BANDUNG, KOMPAS- Lebih dari 300.000 umat Katolik di Jawa Barat merayakan Tri Hari Suci Paskah untuk memperingati penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus. Paskah tahun ini dimaknai sebagai momen kebangkitan untuk memperjuangkan perdamaian dunia di tengah perang yang memicu krisis energi.
Perayaan pekan suci Paskah di Jawa Barat berjalan aman dan lancar. Ratusan ribu umat Katolik mengikuti Misa Paskah dari Kamis hingga Minggu (5/4/2026) dengan khidmat dan tenang.
Dari pantauan Kompas di Katedral Santo Petrus hingga Gereja Santa Odilia di Kota Bandung, lebih dari 1.000 umat yang mengikuti setiap jadwal misa.
Dalam misa pada Minggu pukul 06.00 WIB, Pastor Yosep Pranadi OSC merefleksikan perayaan Paskah menjadi momentum bagi seluruh masyarakat dunia tak terkecuali umat Katolik untuk memperjuangkan perdamaian di tengah konflik yang kini terjadi di Timur Tengah.
Perang di Timur Tengah yang dipicu konflik Amerika Serikat-Israel dan Iran yang terjadi sejak 28 Februari 2026 belum menemukan jalan keluar hingga kini. Korban jiwa dan bangunan fasilitas umum yang rusak terus bertambah setiap saat.
"Paskah tahun ini menjadi momen masyarakat untuk memperjuangkan dan mempersatukan perdamaian dunia di tengah konflik global saat ini, " kata Pranadi.
Ia pun meminta umat tak hanya melihat Paskah tahun ini sebagai momen kebangkitan Yesus Kristus. Masyarakat juga harus bangkit untuk menghadapi perubahan besar akibat konflik global tersebut.
"Masyarakat harus siap menghadapi gejolak yang terjadi di dunia saat ini akibat konflik global. Salah satunya masalah krisis energi, " tuturnya.
Sementara itu, Ketua Presidium Konferensi Waligereja Indonesia, Monsinyur Antonius Subianto Bunyamin memaknai Paskah tahun ini sebagai upaya mewartakan damai sejahtera kepada setiap orang agar tercipta perdamaian di dunia. Hal ini selaras dengan pesan pemimpin gereja katolik, Paus Leo XIV ketika ditahbiskan tahun lalu.
Antonius yang juga Uskup Bandung menyampaikan rasa prihatin atas konflik di Timur Tengah yang berdampak besar bagi masyarakat sipil. Ia menyerukan umat Katolik untuk berdoa agar para pemimpin dengan rendah hati dan berbesar hati untuk menghentikan pertikaian ini.
"Kami mohon agar konflik segera diselesaikan karena yang menjadi mayoritas korban adalah masyarakat yang tidak bersalah. Banyak rumah dan fasilitas umum hancur dan orang meninggal dunia, " tutur Antonius.
Ia pun meminta umat Katolik di Indonesia untuk mempersiapkan diri menghadapi krisis energi. "Diperlukan sikap bela rasa dengan berhemat dalam penggunaan energi agar semua masyarakat bisa menggunakannya," tambahnya.





