Jakarta, VIVA – Keputusan Lucinta Luna untuk kembali ke identitas awalnya sebagai laki-laki dengan nama Muhammad Fatah membuka babak baru dalam hidupnya. Namun di balik tekad tersebut, ada konsekuensi besar yang harus ia terima—terutama terkait masa depan sebagai orang tua biologis.
Dalam perbincangan di podcast Butik Haji Igun, Lucinta secara terbuka membahas realitas pahit yang kini menjadi bagian dari hidupnya. Saat ditanya oleh Ivan Gunawan mengenai kemungkinan memiliki anak kandung, Lucinta tak menutup-nutupi kondisi yang ia alami. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
"Tapi kalau orang potong kayak elo gitu Lun, itu sel spermanya diambil juga apa enggak sih Lun? Apa masih ada di dalam?" tanya Ivan Gunawan, dikutip Minggu 5 April 2026.
Pertanyaan tersebut dijawab dengan lugas oleh Lucinta. Ia menegaskan bahwa tidak ada lagi peluang baginya untuk memiliki keturunan secara biologis akibat keputusan yang diambil di masa lalu.
"Enggak ada (sel sperma tersisa). 100 persen enggak ada (kesempatan punya anak). Enggak bisa bunting juga. Ngangkat anak iya, bisa ngangkat anak," jawab Lucinta.
Pernyataan itu menjadi pengakuan paling jujur dari Lucinta tentang konsekuensi permanen dari operasi yang pernah ia jalani. Di satu sisi, ia kini mantap kembali ke jati dirinya sebagai laki-laki. Namun di sisi lain, ia harus menerima kenyataan bahwa fungsi reproduksi sudah tidak bisa dipulihkan.
Meski begitu, keputusan untuk kembali ke “kodrat” tetap ia jalani dengan penuh keyakinan. Lucinta mengaku bahwa tekanan mental selama bertahun-tahun menjadi faktor utama yang mendorongnya mengambil langkah besar tersebut. Hidup dalam sorotan dan hujatan publik membuatnya merasa kehilangan ketenangan.
Kini, perubahan itu tidak hanya terlihat dari pengakuan identitas, tetapi juga dari keseharian. Ia mulai berpenampilan sebagai laki-laki, termasuk memangkas rambut dan menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinannya.
"Gue pengin lah salat di bagian saf laki-laki sesuai dengan kodrat, meskipun gue udah legal semuanya (sebagai perempuan)," ungkapnya.
Bagi Lucinta, perjalanan ini bukan sekadar perubahan fisik, melainkan proses panjang untuk menemukan kembali dirinya. Ia menyadari bahwa masa lalunya tidak bisa dihapus, termasuk keputusan yang membawa dampak permanen pada tubuhnya.





