Penulis: Fityan
TVRINews – Teheran
Ketegangan Meningkat Setelah AS Ancam Infrastruktur Iran; Serangan Rudal Guncang Haifa
Pemerintah Iran secara resmi menolak ultimatum yang ditetapkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengenai pembukaan Selat Hormuz.
Teheran menegaskan kesiapannya untuk melakukan langkah balasan setimpal terhadap setiap agresi militer yang menargetkan kedaulatan wilayah maupun infrastruktur nasional mereka.
Pernyataan ini muncul menyusul ancaman serius dari Gedung Putih. Donald Trump menetapkan batas waktu hingga Senin malam (6 April 2026) untuk membuka akses penuh di Selat Hormuz.
Jika tidak dipenuhi, Trump mengancam akan memberikan konsekuensi berat yang ia istilahkan sebagai "neraka", dengan sasaran spesifik pada pembangkit listrik dan jembatan-jembatan di seluruh Iran.
Respons Keras Teheran
Menanggapi ancaman tersebut, pejabat senior Teheran mengecam retorika Washington sebagai bentuk provokasi yang melanggar hukum internasional.
"Kami akan membalas dengan tindakan serupa terhadap setiap serangan yang ditujukan pada infrastruktur kami," ujar pernyataan resmi pemerintah Iran.
Para pejabat setempat bahkan mengutuk pernyataan Presiden AS tersebut sebagai "hasutan untuk kejahatan perang."
Eskalasi Konflik di Kawasan
Situasi di lapangan terus memburuk seiring dengan laporan serangan fisik yang mulai meluas ke negara-negara tetangga:
• Israel: Media lokal melaporkan sebuah rudal Iran menghantam gedung pemukiman di Haifa. Insiden ini mengakibatkan empat orang luka-luka, sementara empat orang lainnya dinyatakan hilang di bawah reruntuhan.
• Kuwait: Serangan udara menargetkan fasilitas vital, termasuk pembangkit listrik, kilang penyulingan air (desalinasi), dan instalasi minyak nasional.
• Bahrain: Sebuah fasilitas minyak dilaporkan menjadi sasaran serangan dalam rangkaian operasi militer di sepanjang wilayah Teluk.
Langkah Trump yang menargetkan infrastruktur sipil menandai pergeseran drastis dalam diplomasi energi global. Selat Hormuz merupakan jalur arteri paling krusial bagi distribusi minyak dunia. Penutupan atau gangguan di jalur ini dikhawatirkan akan memicu krisis energi global yang belum pernah terjadi sebelumnya kuitp Aljazeera.
Hingga berita ini diturunkan, komunitas internasional terus memantau pergerakan militer di kawasan Teluk guna mengantisipasi eskalasi yang lebih luas sebelum tenggat waktu Selasa berakhir.
Editor: Redaktur TVRINews





