Campak Kembali Marak: Nyawa Melayang, Imunisasi Diabaikan

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Campak kembali menjadi ancaman serius di Indonesia pada 2026. Penyakit yang seharusnya dapat dicegah dengan imunisasi kini menelan korban jiwa, termasuk seorang dokter muda di Cianjur. Kementerian Kesehatan merespons dengan menerbitkan Surat Edaran Nomor HK.02.02/C/1602/2026 tentang kewaspadaan terhadap penyakit campak bagi tenaga medis dan tenaga kesehatan. Lonjakan kasus ini bukan sekadar persoalan medis, melainkan juga cerminan bagaimana masyarakat memandang ilmu pengetahuan dan bagaimana pengetahuan non-ilmiah masih memengaruhi keputusan sehari-hari.

Campak adalah salah satu penyakit paling menular di dunia, dengan angka reproduksi dasar (R0) mencapai 12–18. Data Kemenkes menunjukkan bahwa pada 2025 terdapat lebih dari 63 ribu kasus suspek, dengan lebih dari 11 ribu terkonfirmasi dan 69 kematian. Hingga awal 2026, kasus terus bertambah dengan ratusan konfirmasi dan beberapa kematian. Fakta ini menegaskan bahwa campak bukanlah “ilusi”, melainkan ancaman nyata yang bisa merenggut nyawa siapa saja.

Tragedi meninggalnya AMW, seorang dokter muda di RSUD Pagelaran, Cianjur, menjadi titik balik yang mengguncang nurani bangsa. Ia tetap bertugas di IGD meski sudah menunjukkan gejala campak, hingga akhirnya meninggal pada 26 Maret 2026 setelah komplikasi berat menyerang jantung dan otaknya. Kasus ini menunjukkan bahwa tenaga medis pun rentan, terutama ketika sistem perlindungan tidak berjalan optimal. Kemenkes menegaskan perlunya skrining dini, ruang isolasi, ketersediaan APD, dan disiplin protokol pencegahan infeksi di seluruh fasilitas kesehatan.

Fenomena penolakan imunisasi di Indonesia memperlihatkan benturan antara pengetahuan ilmiah dan non-ilmiah. Fakta ilmiah jelas: vaksin campak efektif mencegah penularan. Namun, sebagian orang tua masih berpegang pada tradisi, mitos, atau keyakinan non-ilmiah. Ada yang percaya bahwa ramuan tradisional atau doa cukup melindungi anak, ada pula yang menganggap campak hanyalah “penyakit biasa anak-anak” yang akan sembuh sendiri. Keyakinan seperti ini menunjukkan bagaimana tradisi dan kepercayaan non-ilmiah sering kali menutup mata terhadap fakta ilmiah yang sudah terbukti.

Padahal, program imunisasi sudah tersedia di sekolah-sekolah. Petugas puskesmas rutin datang ke SD hingga SMP untuk memberikan imunisasi dasar lengkap. Sayangnya, kesempatan ini sering disia-siakan karena orang tua menolak anaknya diimunisasi. Penolakan ini bukan hanya merugikan anak sendiri, tetapi juga melemahkan perlindungan komunitas. Ketika cakupan imunisasi turun, wabah mudah muncul kembali.

Kita harus menyadari bahwa pengetahuan non-ilmiah memang memiliki tempat dalam kehidupan sosial, tetapi tidak bisa dijadikan dasar untuk menolak fakta ilmiah. Tradisi dan keyakinan bisa berjalan berdampingan dengan ilmu pengetahuan, namun ketika menyangkut kesehatan publik, fakta ilmiah harus menjadi pijakan utama. Campak bukan sekadar penyakit masa lalu, melainkan ancaman nyata yang bisa kembali “marah” jika imunisasi diabaikan.

