WASHINGTON, KOMPAS.TV – Ketegangan konflik Iran-Amerika Serikat memasuki fase paling berbahaya, setelah Presiden Donald Trump mengancam akan menjadikan Selasa sebagai hari serangan besar terhadap infrastruktur Iran jika Selat Hormuz tidak segera dibuka.
Dalam pernyataan keras di media sosial, Minggu (5/4/2026), Trump menyebut Selasa sebagai “Power Plant Day” dan “Bridge Day”, merujuk pada rencana serangan yang akan menargetkan pembangkit listrik dan jembatan di Iran.
Ia juga mengisyaratkan bahwa serangan tersebut akan berskala besar dan belum pernah terjadi sebelumnya.
Baca Juga: Pesan Paskah Trump di Tengah Pencarian Pilot AS: Kejahatan dan Keburukan Tak Akan Menang
"Hari Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik, dan Hari Jembatan, semuanya digabung menjadi satu, di Iran,” tulis Trump.
“Tidak akan ada yang seperti ini!!! Bukalah Selat itu atau kalian akan hidup di Neraka – LIHAT SAJA!"
Ancaman ini menjadi ultimatum terbaru Washington kepada Teheran di tengah konflik yang terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir.
Serangan yang diancamkan Trump tidak hanya menyasar fasilitas militer, tetapi juga infrastruktur vital yang menopang kehidupan sipil.
Target potensial meliputi pembangkit listrik, jembatan penghubung utama, hingga fasilitas desalinasi yang menyediakan air bersih.
Jika serangan ini benar-benar dilakukan, dampaknya diperkirakan akan melumpuhkan aktivitas ekonomi dan kehidupan sehari-hari di berbagai wilayah Iran.
Ultimatum tersebut berkaitan langsung dengan tuntutan AS agar Iran membuka kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu nadi utama distribusi minyak dunia.
Penulis : Rizky L Pratama Editor : Desy-Afrianti
Sumber : Associated Press
- Trump Selasa serangan Iran
- Trump ancam infrastruktur Iran
- ultimatum Selat Hormuz
- konflik Iran AS terbaru 2026
- Hormuz krisis minyak
- serangan pembangkit listrik Iran





