Total 233 bangunan di Ternate rusak akibat gempa 7,6 magnitudo yang terjadi di Laut Maluku pada Kamis (2/4). Sebanyak 223 bangunan yang rusak merupakan rumah warga.
“Di mana untuk klasifikasi rumah warga kurang lebih ada 200 sekian, yang rusak berat 104, rusak sedang 58, dan ringan 61. Itu untuk hunian warga," kata Ketua Posko Tanggap Darurat Penanganan Bencana Gempa Kota Ternate, Rizal Marsaoly, Minggu (5/4).
Selain tempat tinggal warga, gempa juga merusak fasilitas umum. Di antaranya sekolah dan rumah ibadah.
"Sedangkan fasilitas kantor 1, dan 1 bangunan sekolah di Kelurahan Mayau. Kemudian fasilitas rumah ibadah gereja, di kelurahan Lelewi 2 rusak berat, 1 rusak ringan. Ada juga di Kelurahan Bido rusak berat 2, di Kelurahan Mayau rusak berat 2 dan rusak sedang 1,” ujarnya.
Sebanyak 1.966 jiwa dari 568 keluarga memilih untuk tinggal di pengungsian sejak gempa terjadi. Pengungsian tersebar di 29 titik.
“Betul jadi 4 kelurahan itu 100 lebih, jadi malam itu saya baru tiba baru dua kelurahan karena sudah larut dan di Mayau itu titik evakuasi ada di situ dan di situ ada 700 sekian, dan besoknya saya turun himpun tambah dengan Tifure sudah 1.000 sekian, terkait dengan stay di kamp-kamp pengungsian,” ucap Rizal.
Pemkot Ternate telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari sejak Kamis, 2 April 2026. Bantuan telah didistribusikan kepada warga terdampak di antaranya tenda, makanan siap saji, serta kebutuhan bayi dan anak.
Bantuan tersebut didistribusikan menggunakan kapal milik Basarnas, dari pelabuhan Ahmad Yani Ternate dan akan disalurkan ke Pulau Tifure dan Pulau Mayau.