Tragedi dokter AMW adalah simbol dari rapuhnya sistem perlindungan kesehatan. Ia adalah tenaga medis yang seharusnya dilindungi, namun justru menjadi korban. Hal ini menunjukkan bahwa imunisasi bukan hanya penting bagi anak-anak, tetapi juga bagi tenaga kesehatan yang setiap hari berhadapan dengan risiko penularan. Jika tenaga medis saja bisa jatuh sakit dan meninggal, bagaimana dengan masyarakat umum yang tidak memiliki perlindungan memadai?

Imunisasi adalah bentuk tanggung jawab sosial. Menolak imunisasi bukan hanya keputusan pribadi, tetapi juga berdampak pada orang lain. Dalam konteks penyakit menular, kebebasan individu harus ditimbang dengan tanggung jawab terhadap komunitas. Ketika satu anak tidak diimunisasi, ia bisa menjadi pintu masuk bagi wabah yang mengancam seluruh lingkungan.

Opini Pribadi

Menurut saya, maraknya campak di Indonesia bukan sekadar masalah medis, melainkan kegagalan kolektif dalam mengintegrasikan pengetahuan ilmiah dengan pengetahuan non-ilmiah. Saya merasa prihatin melihat masih banyak orang tua yang menganggap virus hanyalah ilusi belaka. Pandangan ini berbahaya karena membuat mereka lalai memberikan imunisasi lengkap kepada anak-anak.

Sikap ini adalah bentuk kelalaian moral. Anak-anak tidak bisa memilih sendiri untuk dilindungi. Ketika orang tua menolak imunisasi, mereka bukan hanya mempertaruhkan kesehatan anak, tetapi juga masa depan generasi. Tradisi, mitos, atau keyakinan memang bagian dari kehidupan sosial, tetapi tidak boleh dijadikan alasan untuk menolak fakta ilmiah yang sudah terbukti menyelamatkan nyawa.

Saya ingin menekankan dengan keras: menolak imunisasi adalah pengkhianatan terhadap tanggung jawab sosial. Virus bukanlah ilusi, melainkan ancaman nyata. Tragedi dokter AMW yang meninggal akibat campak seharusnya menjadi peringatan keras bahwa kita tidak bisa lagi menyepelekan imunisasi.

Lonjakan kasus campak di Indonesia adalah alarm keras bahwa kita tidak boleh lagi menyepelekan imunisasi. Fakta ilmiah sudah jelas: vaksin mencegah campak, menyelamatkan nyawa, dan melindungi komunitas. Namun fakta ini tidak akan berarti jika masyarakat terus terjebak dalam tradisi atau keyakinan non-ilmiah yang menolak imunisasi.

Saatnya kita berhenti memperdebatkan apakah virus itu nyata atau tidak. Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian untuk menjembatani pengetahuan ilmiah dengan pengetahuan non-ilmiah. Orang tua harus sadar bahwa imunisasi bukan sekadar pilihan, melainkan kewajiban moral. Generasi muda harus berani mengedepankan rasionalitas. Dan negara harus memastikan perlindungan bagi tenaga medis yang berjuang di garis depan.

Jika kita gagal, campak akan terus “marah lagi” dan merenggut nyawa yang seharusnya bisa diselamatkan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gunung Semeru Semakin Aktif, Hari Ini Kembali Erupsi Disertai Awan Panas Sejauh 3,5 Km
• 12 jam lalurepublika.co.id
thumb
Cadangan Beras RI Stabil 4,5 Juta Ton di Tengah Gejolak Timteng, Mentan Amran Pastikan Stok Aman
• 1 jam laluviva.co.id
thumb
KSAD Pastikan Ada Penelusuran Terkait Peristiwa di Lokasi Penugasan
• 12 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Bali United Bidik Kendalikan Laga Lawan PSBS Biak di Tengah Sanksi Tanpa Penonton
• 7 jam lalupantau.com
thumb
Andre Rosiade Gelar Turnamen Padel Gratis, Dorong Keluarga Berolahraga
• 22 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.