Moms, pernah membayangkan siapa saja yang bisa menjadi pelaku grooming? Banyak orang tua mungkin langsung berpikir bahwa pelakunya pasti orang dewasa. Padahal, faktanya tidak selalu demikian.
Dalam beberapa kasus, pelaku grooming juga bisa datang dari remaja, anak yang lebih tua, bahkan teman sebaya. Hal ini disampaikan oleh Dokter Spesialis Anak sekaligus Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, Dr. dr. Ariani, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), M. Kes, yang menekankan bahwa grooming sering kali luput dari perhatian karena hubungan yang terlihat biasa.
Pelaku Grooming Tidak Selalu Orang DewasaMenurut dr. Ariani, pelaku grooming memang sering kali adalah orang dewasa, tetapi kemungkinan pelaku berasal dari remaja atau anak yang usianya lebih tua juga tidak boleh diabaikan.
“Biasanya memang orang dewasa, tetapi tidak menutup kemungkinan usia remaja atau anak yang lebih tua, paling tidak lebih tua ya. Nah ini sering terlewat, kadang-kadang dianggap itu teman-temannya kayak SMP dengan SMA gitu,” kata dr. Ariani dalam acara webinar bersama IDAI, Rabu (31/3).
Bahkan, anak usia SD berteman atau dekat dengan remaja SMA, atau anak SMP bergaul dengan kelompok yang lebih tua. Situasi seperti ini kerap tidak terlalu diawasi karena terlihat seperti hubungan sosial biasa.
Pelaku Juga Bisa SebayaGrooming juga bisa terjadi di antara anak atau remaja yang usianya berdekatan, bahkan sebaya. Namun, yang perlu diperhatikan bukan hanya soal umur, melainkan adanya manipulasi dan ketimpangan kuasa dalam hubungan tersebut.
Menurut dr. Ariani, selama ada unsur:
-Mendekati anak secara bertahap
-Membangun rasa percaya
-Memanipulasi
-Menekan atau mengontrol,
Maka kondisi itu tetap bisa disebut sebagai grooming.
Pelaku Kadang Berkedok PacaranSalah satu hal yang membuat grooming sulit dikenali adalah karena sering kali dibungkus sebagai hubungan spesial, misalnya pacaran. dr. Ariani menjelaskan, tak jarang orang di sekitar menganggap hubungan itu wajar hanya karena anak terlihat punya pacar. Padahal, di balik hubungan tersebut bisa saja ada manipulasi dan tekanan emosional yang kuat.
“Kadang-kadang pacaran itu sebagai kedok gitu ya, jadi oh ini berhubungan istimewa dengan si A yang di SMA mana, oh itu pacarnya ya, padahal sebenarnya bukan pacar, tapi itu grooming, jadi harus hati-hati ya,” tegasnya.
Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk tidak langsung menganggap semua hubungan dekat anak sebagai sesuatu yang aman hanya karena diberi label pacaran atau teman dekat.
“Kemudian ada lagi yang sebaya sebenarnya, terjadi antara anak atau antara remaja. Nah ini biasanya seperti pacaran gitu ya ‘Fotoin dong, kamu lagi habis mandi, lagi mandi gak apa-apa, kan kamu pacarku gitu ya’ nanti kalau udah dapat fotonya, akhirnya dia mengancam untuk menyebarkan rahasia itu, nah ini yang makin meningkat di era digital ini ya, ini yang sebaya bisa, atau lama-lama dia melakukan kekerasan seksual juga,” tutup dr. Ariani.





