JAKARTA, KOMPAS.com- Polisi akan memeriksa mandor proyek gedung di Jalan TB Simatupang, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Senin (6/4/2026), usai empat pekerjanya tewas.
Mandor proyek ini memerintahkan pekerjanya untuk membantu evakuasi seorang pekerja yang jatuh ke dalam penampungan air pada Jumat (3/4/2026) lalu.
Karena tidak menggunakan alat pelindung, empat pekerja dilaporkan tewas, sementara tiga pekerja lain mengalami sesak napas karena menghirup gas dari penampungan air itu.
Baca juga: Misteri Tewasnya 4 Pekerja Proyek di TB Simatupang Saat Kuras Air
“Senin dipanggil (pemeriksaan) untuk mandor,” kata Kapolsek Jagakarsa, AKP Nurma Dewi, saat dikonfirmasi Kompas.com, Minggu (5/4/2026).
Sejauh ini sudah ada tiga saksi yang diperiksa polisi dalam penyelidikan kasus tewasnya empat pekerja itu. Mandor proyek akan menjadi yang keempat besok.
Salah satu hal yang akan didalami saat pemeriksaan terhadap mandor itu termasuk penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di pekerjaan bangunan itu.
“Iya, termasuk penerapan K3-nya,” kata Nurma.
Nurma belum merinci kronologi kejadian, termasuk jenis gas yang membuat tiga korban sesak napas lantaran masih diselidiki oleh polisi.
Empat korban yang tewas berinisial YN (32), MW (62), TS (63), dan MF (19).
Sementara itu, tiga pekerja lainnya diduga menghirup gas dari dalam penampungan air tersebut hingga mengalami sesak napas. Mereka adalah U (41), AJ (37), dan S (63).
Saat ini, keempat jasad korban masih diotopsi.
Baca juga: Sehari Usai 4 Pekerja Tewas, Proyek TB Simatupang Sepi Tanpa Aktivitas
Insiden bermula ketika salah seorang pekerja mengalami kecelakaan dengan terjatuh ke dalam gelonteng atau penampungan air bersih saat membongkar penutupnya.
Salah satu rekannya yang berusaha memberikan pertolongan justru ikut terjatuh ke dalam lubang tersebut.
Situasi semakin memburuk ketika pekerja lain mencoba melakukan evakuasi secara bergantian.
Menurut keterangan salah satu saksi berinisial DPA yang turut diperintahkan membantu evakuasi, kondisi di sekitar lubang penampungan terasa tidak normal.
“Pada saat evakuasi korban, saksi merasakan panas dan pengap di sekitar gelonteng,” ujar Nurma mengutip keterangan saksi.
Diduga, gas berbahaya yang terkumpul di dalam penampungan air tersebut menjadi penyebab utama para korban kehilangan kesadaran hingga akhirnya meninggal dunia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




