paling siap pun bisa kehilangan segalanya dalam satu momen.

Namun, di tengah semua ketidakpastian itu, satu hal tetap jelas: Veda Ega Pratama datang ke Jerez dengan modal yang cukup untuk bermimpi.

Dan di lintasan seperti Jerez, mimpi sering kali menemukan jalannya—bagi mereka yang berani mengambilnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bakal Bangun 1.000 Unit Rusun di Tanah Milik KAI, Astra Tunggu Lahannya Siap
• 1 jam laluviva.co.id
thumb
Cerita Ibu Ani, Nasabah Difabel PNM Mekaar yang Mandiri Lewat Usaha Roti
• 9 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Aktivitas PKL di Kota Tua Jadi Sorotan Penataan
• 4 jam laludetik.com
thumb
Link Live Streaming Bhayangkara FC vs Persija, Hari Ini Pukul 15.30 WIB
• 9 jam lalubisnis.com
thumb
Cara Mengenali Orang yang Tidak Kompeten Dilihat dari Ucapannya Menurut Ilmu Psikologi
• 3 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.