Hujan deras berjam-jam memicu banjir bandang di Angola. Bencana itu menewaskan 15 orang dan merusak infrastruktur di sejumlah wilayah negara tersebut.
"Hujan deras telah melanda Angola, menewaskan 15 orang dan membanjiri lebih dari 4.000 rumah," kata layanan darurat setempat, dilansir AFP, Minggu (5/4/2026).
Kota Benguela menanggung dampak terberat dari kerusakan akibat banjir bandang ini, dengan laporan kematian sebanyak 12 orang dan tiga orang di Kota Luanda.
Natalia, warga di Luanda, menggambarkan bagaimana rumahnya berumah menjadi 'kolam renang' akibat banjir. Ia mengaku kehilangan hampir semua barang berharganya.
"Saya kehilangan hampir semuanya dan saya tidak tahu harus pergi ke mana," kata Natalia.
Natalia menyebut keluarganya telah memindahkan anak-anak dan cucu-cucunya untuk tinggal bersama kerabat yang tidak terdampak banjir.
"Kami benar-benar kehilangan kata-kata. Semoga Tuhan membantu kami," ucapnya.
Hujan deras bukanlah hal yang tidak biasa di Angola selama musim hujan, tetapi para ilmuwan menyebut perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia meningkatkan kemungkinan durasi dan tingkat keparahan peristiwa cuaca ekstrem tersebut.
Di negara tetangga Namibia, Sungai Zambezi telah meluap tajam, memaksa ribuan orang yang tinggal di sepanjang tepiannya untuk mengungsi dari rumah mereka.
Para pejabat setempat mengatakan ketinggian air telah mencapai sekitar 6,8 meter, jauh di atas ketinggian normal yaitu empat meter. Pihak berwenang telah memindahkan penduduk ke sembilan kamp sementara, termasuk satu kamp yang menampung lebih dari 2.700 orang.
(fas/fas)





